Rabu, 01 Februari 2017

Gue dan kacamata (memilih pakai logika baru hati)



Gue cari kacamata minus yang murah udah sekitar dua bulanan, gue nggak beli di optik melawai atau keluarga atau seis, yang seperti kalian tahu kacamata di sana mehong-mehong, terlebih dengan minus gue yang udah tinggi dan juga lensa trantition. Iya, gue cari kacamata dengan lensa trantition. Lensa trantition itu yang bisa gelap otomatis kalau kena sinar UV atau matahari, gan. Jadi penglihatan gue terjaga dari sinar UV, kecuali dari yang bukan mahram, gan #iniapacoba?
Karena tertarik dengan lensa itu, gue langsung riset harga ke optik keluarga untuk minus se-gue, SPG-nya langsung baca buku panduan harga dan nominal harga yang tercantum di buku tersebut ternyata sejutaan, itu cuma buat lensanya aja belum framenya. Taksiran gue, bisa jadi totalnya sampe sejuta limaratusan.
Nah, karena gue nggak ada budget segitu, pada akhirnya gue mundur dan cari di optik cina deket kampus. Di sana framenya ada yang 200-500, dan lensa trantition versi standarnya cuma 300 ribu. Kemudian gue minta ditunjukin sample lensanya, untuk harga semurah itu gue dapat lensa yang kalau kena sinar UV jadi abu-abu, beda sama yang sejutaan bisa gelap gulita sepi sendirian baperan #hadeuh
Akhirnya gue deal untuk ambil lensa itu kemudian mulai pilah-pilih framenya. Dapetlah frame atasnya hitam, bawahnya emas seharga 250. Sebenernya harga lensa 300k, frame 250k kalau ditotalin 550k tapi dia diskon jadi gope aja.





Jujur, gue sama kacamata baru ini nggak ada cocok-cocoknya, sewaktu cocokin di optiknya gue sreg dengan model frame kayak gitu, tapi pas gue coba di rumah, lah kok berbeza. Apa yang salah? Setelah gue analisa, yang salah adalah perasaan gue yang belum netral untuk memulai suatu hubungan baru #gagalfokus.
Yang salah pemilihan bentuk framenya, nggak cocok di muka gue yang agak diamond dan oval. Ya, itu masih bisa gue terima, udah terlanjur dibeli juga. Lagian bisa dicocokkan tergantung gaya hijab gue. Tapi ada satu problem yang bikin gue uring-uringan sampe sekarang, yaitu Emak gue ngatain gue kayak Pak Hutomo atau si Ray di sinetron Anugerah Cinta pas make kacamata ini.
Dan pas gue tanya, “mak, kacamata ane bagus, kan? Bie, cantikan ya mak pakai kacamata ini?”
Emak sambil buang muka bales, “idih, udah kayak si Ray lu begitu.”
Gue kehabisan kata-kata, pikiran gue berhenti sejenak, darah gue terangkat sampai ke kepala dengan cepat, mencoba untuk memahami sebelum tersinggung dan sampai detik ini pun belum mampu memaknainya. Maka dari itu,  gue hempaskan segala ketidakcocokkan tentang ‘salah beli’ kacamata ini di pikiran gue. Gue mati-matian berusaha menenangkan diri serta menghibur diri, juga mengancam orang-orang yang menghina ketidakcocokkan antara gue dan kacamata baru gue ini. Meski gue sadar betul bawah hal itu jadinya akan membuat gue menipu diri sendiri demi kata terlanjur ‘salah memilih’.
Gue memetaforakan tentang kacamata ini ke sebuah hubungan, terkadang ketika gue suka sama seseorang atau sebaliknya. Meski kata orang gue dan dia nggak cocok, nggak direstui, tapi kalau gue suka, semua komentar itu gue hempas, gue akan jalananin itu hingga gue dan dirinya merasa nyaman. Dan hubungan itu berjalan dengan bahagia serta egois karena gue tidak mendengarkan penilaian orang yang bisa melihat lebih terbuka dibanding gue, karena pada saat cinta tumbuh, para pecinta itu selalu membutakan diri atau justru dibutakan. Setelah gue mengenal lebih dalam si pasangan, dan menemukan titik ‘salah memilih’, pada akhirnya itu akan menyakiti gue, karena terlalu seringnya mengabaikan penilaian dan menipu perasaan bahwa dia akan menjadi pendamping yang melengkapi gue suatu hari.
Kini untungnya gue menjadikan semuanya pelajaran, gue nggak akan lagi gegabah pilih cinta yang nggak semestinya singgah di kehidupan gue kalau gue nggak sreg sreg amat. Dalam memilih apapun pakai logika dahulu barulah pakai hati.

