Rabu, 17 Agustus 2016

Kemerdekaan Manusia Phobia Sosial


Kemerdekaan yang gue pahami paling sederhana adalah kebebasan. Kebebasan bisa diesensikan lagi bila seseorang terlepas dari segala tekanan, masalah dan urusan-urusan pelik lainnya. Pembahasan terkrusial kali ini mengenai “terbebasnya gue dari phobia sosial”. Phobia sosial sendiri dikenal dengan bahasa kerennya Sosial Anxiety Disorder yang mana bisa dikategorikan sebagai penyakit kecemasan yang ditandai dengan munculnya ketakutan pada situasi sosial, menyebabkan tekanan serta ketidakmampuan berfungsi secara normal dalam pergaulan sang penderita.

Phobia tersebutlah yang menggerogoti perkembangan mental sosial gue dari 2013 ke belakang. Banyak teori serta solusi yang bisa dibaca lima menit kelar, tapi percayalah prakteknya butuh bertahun-tahun. Cara satu-satunya yaitu banyak berinteraksi dengan berbagai orang.

Gue sedikit mengenang masa kanak-kanak yang menyebabkan phobia ini muncul.

Well, dari kecil gue adalah anak manja yang segala urusannya diselesaikan orang tua, yang segala kemauannya harus dituruti. Contoh sedikitnya, semisal gue nggak bisa kerjain pekerjaan rumah, kemudian orangtua gue bayar seseorang untuk menyelesaikan hal itu.
Lainnya, ketika semua nilai gue jelek, ibu akan memanipulasi omongannya kepada orang-orang sehingga gue dikenal baik, padahal waktu itu nilai ulangan gue semuanya enam bahkan ada yang lima (kalau ingat itu sekarang gue pengin ketawa, ibu itu luar biasa). Karena faktor-faktor itu, jam terbang berpikir mandiri maupun interaksi gue terhadap orang luar itu bener-bener payah. Gue tumbuh menjadi anak pemalu, takut tatap mata orang, nggak pernah bisa memutuskan perkara sendirian, takut salah, takut dibentak, pendiam, sering berpikir negatif dan gugupan.

Ya, itu phobia sosial, right?

Dan ketika nilai gue nggak sampai untuk masuk ke SMP negeri lagi-lagi orangtua gue memakai caranya agar gue bisa masuk ke sekolah yang bonafit. Tapi sayangnya, gue nggak cocok bergaul dengan anak-anak yang lebih cerdas, aktif, percaya diri. Terlebih lagi jam pelajaran yang gila-gilaan, kalau ada pelajaran tambahan bahkan bisa pulang mahgrib. Gue kesulitan beradaptasi dan homesick, nggak bisa keluar rumah terlalu lama terutama ditempat dan dengan orang-orang yang nggak nyaman. Sejak itu gue jarang masuk, udah nggak peduli sama belajar, belajar sekeras apapun tetep aja tertinggal, gue pun terlalu takut untuk bilang nggak nyaman dan pembullyan di sana. Bentuk ungkapan penolakan gue adalah dengan cara susah dibangunin tiap mau berangkat sekolah.

Akhirnya orangtua gue paham dan gue dimasukkan ke SMP swasta menengah kebawah, dan di sanalah gue merasa diterima, disayang, banyak tertawa, gue bahkan jadi bendahara OSIS. Di sana kita sama-sama, nggak pandang di dompet kamu ada uang berapa, ranking kamu berapa, phobia sosial gue sedikit demi sedikit tergerus. Sekolah nggak lagi jadi tempat menakutkan.

Dan gue perjelas, gue nggak benci belajar, gue hanya benci sistem di sekolah dan mengecam pembullyan yang membuat mental seorang anak melamban tumbuh dan melemah.

Dan pertanyaan, apakah sekarang gue benar-benar sudah terbebas dari phobia sosial?

