Sabtu, 23 April 2016

KENAPA PUTUS? Selamat menjomblo, welcome, welcome!

KENAPA (dalam KBBI):  kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan.

KENAPA (dalam KGB, Kamus Gue Banget): kata tanya untuk membuat seseorang harus beralasan tentang kehidupan pribadinya untuk konsumsi seseorang yang ingin mengetahuinya.

Pertanyaan, KENAPA PUTUS?  Yang ditekankan di sini. Di sini yang dimaksud adalah mushola kampus ketika menulis artikel ini saat menunggu mata kuliah Character Building di selasa siang yang panas.

Mengingat-ingat saat pacaran pengumbaran kemesraan di sosial media sudah dalam tahap eksream. Setiap pagi, siang, sore, malam, subuh-subuh, hari-hari sosial media kamu selalu diwarnai status-status selamat pagi, siang, malam dari kamu untuk si dia.

Status kasmaran bahwa dia yang terbaik, yang paling manis, yang paling cakep, juara di hatimu, paling dirindukan, dan dialah prediksi semumu bahwa kedatangannya adalah pelabuhan terakhirmu, nggak pernah luput juga.

Dan mari kita terlusuri siapa saja pengkonsumsi statusmu?

Teman SD, SMP, SMU, kuliah, kantor, mantanmu yang ketiaknya bau kaki tapi kakinya bau ketiak, tukang seblak basah dan soto mie yang rajin nyengir namun alay, temanmu yang baik, musuhmu, seseorang yang diam-diam naksir kamu atau naksir pacar kamu tapi kalian nggak peka.

Merekalah yang setiap pagi sarapan dengan status kamu duluan dibanding nasi uduk pakai semur kentang. Mereka yang setiap siang makanin statusmu sebelum cemilin kertas-kertas tugas kuliah. Mereka yang setiap malam menyantap hidangan statusmu sebelum sadar kehabisan nasi di rice cooker.

Dan anggaplah sebagian besar dari mereka, jomblo.

Tentu akan ada banyak perasaan lalu-lalang selama mereka baca status kamu. Ada yang turut bahagia—berharap hubungan kalian harmonis sampai akhir. Ada yang nggak peduli. Sementara yang paling tidak kamu inginkan di tengah kebahagiaanmu adalah …, perasaan dengki dari mereka karena sikap berlebihanmu dalam mengumbar perasaanmu.
Ingat! Ini dunia di mana nggak semua orang menyukaimu.

Sesuai doa-doa kedengkian mereka yang tersamarkan, akhirnya karena suatu kejadian kamu dengan si dia putus. Dan ketika putus orang-orang yang tak paham dengan tingkah kasmaran kalian terutama pembicaramu di belakang, akan saling bertepuk tangan …, untukmu.

Putus …,
Putus …,
Putus ….
Tenang dulu, kalem.

Ketika status hubunganmu di sosial media berganti menjadi empty, mereka yang hobi membututimu bertanya-tanya dalam hati kemudian pertanyaan tentang, “KENAPA PUTUS?” akhirnya di mulai.

Pertanyaan terawal dimulai dari sahabatmu sendiri yang kamu jadikan ladang curhat, “kenapa putus?” Kamu dengan senang hati dan fasih menceritakan semuanya hingga air matamu kering, motivasi dari sahabatmu membuatmu lega, seolah mampu menjalani hari seperti biasa lagi, meski masih perih.

Tapi bagaimana kalau kamu nggak punya sahabat?

Ada seorang teman yang sekadar teman bermain bertanya, “kenapa putus?”

Jawabmu? Pasti menggantung, “emm, gue emang lagi pengin libur pacaran dulu.”

Temanmu yang kepo itu tampak nggak puas, meminta jawabanmu sambil mengguncang-guncang tubuhmu, “kenapa kalian putus? Ayo, dong kasih tau ke gue doang, nggak gue sebarin ke mana-mana?”

Kamu tetap diam.

“Kalau gitu,  siapa yang putusin duluan?”

Reaksimu?

Setelah mendengar kajian oleh dosenmu bahwa membunuh itu dibolehkan berdasarkan logika, kamu pasti ingin membunuhnya, namun ternyata spritual Q-mu lebih besar pengaruhnya. Jadinya kamu hanya dapat menjawab sambil menggeleng tersenyum ikhlas, “kita emang nggak cocok aja.”