Tips: Ini dari temen, kalian bisa beli frame di pasar malem atau ditempat emperan gitu harganya murah banget dari 20-50k aja, kemudian minta ganti lensa di optik biasa, paling seharga 100k aja. Kalian bisa dapet kacamata murah dan kece deh, dengan biaya dibawah 150k.


Nikmatnya ber-KKP (Kuliah Kerja Pranikah)

Awalnya gue magang di sebuah cabang pelayanan pemerintahan di daerah Depok dari awal sampai akhir Juli. Kehadiran gue di sana disambut baik dengan komputer yang kecepatan wifinya mampu mengunduh berbagai macam film rating tinggi imdb sampai korea-koreaan, pejabat-pejabat yang murah senyum dan rajin menyapa, meski jam masuk khusus anak magang jam delapan, gue bisa dengan seenak udelnya masuk lewat dari itu dan nggak diomelin.
Sebagai anak magang kayaknya gue lebih sering dikerjain daripada kerja, deh. Contohnya,
1.      Dihari pertama disuruh garis-garisin jurnal keluar masuk seharian.
2.      Fotokopi berlembar-lembar.
3.      Ngetik laporan di excel.
4.      Ngasihin ratusan selebaran ke wajib pajak.
5.      Ngebolongin kertas yang nggak ada faedahnya sama sekali.
6.      Ngecapin surat ratusan lembar sampai tangan kanan gue kalau dipake mandi susah sabunannya.
7.      Panggil bapak ini ke ruangan ini.
8.      Bawain tas ibu ini ke mobilnya.
9.      Mintain tanda tangan absen manual ke pejabat-pejabat sampe bolak-balik ruang tata usaha.
10.  Digodain brimob yang tau-taunya udah punya istri padahal gue udah baper.
11.  Diajak curhat tentang cinta sama pejabat nakal yang punya cabe-cabean, dan mengira gue bisa dijadiin cabe-cabean cadangan, udah cabe-cabean, cadangan pula lagi. Miris, gan.
Selagi garis-garisin jurnal, gue bilang sama temen gue, “gue kuliah ngambil jurusan manajemen informatika, mahal-mahal, belajarnya tentang program, bikin database, tapi pas magang kerjanya nggak pake otak semua.”
Karena temen gue ini berhati lembut maka dia bilang gini, “ah, kamu jangan gitu ngomongnya. Bersyukur dikasih kerjaan.”
Padahal gue cuma bercanda, gan. Padahal gue berharap dia bilang, “emang lo punya otak, Bie?”
Terusnya gue bales, “ya punyalah, kalau nggak punya kenapa gue selalu kepikiran dia?”
Eaaaaa ….
Tapi di sana gue mengenal banyak banget orang yang baik dan seru-seru, kayak Mas Pais, Adul, Indah sama Rita. Tiga minggu rasanya kurang banget, padahal gue udah betah.
Karena kegigihan gue sebagai anak magang, akhirnya gue dikasih grade A. Yeee ….

Foto form nilai

Selepas magang plus riset dengan pejabat bagian pengadministrasian barang pas liburan kuliah, kemudian masuklah masa perkuliahan dari bulan september sampai desember, seharusnya laporan KKP udah gue cicil pas lagi magang atau pas mulai masuk perkuliahan. Dikarenakan waktu itu drama korea lagi nggak bisa ditinggalin, dan rasa males melanda, KKP akhirnya terbengkalai dan mulai mau gue kerjain pas tiga minggu mendekati deadline sebelum liburan natal, yaitu awal desember. Keren kan gue?
Berbekal contoh salinan KKP dari temen yang sama-sama magang di sana cuma judulnya berbeda, akhirnya gue mulai mencicil BAB I dan II, dan BAB III mulai dikerjain pas minggu kedua deadline, itupun gue harus bolak balik ngambil dokumen ke kantor dan ngeriset prosedur ke bagian pengadministrasian barang lagi. Pokoknya hectic banget waktu itu sampai gue pulang malem terus demi ngejar bimbingan.
Setelah dirasa mental siap (laporannya jugalah), empat hari menuju deadline gue mulai mengajukan DAD (Diagram Arus Data) duluan karena kalau itu udah di acc, BAB selanjutnya aman, bisa diatasi, paling BAB I dan II cuma kesalahan tipo aja, beda dengan DAD yang kalau salah harus digambar ulang.
Beginilah contoh bentuk DAD nol, setelah direvisi tiga kali hingga kata acc itu bukan sekadar mimpi.