Kalau ditanya kayak gitu jujur gue nggak bisa memastikan. Sampai sekarang praktek yang memakan waktu bertahun-tahun itu masih terus gue jalani. Selama ini saat berinteraksi dengan seseorang, gue udah nggak begitu gugupan lagi, gue bisa membahas apapun yang gue ketahui dengan panjang lebar, bisa bercanda tapi lebih sering garingnya, homesick terjadi tergantung keadaan, dan gue mulai gampang beradaptasi di beberapa tempat.

Dari phobia sosial ada kemungkinan gue sekarang loncat ke introvert, bahkan ambivert yang bisa swich ke ekstrovert. Gue selalu senang untuk memahami diri sendiri, berkomunikasi pada pikiran sendiri, akan menjauh dari hal yang nggak baik dan mengancam perkembangan mental terutama hati, dan mendekat pada sesuatu yang nyaman, menghargai hal-hal baik yang datang.

PS: Gue nggak menyalahkan cara didik orangtua, orangtua gue udah sangat teramat sabar menghadapi anak manja yang tiap hari bisanya merengek, banting-banting barang kalau nggak dapat apa yang dia mau. Dan gue nggak menyalahkan siapapun, bahkan nggak ada penyesalan. Gue malah bersyukur menjadi phobia sosial waktu itu, bukan jadi anak begajulan yang susah dibilangin. Terima kasih kepada doa-doa orangtua yang selalu menyertai.

Gue ingin menyampaikan pada diri gue yang dulu, “Bie, semua orang itu baik, nggak perlu takut, senyumin aja. Kamu sekarang punya senyum yang bikin orang lain ikut tersenyum juga. Orang-orang yang bikin kamu nggak nyaman, cuma jadi penyebab hidup kamu yang bisa kamu ambil hikmahnya dengan banyak dan bijak. Berterima kasihlah meski kamu disakiti, kalau nggak disakiti, kamu nggak akan belajar. Mentalmu nggak akan berteriak untuk minta tolong, ‘selamatkan saya, Bie’.”

Sabtu, 13 Agustus 2016

That Woman

Seorang wanita mencintaimu.

Dia mencintaimu setulus hatinya.

Layaknya bayanganmu, dia mengikutimu setiap hari.

Wanita itu tertawa, meskipun sebenarnya menangis.

Seberapa lama lagi, berapa lama lagi? Hanya bisa di dekatmu seperti ini.

Cinta ini begitu berarti, juga menyedihkan.

Bisakah wanita itu bertahan untuk terus mencintaimu?

Saat wanita itu mengambil satu langkah lebih dekat, kau mengambil dua langkah menjauh.    

Wanita itu pun hanya bisa menangis.

Wanita itu sekarang menjadi sangat penakut.

Bahkan dia harus belajar untuk bisa tertawa.

Dia pun tidak bisa menceritakan banyak hal kepada teman–temannya.

Hati wanita itu penuh dengan kesedihan.

Wanita itu berkata…

Dia mencintaimu, karena berpikir kalian sama.

Sama-sama bodoh. 

"Tidakkah kau ingin memelukku sekali saja sebelum kau pergi? Aku ingin menjadi kekasihmu," setiap hari jiwa dan hatinya meneriakan itu.

Dan wanita itu ada di sekitarmu saat ini.

Tahukah kau bahwa wanita itu adalah aku?

Jangan katakan kau mengetahuinya dan selama ini berpura-pura.

Tapi aku yakin kau tidak pernah tahu, karena kau bodoh.

Wanita itu pun hanya bisa menangis.