Ya, jawaban versi global bahwa kalian memang nggak cocok adalah yang paling tepat, untuk sekarang. Cukup perih ketika putus, dan harus disirami garam dengan pertanyaan, ‘kenapa putus?’, bukan?

Selesai dengan satu orang, teman lamamu yang kurang update bagian ketiga berbalas pesan padamu suatu hari, “gue baru jadian sama temen sekelas, nih. Double date yuk!”

Bagimu itu adalah ajakan kepedihan baru.

Ketika temanmu yang dulu kamu hina jomblo sekarang punya pacar, sementara dulu kamu yang punya pacar sekarang jomblo, kamu mulai sadar bahwa bumerang akan kembali ke pemiliknya lagi. Ingat! Ini dunia di mana semua hal dapat berubah dalam sedetik saja.

Kamu pun menjawab, “kayaknya nggak bisa, deh. Nggak biasa double date.” Demi menyembunyikan status barumu tersebut dan menghindari pertanyaan, “kenapa putus?”.

Wahai kekasih yang dulu sering kamu banggakan dan sekarang kamu tutupi fakta-faktanya, agar kesanmu dan kesannya baik. Katakanlah pada banyak orang yang penasaran dengan putusnya hubungan kalian dengan bijak, “gue banyak dapat pelajaran sewaktu berhubungan sama dia, cuma aja dia kurang tepat buat gue ke depannya, dan gue nggak baik buat dia ke depannya. Pertemuan singkat itu udah cukup buat gue kenal dia kayak gimana, dan dia kenal gue seperti apa.

“kita pisah dengan baik. Kita nggak berlomba-lomba mencari pengganti, dengan sengaja mencemburui hanya ingin melihat respon kadar cinta masing-masing, karena …, masih ada hati yang harus selalu dijaga.”

Dan temanmu pun yang ‘mengerti’ akan berhenti menanyakanmu lebih lanjut.

Nggak semua temanmu yang bertanya hal tersebut memang sekadar pengin tahu, tapi mungkin memang ada perasaan yang turut khawatir karena dulu mereka pernah merasakannya juga.
  

Intermezzo: saya mohon maaf sebesar-besarnya pada seseorang yang mungkin saja bersangkutan dan kebetulan atau sengaja stalking blog saya kemudian tersinggung, maafkan kesalahan saya seluas-luasnya.

Jumat, 15 April 2016

KAPAN NIKAH? Mmm, kapan yah?


Sebenarnya tugas kuliah numpuk minta dikerjain. Kegelisahan tentang pertanyaan di atas yang membuat saya nggak tenang di meja makan tadi, menikmati rendang daging dan hati sapi tanpa fokus, tapi tetap ludes.

Setelah cerita tentang kakak terakhir saya yang mau nikah besok 16 April pada teman-teman, pertanyaan “KAPAN NIKAH?” pasti masuk juga ke telinga. Sebagai anak terakhir di keluarga, saya sudah siap mental, sayangnya belum siap jawaban. Maka mulai menyusun jawaban sesuai dengan sosok orang yang bertanya.

Semisal ditanya oleh pria tampan, soleh, bermobil dan intelek, “Bie, kamu kapan nikah?”
“Abang maunya kapan, eneng ikut ajah.”
Dan tiba-tiba pria tampan, soleh, bermobil dan intelek itu mengeluarkan surat undangan pernikahan dengan wanita lain.
“Tembak dengan senjata laras pendek aja mendingan, Bang.”

Ditanya sama gebetan yang udah punya pacar, “Bie, kamu kapan nikah?”
“Tergantung abang putusnya kapan.”
Kemudian pacarnya langsung teror saya.

Ditanya sama teman yang sering dengki sama saya, “Bie, kapan nikah? Udah berumur gitu.”
“Nanya kapan nikah mulu sih lo kayak mau kondangan aja!”
Sewaktu dipelaminan, dia templokin amplopnya ke muka saya.

Gimana kalau yang tanya perempuan?