Contoh diagram nol

Bimbingan pertama, gue membawa hasil gambaran DAD gue dari ms. Visio. DAD gue dicoret semua karena narasi prosedurnya absurd. Meski begitu gue tetep keukeuh mempertahankan hal yang gue gambar sampai dosennya nantangin, kemudian pada akhirnya gue mengalah sambil terdiam sejenak saking syoknya. Kemudian gue pergi dari kantor dosen ke perpustakaan buat tenangin diri, gue rasanya mau nangis, malah bentar lagi dekat deadline, gue juga trauma liat muka dosennya, sampai-sampai gue yang hari itu kepengen minum jus sampe nggak jadi beli karena tukang jusnya mirip dosen pebimbing gue (ini dilebaykan ceritanya).
Gue kebetulan di perpus duduk bersebelahan sama cowok kpopers bernama Casidi yang lagi malsuin dokumen karena nggak punya cukup data buat bikin laporan. Dia juga lagi puyeng karena tempat risetnya nggak menyediakan kebutuhan dokumen yang dia mau. Gue masih beruntung karena waktu itu yang depresi KKP bukan gue doang, jadi setidaknya gue berasa ada temennya. Bukan gue doang yang kritis deadline, sebenernya 96% mahasiswa 12.5A.02 belum pada di ACC, mereka emang demen banget kejar deadline, karena kalau begitu baru bisa disebut mahasiswa.
Kemudian gue bilang gini ke dia, “di, gimana kalau kita berkoalisi?”
KKP itu sebenernya maximal tiga orang, dan gue sendirian sementara dia berdua sama Alif. Jadi kalau kita berkoalisi, pas bertiga. Entah apa yang merasuki gue sehingga ngajak dia koalisi. Mungkin karena sifat gampang iba gue ini yang patut dipuji hahaha
Dia setuju kemudian siang itu juga kita pun ke kantor magang gue buat minta surat riset + form nilai untuk dua orang tambahan lagi. Gue paham kalau di sana harus magang dulu minimal sebulan buat dapat surat risetnya, tapi hal itu nggak mungkin banget karena deadline tinggal empat hari lagi. Dan leganya bapak pejabat di bagian pengadministrasian barang itu baik banget, cuma minta dibeliin gorengan sepuluh ribu, tanda tangan sama cap basah dia kasih.
Kemudian besoknya gue mulai ngebut kerjain, dan pria-pria belum mandi itu gue suruh kerja rodi dan pendanaan kayak ngeprint dan bimbingan pagi-pagi, supaya bisa ngejar bimbingan dua kali sehari. Hari itu masih revisi sampai hari terakhir deadline gue udah ketar-ketir dan leganya bisa di ACC kemudian kita langsung foto-foto saking bangganya, dan liburan natal sampai tahun baru bisa tenang.

Foto kkp acc

Dan berhubung banyak yang belum di acc, maka dari itu dosen memperpanjang masa deadline sampai tanggal pengupload-an KKP yaitu tanggal 16. Tapi gue nggak nyesek kok, makin cepat selesai main bagus, kan? hehe.


Note: Pranikahnya mana, Bie? Oh, coming soon yah. Ohok ohok


Selasa, 03 Januari 2017

Yang nikah duluan, berarti yang kalah!


Untuk mengawali tulisan ini, biar gue beberkan dahulu alasan gue memasang judul di atas. Kalimat yang gue gunakan sebagi konten kali ini dikatakan oleh seorang teman yang punya pengalaman ditinggal nikah mantannya yang masih amat dia cintai. Di dalam sebaris kalimat di atas, gue merasa telah menemukan sudut pandang baru dari seorang yang hatinya rapuh kemudian dikuatkan dari hasil pengalaman perasaan sakit yang dia dapatkan.
Di setiap obrolan, gue memang rajin membahas apapun yang gue kuasai terutama tentang ‘kegagalan asmara’. Seolah ketika orang-orang melihat muka gue, orang langsung pikir, “oh, ini orang cocok buat tampung cerita asmara gue, kayaknya gue harus curhat sama dia, deh.”
Mungkin muka gue adalah simbol kegagalan asmara yang paling merana.