Lirik revisi: Baek Ji Young - That Woman

Jumat, 24 Juni 2016

Konten untuk Blog yang Bapuk

Oh, ya ampun …, lihatlah betapa bapuknya blog saya. Betah desain burung berterbangan dengan latar coklat selama tiga tahun. Bie, kamu ngapain aja selama ini? Siapa yang sudah menyakitimu hingga kamu amnesia ngurusin blog? *bertanya pada burung-burung berterbangan*.
Saya pikir semua perlu jadwal agar teratur, dan memastikan konten setiap harinya yang memungkinkan esensi dari blog saya tertata, nggak melulu soal kebaperan yang bikin teman saya mules, tentang curhatan yang membuat visitor saya berkata, ‘nih, cewek baperan mulu!’, apalagi curhatan kebaperan tentang mantan yang membuat mantan saya, yah ..., makin menjauh dari pandangan saya akibat minus yang kian bertambah *hening melanda*.
Konten disesuaikan dengan hari dan ditentukan secara acak:

1. Senin ---> Tips-tips tipis-tipis bareng Arbie Sheena

Apapun saya akan angkat di sini, mulai dari tips menulis, memasak, menjahit, menyetrika, mengepel, nyuci piring, dan nggak luput adalah mengendarai motor dan hatimu *disenyumin Lee Min Hoo*
Mengendarai hati? *mikir lembek*
Ada history mendalam ketika saya memakai judul di atas, pada tahun 2013 saya dipercayai memberikan materi atau tips menulis tiap seminggu sekali untuk para anggota sebuah komunitas penulis remaja pemula yaitu Gravil Esidra dengan menggunakan judul tersebut. Makna tips tipis sendiri berawal dari isi materi saya yang sedikit namun mengena *masa sih?* mengingat bahwa dulu saya memberikan materi genre komedi dari mulai slapstik, sarkastik, plastik, sampai ayam dan itik *abaikan* jadi judulnya dikomedikan juga.

2. Selasa ---> Keluarga betawi

Kalau zaman baheula ada keluarga cemara, mulai selasa nanti saya akan menghadirkan kisah ibu, ayah, keempat kakak kandung saya, serta keenam keponakan dan satu lagi sedang OTW *aamiin*
Bagaimana keseruan, keriwehan, kebahagiaan, dan banyak syukur karena hadir di kehidupan mereka sebagai anak bungsu yang sedang mencari jodohnya *azek*.

3. Rabu --->  Motivasiku, memotivasimu juga

Menapak tilas perjalan saya sampai beranjak kepala dua, pelajaran-pelajaran serta pemikiran-pemikiran apa saja yang telah saya dapatkan, terapkan, kemudian dibagikan dan selalu berharap bermanfaat.

4. Kamis ---> Kamu-kamu lagi, cinta-cinta lagi

Ini dia! Saya nggak akan pernah bisa hilangkan konten tentang cinta setelah menjadi begawan patah hati *laugh*
Sejujurnya kapasitas saya untuk berbicara tentang cinta benar-benar minim, namun karena banyak mengobrol dengan teman atas segala pengalaman mereka yang membuat saya merasa harus berbagi. Kebetulan juga saya sedang jatuh cinta dengan seseorang yang ‘mungkin’ sesuai kriteria doa-doa yang selama ini saya panjatkan. Tatapannya sudah sampai di hati saya, tapi entah dengan tatapan saya apa sudah sampai ke hatinya juga? Tergantung pakai JNE atau POS ngirimnya atau malah pakai Wahana.

5. Jumat ---> Cerita pendek

Nah, inti dari blog ini selain berbagi keseharian, menyalurkan passion saya juga. Saya nggak akan membatasi genre yang akan saya kisahkan nanti, tergantung hari itu maunya menulis apa dan ada kejadian apa. Stay tune, di jumat produktif.

6. Sabtu ---> Curuthat (Curut lagi Curhat)

Pada episode kali ini *chaelah* entah rahasia, kegalauan, kesenangan, keseruan, berbaur aib akan hadir menemani hari sabtumu *yeay! Selain teman yang telinganya sudah panas, saya butuh penampung yang lebih besar untuk mencurahkan segala kegelisahan-kegelisahan saya tentang manusia, sikap mereka, kebiasaan mereka, sampai bau-bau mereka. Gitu.