“Bie, kapan nikah?”
“Kamu punya abang berapa?” Balik tanya dengan putus asa.
Ternyata dia anak cewek satu-satunya.
Tapi saya masih tetap usaha, “kamu punya sepupu yang masih single?”
Ternyata bapak ibunya juga anak tunggal.
“Kalau gitu, kamu ada temen yang masih single?”
Mengenaskan jika yang terjadi bapak ibunya anak tunggal, dia anak tunggal dan nggak punya temen karena introvert dan pemalu.
Saya pun bertanya balik dengan tatapan nanar, “terus lo sendiri kapan nikah?”
Selesai.

Ditanya sama teman yang kurang update kalau saya baru putus dua bulan, “Bie, kapan nikah?
“Eh, bentar, Presiden nelepon.”
Ternyata itu bunyi sms masuk dari operator kalau paket BB FUN IRIT kamu berhasil diaktifkan.

Ditanya sama teman yang kurang update bagian kedua, “Bie, kapan nikah sama yang ‘itu’?
“Oh, yang ‘itu’ lagi dinas di Urk, entah kapan pulangnya.”
Ceritanya dia nggak tahu kalau yang saya maksud itu Song Jongki.

Sementara ditanya sama teman yang udah update namun tetap reseh, “Bie, kapan nikah?”
“InsyaAllah abis wisuda.”
“Sama siapa?”
Saya nggak berpikir kalau pertanyaannya bakal berlanjut.
“Pasti ada.”
“Emang sama si ‘anu’ putus kenapa, sih?”
Saya nggak berpikir pertanyaannya bakal mencabut hati saya sampai ke akarnya.

Itu adalah sebagian contoh yang saya sendiri masih bingung dengan jawabannya, di saat saya belum dekat dengan siapapun atau belum ada rasa jatuh cinta dengan siapapun, terutama dalam masa penyembuhan itu sendiri.

Nggak perlu bertanya, bila sudah waktunya, orang itu akan menyebar undangannya, menyiarkan kebahagiaannya. Lantas kenapa harus repot bertanya padanya yang tidak pernah tahu ketetapan-NYA?

Nggak akan habis, setelah menikah pasti ada pertanyaan lain seperti, kapan punya anak? Setelah punya anak, kapan punya anak kedua? Setelah punya anak kedua, kapan punya rumah? Dan kapan kapan lainnya.

Teruntuk kamu yang suka bertanya kapan, kamu juga pasti korban atas pertanyaan ‘kapan’ tersebut bukan? Dan lingkaran pertanyaan tersebut nggak akan pernah usai.

Jawablah sesantai dan sejujur mungkin, bisa jadi setelah ditanya ‘kapan’, akan ada banyak doa baik yang meminta agar kamu segera dipertemukan oleh jodohmu.

Selamat untuk kakak saya yang sebentar lagi menikah dan sudah terhindar dari pertanyaan “kapan nikah?” Selamat!

Pesan: Saya percaya ketika saya menulis untuk membuat pembaca bahagia, saya mungkin akan dibahagiakan oleh orang lain yang bertujuan sama. Tertawalah apa adanya, bukan tertawa palsu untuk menunjukkan bila hidupmu sempurna, padahal sebaliknya.

Kamis, 14 April 2016

PUTUS yang Diputuskan (Apapun alasannya, minumnya? Eh?)

PUTUS: kata yang diabaikan untuk orang yang baru jadian dan galau bagi yang baru kejadian (Arbie Sheena, mahasiswa ahli putus, gagal move on dari universitas “aku hanya untuk seseorang yang menghargaiku”). 

Selama sempat mejalani percintaan, seperti mencintai, menyayangi, merindukan dalam satu paket kemudian beberapa bulan atau tahun lantas putus. Ada masa kamu curhat sana-sini, mendengar kajian tentang jodoh agar kata ‘move on’ itu menjadi kenyataan seperti sebelum dengannya kamu baik-baik saja.

Entah ketika mendengar lagu sedih, menonton film cengeng, bahkan melihat kucing keplesetpun bisa bikin kamu berduka setelah diputuskan.

Putus ...,

Putus ...,

Putus ….

Tarik napas dulu, kalem.