You’re my T.T
You’re my T.T
(Twice – T T)


Hasil gambar untuk twice TT

Jadilah dari mereka-mereka ini gue banyak belajar soal sudut pandang asmara, meski kadang nggak bisa kasih solusi apapun karena sekali lagi gue sebutkan, gue bukanlah begawan patah hati! Gue hanya sekadar penampung yang cuma bisa kasih kalian pelampung kemudian kalianlah yang berenang demi keselamatan hidup hingga kedaratan. Begitu metaforanya hehe
Ok, kembali ke judul di atas, setelah seorang teman berkata, “yang nikah duluan, berarti yang kalah.”
Membuat gue jadi berpikir keras, “kok, bisa mantannya kalah? Maksudnya apa? Kebanyakan nonton bola nih orang!” Setelah gue telaah sambil nonton The Legend of the Blue Sea dan melihat ketampanan Lee Dong Wook di Goblin gue menemukan jawabannya.
“Ya, tentu si mantan kalah, dia jelas menikah karena memilih mundur dari rasa sakit.”
Otomatis si teman saya ini jadi ‘berhenti berharap’ karena cintanya otomatis terputus sejak detik mantannya dihalalkan.
Memang ketika seseorang sedih, terkadang ada saja kata mutiara baru yang keluar demi menenangkan hati dan memercayainya bila itu sebuah kebenaran, alih-alih mengucapkan, “gue gagal move on, bro!”

Note:
Bagi kalian yang merasa pengalaman di atas mirip-mirip dengan kisah asmara kalian dan kini masih berjuang mencari cinta yang sesungguhnya. Gue ucapkan, “selamat! Kalian adalah pemenangnya!”, karena kalian kuat untuk merasakan perih yang luar biasa lebih lama.

Minggu, 06 November 2016

Mars Partai Perindo, enyahlah dari benakku!





Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Segitu aja lirik mars sebuah partai tereksis yang bisa gue kasih.

Ok, cukup, cukup! Sekarang marsnya jadi terngiang-ngiang, kan!

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Stop! Stop! Stop!

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Tidakkkkkk!!!!

***

Sebelumnya, gue membahas tentang sebuah sinetron yang kepemilikan hak tayangnya jatuh kepada stasiun televisi si pionir partai tersebut. Setiap segmen sinetron usai, iklan akan mengambil alih waktumu untuk pergi sejenak dari televisi untuk buang air, nyemal-nyemil, main game android, atau stalking gebetan yang ternyata sedang ta’aruf dengan wanita lain (salam hidup penuh curhat colongan!). Kita disuguhkan berbagai iklan, dari iklan shampo, sabun cuci, balsem, sim card, dan yang paling krusial adalah iklan sebuah partai. 

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Bang stop! Stop! Stop! Kiri, kiri, kiri!

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Bhaayyy!!

Untuk pada akhirnya terjadi tulisan ini, gue udah terlalu banyak mendengar, membaca merasakan energi komplain perihal iklan yang tayangnya seenak bapake. Kenyamanan gue dalam menonton dan mendengarpun dianiaya dengan keadaan terpaksa menerima.
Di samping para kontra, pasti ada pro yang jumlahnya satu berbanding seribu rakyat Indonesia yang geram. Salah satu yang pro yaitu keponakan gue berumur sembilan belas bulan. Tiap kali dia lagi bercanda sama engkongnya, lagi makan, ngacak-ngacakin barang, atau lagi nangis kemudian iklan itu tayang, semua aktivitasnya tiba-tiba berhenti dan pandangannya langsung beralih ke televisi sembari menyenandungkannya (karena keponakan gue belum fasih bicara).
Di saat anak kecil mainstream lebih seneng lagu balonku, cicak-cicak  di dinding, kingkong yang baik hati, keponakan gue udah khatam mars Partai Perindo (bangga!). Gue juga nggak akan terlalu memusingkannya karena ketika dia sudah kenal boyband atau girlband seleranya pasti akan berubah, tapi gue sebagai tante akan terus memantaunya sampai dia memahami bahwa nggak ada yang boleh mewarnainya, kecuali orang-orang tertentu, kemudian dia akan mewarnai orang-orang dengan warnanya sendiri.


Note: mungkin endingnya nggak nyambung, sok berhikmah banget. Eensinya yang mau gue hadirkan, ketika kalian menyukai sesuatu pasti hal yang kalian suka itu akan mewarnai kehidupan kalian, entah itu baik atau buruk dan kemudian kalian akan menjadi buta atas keterpengaruhan hal tersebut. Dan ketika orang-orang ‘tertentu’ menjadi pengecualian, maksud dari orang tertentu adalah, orang yang bisa dipercayai untuk mewarnainya lebih baik, kemudian dia akan membawa pengaruh yang baik untuk orang lain.