7. Minggu ---> Rekap perjalanan Arbie Sheena selama sepekan

Pesimis ada yang mau baca *ketawa keras*
Rangkuman perjalanan selama sepekan ketika saya ngampus, kena tilang, magang di daerah Depok, lagi jadi babu, lagi di kamar, di dapur atau di hatimu *baper lagi ente dah*. Semuanya akan saya bahas, yang lucu, sedih, kecewa, atau deg-deggan.
Segitu aja konten serta penjelasannya, ini juga memacut saya untuk disiplin menulis di tengah projek solo, ngampus, les dan magang nanti *keliatannya sibuk, padahal kagak!* semoga saya bisa memulainya minggu depan atau justru minggu ini malah lebih bagus lagi.
So, terima kasih banyak sudah berkunjung apalagi baca dengan tampilan blog yang apa adanya ini.
Sehat selalu, dan jaga diri kamu baik-baik di sana.
Arbie Sheena
Sign out

Rabu, 15 Juni 2016

Doa-doa Burukmu

Menyempatkan menulis di blog dulu sebelum menulis artikel lain, kali ini perihal doa.

Ketika kamu disakiti oleh seseorang kamu berhak mengadu pada Tuhanmu, namun seringnya yang keluar adalah doa-doa buruk untuk seseorang itu.

Jika semua doa buruk-buruk itu terkabul, kamu akan bahagia atau menyesal kemudian.

Penyesalan pertama karena doa itu dikabulkan, mungkin saja suatu hari akan berbalik padamu.

Penyesalan kedua, ketika doa negatif itu telah dikabulkan, kenapa waktu itu kamu tidak memilih berdoa positif untuk kehidupanmu?

Maka itu akan jauh jauh jauh lebih baik untukmu dibandingkan melihat orang yang menyakitimu sengsara.

Mulailah saat ini belajar sabar, ikhlas, bijak, berdoa dengan yakin dan intens, meminta perbaikan hati, kehidupan juga nikmat atas iman dll

Notes: berbagi pengalaman, ada beberapa hal yang membuat doamu cepat dikabulkan, pertama yakin kedua jangan egois. Yakin bahwa semua doamu akan dikabulkan. Dan maksud tidak egois, doakan orang-orang di sekitarmu juga.

Salam.

Selasa, 14 Juni 2016

Penipu Perasaan

Apa kamu tahu? Ribuan canda yang kamu berikan lampau, tak lagi membuatku tertawa pada hari ini. Bukankah tak mungkin sumber kebahagiaanku itu kamu?

Tidakkah kamu tahu? Kebiasaanku memikirkanmu, jadi kebiasaanku seterusnya, karena terlalu memanjakan pikiran masa laluku.

Apa kamu tahu? Betapa inginnya aku melihatmu sengsara setelah mendatangkan kesedihan yang bukan resolusiku pada tahun ini, namun sisa sayang selalu membatalkannya.

Tidakkah kamu paham? Banyaknya maaf yang kamu ucapkan, tapi tak satupun menancap untuk kuberi iba, karena sesungguhnya tak ada yang salah dari pertemuan kita.

Tidakkah kamu tahu? Terima kasihku semata hanya ingin membuatmu paham bahwa ada yang menghargaimu. Karena hingga kini, aku belum mampu menerima perginya langkah kakimu dari masa depanku.

Apa kamu merindukanku? Menangisiku? Melihatku? Sementara aku tidak melihatmu.

Apa kamu merasa aku manusia paling jahat ketika aku tertawa lepas pada orang lain?

Apa kamu mengingatku saat malam? Menginginkanku kembali? Bangun dari tidur jam dua malam berkeringat karena takut kehilanganku yang sudah terlanjur hilang.

Apa kamu memimpikanku tidak menghiraukanmu? Menjalin cinta bersama orang lain yang lebih baik dari segi apapun darimu, percayalah itu adalah seburuk-buruknya mimpi.