Sinetron Anugerah Cinta






Naura dan Oki, duo bersaudara miskin, soleh dan solehah, tabah, tapi mukanya kebule-bulean, dan alisnya disulam ini sama-sama merantau ke Jakarta demi mencari orangtua kandungnya. Selama berada di ibu kota yang kejam, Naura mendapat pekerjaan di kediaman Pak Hutomo sebagai pembantu, APA? IYA! PEMBANTU!
Karena alis Naura, eh, maksud saya karena kecantikan, kesucian, kelembutan, ke maha sabarannya, anak lelaki pak Hutomo bernama Arkha pun jatuh cinta padanya, vice versa pada Naura. Akan tetapi, jatuh cinta di tengah latar belakang yang berbeda menimbulkan konflik yang mana selama dua jam sinetron ini berjalan, selalu ada makian, derita, tangisan, doa-doa yang nggak kunjung di ACC, penganiayaan serta kutukan sinis dari Ibu Arkha, adik Arkha (Tiara), calon istri Arkha yang bohai dan kaya raya tapi galak (Kinta) serta ayah dan ibu Kinta.
Setidaknya Naura bisa bernapas lega karena cinta Arkha tidak mudah goyah selama puluhan episode, serta dukungan dari ayah Arkha yang arif, bijaksana dan senang melotot bila terkejut.

***

Bagaimana setelah membaca sinopsis di atas? Membuat hati kalian tergugah dan rasanya ingin membalas perbuatan kejam keluarga Arkha serta Kinta? Jangan begitu ah, jangan kayak emak-emak gang Lebak Sari yang buta arah gitu.
Kegandrungan di rumah tentang sinetron Anugerah Cinta lagi memuncak bukan main, gue yang tinggal berdua dengan ayah dan emak sebagai anak bungsu yang ditinggal kakak-kakaknya menikah, menjadikan televisi sebagai penghibur ketika kesepian, teman tontonan tiap kali makan atau tempat enak buat ngelamunin seseorang (eh?).
Emak adalah pembawa virus terbesar Anugerah Cinta eksis di rumah, awalnya emak bukanlah pecinta sinetron kayak emak-emak rempong di sekitaran gang Lebak Sari, gue sempet bangga-banggain emak ke semua orang kenalan gue, kalau emak nggak pernah nonton sinetron, tontonannya kalau nggak gosip, ya …, sidang Jessica, pokoknya bukan sinetron! Tapi terkejutnya gue ketika emak yang sekarang punya televisi sendiri di kamarnya, mulai ketagihan sinetron dan ditonton penuh dari awal sampai habis, bahkan OST Anugerah Cinta yang dinyanyikan Indah Dewi Pertiwi emak sampai hapal, gan.
Jam tayang Anugerah Cinta yang panjang dari jam 21.00 sampai 23.00 membuat ayah terganggu, sering banget gue denger ayah yang mau tidur ngomelin emak supaya matiin TV, tapi emak tetep keukeuh nonton sampai habis. Gue cuma bisa ketawa sambil geleng-geleng karena ngeliat mantan yang selalu kabur tiap kali liat gue #eh?
Kemudian selang beberapa hari, ayah, emak dan gue kumpul di ruang keluarga, ayah di meja makan, emak lagi berbaring beralaskan karpet, dan gue iseng puterin channel televisi nyari acara yang rame. Skakmatlah sewaktu beralih ke channel RCTI yang lagi tayang sinetron Anugerah Cinta, emak langsung bilang, “udah itu aja Bie, rame.”
Gue menghela napas, ngalah. Nggak perlu ditentang, gimana kalau gue dikutuk kehidupannya kayak Naura nanti, gan? Gue ambil hape mainin Cooking Fever yang levelnya udah sampai 65 *bangga*, sambil tengok-tengok cerita Anugerah Cinta, gan #eeaaa
Fokus cerita, Naura berdoa sambil nangis-nangis karena penderitaannya nggak kunjung lenyap, ibu peri juga nggak dateng-dateng, cucian numpuk, dateng lagi cewek tomboy bernama Alea yang naksir Arkha juga datang ke Laundry tempat Naura kerja, injek-injek baju yang udah mati-matian Naura cuci. Naura pun menangis sambil beristighfar.
Hikmahnya? Sabar. Orang sabar, episodenya lebar.
Baru pertama kali gue nonton sinetron sampe bikin otak gue pegel, bukan karena betapa sulitnya ceritanya dicerna melainkan betapa lelahnya gue sama kehidupan Naura. Karena kepenatan tersebut, maka gue pun berdiri hendak meninggalkan ruang keluarga, tapi tiba-tiba ayah memprovokasi, “nih sinetron rame juga ya.”
WUAAATTTTT!!!!
Dan begitulah akhirnya pecinta sinetron lainnya terbentuk.
Kini ayah yang menjadi pemanteng setia sinetron Anugerah Cinta kedua dalam sejarah kehidupan berumah tangga. Kini ayah yang menjadi pengusir disaat gue pengin nonton bioskop trans tv. Kini ayah menjadi pendukung bagi emak. Kini segalanya telah berubah.
Pertanyaan, “kapan Anugerah Cinta tamat?” bukan semata-mata karena gue nunggu-nungguin akhir kisah Naura, melainkan menantikan kebebasan dalam menonton itu ADA!

Kritik soal pesinetronan Indonesia tercinta:
Setelah gue baligh, sinetron nggak ada pegelnya menayangkan cerita mubazir dari tangan-tangan sineas yang memerlukan produksi minim dan keuntungan lebih. Biar adil gue nggak akan membandingkan sinetron di sini sama di luar, coba dulu tengok acara televisi tahun 90-an yang lebih variatif dan kreatif. Sinetronnya nggak kepanjangan, konten acara musiknya jelas, game shownya seru, segalanya dibuat dengan baik sekaligus komersil.
Seharusnya di zaman para youtubers keluar (yang konon katanya sebagai pemecah masalah dari kepenatan media televisi), sineas pertelevisian nggak pandang rendah daya tangkap masyarakat indonesia dengan menyajikan acara-acara dengan konten berat. Atau seenggaknya belajar dari negeri gingseng, yang dramanya makin lama meningkatkan tema dari ringan, agak berat, ke berat sekali, dan seluruh stasiun televisinya solid agar mutunya bertambah baik. Karena itu ada Korean Wave.
Dan kemudian channel sebelah kebetulan menayangkan telenovela jadul kayak Esmeralda, Marimar, Cinta Paulina. Gue nggak fokus sama nostalgianya, tapi betapa pedihnya gue menyadari bahwa telenovela yang diajukan channel sebelah itu mirip persinetronan Indonesia zaman sekarang. Iya, miris sekali menyadari bahwa sinetron benar-benar mengalami kemunduran masa.
Terlepas dari itu, gue percaya suatu hari pertelevisian indonesia akan membaik kembali.

Regards, Arbie Sheena
3 November 2016

Minggu, 30 Oktober 2016

Tips Menyembuhkan Racun Cinta Mantanmu

 Ciyeeee …, tentang mantan lagi *biar mantan bahagia dong*


Banyak banget tersebar artikel cara melupakan mantan di google, dari mulai bakar atau jual barang-barang pemberiannya, anti pergi ke tempat-tempat yang pernah kalian kunjungi, hapus semua fotonya, blokir semua sosial medianya, cari pengganti yang sebelas dua belas kayak Song Jongki, semuanyaaaa …, tentang melupakan. Sayangnya, saya rasa mayoritas cara itu nggak berguna seperti rasa kangen kalian sekarang yang nggak ada lagi penampungnya. Cara itu akan berefek pada keenggakdewasaan kalian dalam menanggapi kekecewaaan. Kemudian melupakan seolah-olah jadi beriringan dengan permusuhan.

Sebuah pertanyaan akan muncul kepada para move on-ers, kenapa sih kalian bertekad ngelupain mantan? Apakah ketawanya, nada suaranya, tatapannya, serta keberadaannya sudah mengganggu fokus kalian? Coba diserapi lagi, mungkin bukan mau melupakan, melainkan keinginan menghilangkan rasa sayang, cinta, kangen yang terlanjur melekat, terlebih kegugupan ketika kalian berpapasan, belum lagi episode kabur-kaburan ketika nggak sengaja ketemu dan kini semua itu terkontaminasi rasa benci karena sesuatu kesalahan di masa lalu. Patut kamu sadari, penyembuhan itu nggak instan, penyembuhan itu tergantung kamu, bukan waktu.