Apa sesekali kamu ingin menipiskan jarak? Berbincang tentang kehidupanmu yang terus berjalan, masalah-masalahmu yang tak henti ada, untuk bahan obrolan dan evaluasi diri, kemudian berteman baik bukan lagi tabu seperti yang kita canangkan dahulu.

Apa karena tanpamu aku tampak baik-baik saja, dan gemetar dari sikap kecanggungan dan prasangka-prasangka bahwa aku membencimu, kamu jadi tidak punya keberanian untuk mendekatiku?

Tapi sayang  …, kita adalah sepasang penipu perasaan paling ulung sedunia.

Senin, 13 Juni 2016

Kamu tidak Sakit Hati Sendirian

Hanya dalam sehari.

Saya menyaksikan sendiri hari ini tepatnya senin di tengah mata kuliah Projek Manajemen. Teman saya menangisi mantannya yang terlalu intens dengan seorang wanita, setelah mendengar kabar bahwa mereka putus karena adanya perselingkuhan dari pihak pria. Dia sesegukan dengan suara yang ditahan padahal beberapa menit lagi ia akan melakukan presentasi di muka kelas. Sakit hatinya masih baru dari kedalaman cintanya yang harus ditarik paksa.

Sementara tiga puluh menit menuju tengah malam, seorang teman bercerita lewat aplikasi chat tentang kekecewannya pada kekasihnya, saya paham deritanya, sesaknya, tangisnya meski hanya diselipkan emoticon, saya menenangkannya sebentar, dan berdoa semoga esok nasihat saya membuatnya mengubah pemikirannya.

Dan selalu ditiap mata pelajaran kuliah, saya harus menyantap mantan saya bercanda mesra dengan teman wanita lainnya, yang lebih cantik dan mampu berkomunikasi dengan baik apapun candaan yang ia buat, yang menyentuh tangannya yang dulu sering tak sengaja tersentuh oleh saya, yang tatapannya dulu tak pernah luput dari tatapan rasa sukanya kepada saya, yang lawakan-lawakannya membuat saya melupakan bila suatu hari tak lagi bisa tertawa bersamanya.

Menyaksikan, mendengar, merasakan beberapa kisah ini dalam sehari, apakah kamu masih menganggap bila yang berduka hari itu hanya kamu?

Kamu tidak sakit hati sendirian.

Jangan bersedih!

Notes: Bagi kamu yang sedang bersedih atau membutuhkan teman curhat, bisa kirimkan cerita kamu ke email saya penulissheena@gmail.com mudah-mudahan saya bisa menjadi teman sekaligus pendengar yang baik untuk kalian.

Selasa, 17 Mei 2016

Landasan Bahagiamu


Sebagai penulis novel ketika terluka mental atau batin, cara saya mengungkapkan kesedihan yaitu lewat menulis komedi. Ketika kesedihan saya menghasilkan karya, dibaca dan diapresiasi ketika itu saya sembuh. Karena saat saya berbagi kebahagiaan lewat tulisan, saya percaya akan ada seseorang lain di sana yang mempunyai tujuan serupa untuk membahagiakan saya.

Kebahagiaan itu harus ditarik sesudah kekecewaan mendalam. Ketika kamu mampu paham bahwa kekecewaan nggak membuatmu berkembang, aktivitas seratus persenmu teralihkan, menggerogoti dirimu yang ceria, kamu mencari cara untuk kembali pada kebahagiaan, karena kecewa itu nggak ada yang abadi.

Berbincang tentang kebahagiaan dan kesedihan, saya pernah bertanya pada seorang teman cara supaya kita bisa menjadi sumber kebahagiaan dan kesedihan bagi diri sendiri, bukan melulu orang lain.
Yang saya maksudkan, ketika kamu berkumpul dengan sahabat, sahabatmu itu humoris parah, kemudian ketika kalian pulang, tawa itu nggak bertahan karena sumber kebahagiaannya sudah pergi. Kamu jadi kesepian, kesedihan datang. Dan kembali, orang itu lagi-lagi menjadi sumber kesedihan kamu.