Lantas apakah ada penawar yang benar-benar akurat supaya perasaan kalian stabil kembali?
Ketika belum paham caranya, saya menggunakan beberapa tips dibawah ini dan cukup mampu sekadar mengalihkan perhatian saya dari sang mantan:

Pertama, nonton film horor!
(Warning: Ini nggak berlaku bagi mantan kalian yang wajahnya lebih horor dari dedemit di film-film)
Yang biasanya mandi sengaja dilama-lamain karena mau ngelamunin mantan, jadi buru-buru siram-siram badan karena takut diparanin dedemit. Yang lagi tidur-tiduran mau kenang mantan jadi buru-buru bangun takut gulingnya berubah jadi pocong. Yang mau galau sendirian di taman gelap-gelap gara-gara mau mikirin mantan, buru-buru baca yasin karena takut ada dedemit muncul. Simplenya, pikiran kalian akan teralihkan “sementara” dari mantan ke dedemit *applause*.

Kedua, nonton drama korea!

Masih seputar menonton, drama korea yang paling saya rekomendasikan untuk mengalihkan pikiran kalian. Setelah nonton Jongki, Won Bin, Jongsuk, kalian masih bisa keingetan mantan juga? Terlalai! Eh, terlalu!

Ketiga, pindah kota!
Ini salah satu cara kalau kalian sudah benar-benar menyerah akan bau-bau kerinduan kalian pada sang mantan. Nggak perlu takut dibilang pengecut, gagal fokus, kalah dengan perasaan. Jika pindah kota mampu membuat penyembuhan dirimu lebih cepat dan maksimal, maka lakukan saja.
Tapi bagaimana kalau kamu nggak punya kota? Ya, pindah ke kota tua, dengan begitu kenanganmu akan menjadi tua juga *fans menjawab: eaaaa*.

Keempat, pindah kuliah malam!
Terinspirasi dari seorang teman wanita yang diam-diam menyukai teman sekelasnya yang gampang banget ngumbar perasaan, ketika si wanita ini sudah baper, si pria malah jadian sama wanita lain. Karena terlalu sakit hatinya, akhirnya si wanita pinda kelas malam agar fokusnya pada belajar nggak terganggu.
Seperti halnya pindah kota, kalau menyingkir dari penyakit hati membuatmu lebih baik, maka kerjakan saja.

Kelima, jadikan karya!









Jika kamu penulis, jika kamu adalah orang yang selalu peka pada peluang, jika kamu merasa pengalamanmu nggak boleh disia-siakan, maka tuliskan!  Kirim ke penerbit, dapat royalti, jadi bermanfaat.
Kalau kamu punya passion penyutradaraan, beli kamera amatir, mata-matai mantanmu dengan kamera tersembunyi, bikin vlognya, kemudian posting di youtube *ditimpukin*

Keenam, berharap amnesia!

Rasanya seru sekaligus serem kalau otak manusia diciptakan dengan SD Card. Seru karena kamu bisa menghapus ingatan seputar seseorang yang menyakitimu saja, dan mengerikan kalau mungkin SD Cardmu terkena virus patah hati dan nggak bisa dibuka selamanya.
Ok, kalau kamu sudah sampai ketahap ini, kamu bisa segera kirim surel ke email saya, karena sepertinya kamu butuh teman.

Akan tetapi …, ketika saya mulai menyadari sesuatu setelah sekian lama, bahwa cara-cara di atas kurang akurat dan justru malah menipu perasaan yang seharusnya dibahagiakan dengan tulus, cara-cara di atas kurang layak untuk disebut cara ampuh. Saya pun mulai mencari-cari jawaban-jawaban di pengalaman banyak orang yang turut serta merasakan namun dengan pemikiran dan kedewasaan yang beragam.

Pertama, menjadi sumber kebahagian dan kesedihan bagi diri sendiri!
Setelah putus segalanya jadi terasa sensitif, bukan?
Menerka-nerka kehidupannya setelah tanpamu, stalking status sosial medianya yang nggak lagi mengungkit-ungkit kamu. Melihat status onlinenya di aplikasi chat. Kamu lega ketika dia offline, karena nggak ada kemungkinan dia lagi ngobrol dengan seseorang yang kamu ceburui. Di sisi lain, kamu mewanti-wanti, saat offline mungkin dia sedang jalan dengan seseorang baru.
Hilangkan semua derita pikiran, dan mulailah bertanya, “bagaimana agar saya menjadi sumber kebahagiaan dan kesedihan bagi diri sendiri, bukan melulu orang lain?”
Bahwa sumber segala kebahagiaan dan kesedihan berawal dari hati dan sang pembolak-balik hati hanya Allah SWT. Jadi dekatilah Allah, minta pada-NYA agar mengganti kesedihan dengan cahaya Al-Quran, itu konsepnya. Kalau ikhtiarnya, buat diri sendiri sibuk dengan hal yang berguna, disaat sedih terima dengan ikhlas, lama kelamaan hati akan bertambah kuat dan kesedihan yang ada kini nggak akan bisa menyakitimu lagi (source: teman).
Jadi sumber kebahagiaan dan kesedihan kamu bukan lagi bergantung pada makhluk tapi pada Sang Pencipta. That’s the key.

Kedua, pahami bahwa semua orang pasti akan canggung ketika menghadapi momen ‘pertama kali’ dalam hidupnya!
Setelah jadi mantan, kecanggungan untuk mendekat dan berbicara sangatlah wajar. Intinya jangan banyak berspekulasi dan terbawa perasaan bila dia mendekat, barangkali dia perlu untuk berbincang padamu sebagai teman. Kalau kamu nggak memikirkan kelemahan atau kekuatan, suka atau nggak suka, kamu akan mampu akrab dengan siapa saja.

Ketiga, jagalah perasaannya meski dia tidak bisa menjaga perasaanmu!
Jika memang sikapnya terlalu kekanak-kanakkan untuk dilihat seperti mencemburu-cemburui, memanas-manasimu, itu hanyalah tanda dia masih mau kamu perhatikan dan melihat responmu. Kalau kamu memanas karena hal sepele itu, itu bukti dia berhasil, terasa lega dan bahagia sementara.
Cukup sampai di situ perang mental kecemburuannya, biarkan, diamkan, abaikan, kamu nggak perlu ikut kekanak-kanakkan juga, bukan? Terlebih sungguh kejam membalas menyakitinya yang mungkin akan terluka lebih parah darimu. Berprinsip nggak melakukan hal serupa akan membuatmu bahagia, karena ketika kamu berhasil menjaga perasaan orang lain, Tuhan pasti akan menjaga perasaanmu juga.

Keempat, perbaiki diri dan berubah penampilan!
Memantaskan diri selalu menjadi hal utama bagi kamu yang sadar pentingnya mencintai diri sendiri setelah dikecewakan, menyita waktumu yang mengalami kemunduran pasca ditinggalkan. Kualitas waktumu semakin meninggi, dia tak lagi menjadi pembuang waktumu yang berharga, maka ambillah kursus apapun, ikut komunitas-komunitas positif, tidak ada yang lebih hebat dari pencapaian diri, bukan? Seiring waktu perbaiki penampilanmu, cara bicaramu, gestur serta pemikiran.
Pencapaian setelah putus bukanlah berhasil mencemburi-cemburuinya kemudian mantanmu memelas minta balikan, namun pencapaian terbaik pasca putus ketika kamu memberikan kesan padanya bahwa ditinggalkan tidak membuatmu patah melainkan berkembang karena kamu adalah seseorang yang kuat dan pantas untuk dipertahankan.

Kelima, tidak perlu menyindir di sosial media!
Dulu saya tipe manusia yang suka sekali menyindir seseorang di masa lalu dengan dikomedikan, atau jadi bahan lawakan teman pada saat kumpul. Atau yang paling parah di masa zaman labil, saya memblokir seluruh sosial media sang mantan karena muak lihat status juga wajahnya. Tapi yang terjadi mantan saya jadi lebih arogan dari sebelumnya.
Saya mendapat pelajaran kalau hal itu akan membuat kesanmu kekanak-kanakkan, maka biarkan saja, mungkin juga bisa hapus akun-akun sosial media untuk sementara, jika kamu orang yang mudah terganggu, jika kamu baru saja putus.

Keenam, jangan dengarkan dia yang tidak mengerti dirimu atau mantanmu!
Dalam jangka waktu putus, nggak luput akan ada pertanyaan tentang alasan kalian berpisah. Setelah kamu mengutarakan penyebabnya, ada beberapa teman yang mungkin saja akan memprovokasimu, yang membuat amarahmu memuncak dan kebencian yang tadinya tidak ada jadi singgah.
Jadi setelah berpisah usahakan untuk tidak mendengarkan kisah tentangnya, ataupun gampang terprovokasi karena ketika putus, apapun alasannya, sama sekali tidak berarti. 

PS: Segitu pengalaman saya selama ini yang bisa saya bagikan. Ada satu pesan yang teramat penting dari saya, “mungkin kamu berpikir hanya kamu yang patah hati, hanya kamu yang berjuang untuk memperbaiki diri, hanya kamu yang menipu perasaanmu saat di hadapannya, perlu kamu ketahui, bukan hanya kamu tapi sang mantan di seberang sana juga”.

Salam, Arbie Sheena

30 Oktober 2016