Teman saya sempat kebingungan, tapi bagusnya dia jawab dengan baik dan religius.

Dia menyampaikan, bahwa sumber segala kebahagiaan dan kesedihan berawal dari hati dan sang pembolak-balik hati hanya Allah SWT. Jadi dekatilah Allah, minta pada-NYA agar mengganti kesedihan dengan cahaya Al-Quran, itu konsepnya. Kalau ikhtiarnya, buat diri sendiri sibuk dengan hal yang berguna, disaat sedih terima dengan ikhlas, lama kelamaan hati akan bertambah kuat dan kesedihan yang ada kini nggak akan bisa menyakitimu lagi.

Jadi sumber kebahagiaan dan kesedihan kamu bukan lagi bergantung pada makhluk tapi pada Sang Pencipta. That’s the key.

Di novel karangan saya Happiness Theory, saya pernah menuliskan bahwa bahagia itu dari pikiran. (Jawaban lain yang saya benarkan namun seringnya lupa diaplikasikan ke kehidupan, bahwa bahagia itu bersyukur apapun yang didapat dan terjadi).

Mengenai bahwa pikiran mempengaruhi sebagian besar aktivitas kebahagiaanmu, ada studi yang dilakukan Arbie Sheena berdasarkan pengamatan dari Universitas Kehidupan. Kesia-siaan itu ada dua hal: Bicara dan pikiran yang sia-sia.

*Bicara yang sia-sia, seperti kamu bergosip tentang keburukan seseorang padahal belum kenal secuilpun.

*Pikiran yang sia-sia, memikirkan sesuatu yang membuatmu nggak antusias, menghambat kinerjamu, kegalauan, kepesimisan, hal-hal belum kejadian tapi sudah kamu prediksi duluan berdasarkan ilmu pengetahuanmu tentang realitas yang minim.

Dan pikiran-pikiran itu membuat kebahagiaanmu tertunda.
Sementara dari seorang dosen yang ia kutip dari sebuah buku, orang nggak bahagia karena fisik dan otak nggak menyatu. Fisiknya tinggal disebuah tempat tapi pikirannya ke mana-mana. Saya sering melihat orang-orang yang nggak ‘menyatu’ tersebut, contoh terdekatnya emak saya.

Tiap kali saya menyetel televisi, emak yang lagi rehat masak pasti muncul, ambil remot terus ganti channel gosip-gosip, kemudian saya tinggal ke kamar. Ketika saya dengar acara itu berganti iklan, saya kembali lagi ke depan tv, dan melihat emak termenung di sana.

Dan ketika saya tegur, “Emak ngelamun?” dengan nyolot emak membalas, “enak aja, orang lagi nonton tipi.”

“Lah, tapi itu iklan, Mak, ngapain ditonton?”

Kemudian emak spontan ambil remot, mengganti channel gosip-gosip lain. Apa saya harus berspekulasi emak sukanya nonton iklan?

Bukan, saya rasa karena emak sedang melamunkan sesuatu hingga gagal fokus pada sesuatu yang di depannya.

Saya juga sering datang ke acara seminar, kajian atau ceramah. Penonton yang menyimak mungkin cuma lima persen, sisanya menyimak semenit, kemudian pikirannya ngambang, nyimak dikit terusnya pikirannya lari-larian lagi.

Ketika seorang teman saya ajak diskusi, dia bilang, “emang barusan bahas apa, sih?” Lah …, dalang-dalang …. (beda cerita kalau pengisi seminar tersebut bisa angkat suasana).

Ingat! Kesulitan fokus sering mengganggu karena kamu terlalu memanjakan lamunan.
Pikiran yang sia-sia.

Biarkan saya bernostalgia dengan pertanyaan, jadi …, apa teori kebahagiaanmu?

*Pembacaku, di artikel selanjutnya saya akan berbagi dongeng tentang Desa Tawa dan Desa Duka.