Teruntuk kamu yang baru saja diputuskan, bersyukurlah perjalanan kamu dengannya berakhir. Kalau nggak putus, kamu nggak akan memperoleh kesempatan mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi, entah dari segi agama, tampang dan materi.

Diputuskan menghadirkanmu ke 3M. Apa itu? Minta Makan Mamah. Bukan, bukan itu, tapi mengikhlaskan, memantaskan, mendapatkan.

1. Mengikhlaskan

Boleh banget nangis, tapi batasi diri untuk bersedih, tiga hari? Seminggu? Sebulan? Nggak mau makan? Mandi? Oh, ayolah. Ingat! Galaumu disebabkan oleh perbuatan maksiatmu. Banyak istighfar!

Selesai menangisnya, selesai juga urusan kalian. Selamat tinggal dengan kebiasaan mengucapkan selamat pagi, udah makan belum? Mimpi apa semalam? Dan yang paling bikin baper, “aku kangen kamu, Sayang”.

Bersyukur kamu bisa mengenalnya, mempunyai cinta yang besar untuk seseorang yang meminimkan cintamu. Yang memperjuangkannya dalam doa, sementara cintamu tidak dihargai. Yang mencemaskannya lebih dari mengkhawatirkan dirimu sendiri, namun tak ditanggapi. Mendengarkan keluhannya tentang hidup ketika kamu sendiri punya masalah.

Lantas apakah orang itu berhak tinggal lama di hatimu? Dan menjalar ke pikiran hingga merusak fokusmu untuk jadi orang yang hebat ke depannya? Tidak, cinta itu bukan seperti itu.

Cinta itu ketika kamu mencapai sesuatu, tidak membatasimu, memperlakukanmu dengan layak dan tetap jadi dirimu.

Ketika kamu berhasil dalam tingkat ini, ke depannya kamu akan dimudahkan mengikhlaskan suatu apapun. Karena hal yang besar dan krusial macam cinta pada makhluk bisa kamu takhlukkan.

Memang butuh proses, berapa lamanya tergantung kamu, bukan waktu.

2. Memantaskan diri

Kata teman, yang tersulit bukan saat kamu diputuskan, tetapi saat penyembuhan itu sendiri. Yang tadinya ketika jatuh cinta disebut vitamin hati kemudian saat putus menjadi penyakit hati. Kamu otomatis membutuhkan penawar agar cintamu yang overdosis kembali stabil.

Gunakan waktumu dengan hal bermanfaat semaksimal mungkin. Kalau dulu waktu luangmu digunakan untuk berbalas chat, sekarang lakukan sesuatu yang membuat ilmu pengetahuanmu bertambah, karena ilmu pengetahuan tentangnya tidak lagi berguna untuk masa depanmu.

Membuat dirimu menjadi lebih pantas untuk seseorang berikutnya. Karena yang lebih menyedihkan dari tidak mendapatkannya yaitu tidak mendapatkanmu.

Ingat, kalau kamu memperbaiki diri, jodohmu sedang memperbaiki dirinya juga di sana.

3. Mendapatkannya

Ketika kamu merasa dirimu pantas, matang dari segi pemikiran dan pengalaman. Kemudian kamu bertemu dengan seseorang yang dirasa tepat untukmu, yang sesuai kriteria dalam doa-doa yang kamu panjatkan, yang kamu cintai juga mencintaimu. Yang membuatmu istimewa, berbeda dari perlakuan seseorang sebelumnya. Itu titik di mana kamu mendapatkannya.

Siapa yang mendapatkan kita?

Orang yang juga mengubah dirinya jadi yang terbaik. Dan bisa jadi itu jodohmu.

Akan tiba waktunya seseorang itu menemuimu dan mengganti kesedihanmu, merangkai cerita baru, dan membuatmu bersyukur karena dia datang tepat waktu.

Kamu ditahap mana?

Just jokes: ada tugas untuk mata kuliah Metode Ilmiah di kampus, rencana imajinatif liar pengin bikin artikel yang judulnya, “dampak senyum mantan dan kerlingan matanya bagi kesehatan pikiran”. Negatifnya dapat E, dan teguran mantan. Positifnya? Hiburan.

Minggu, 01 September 2013

Meraihmu (Just Prolog) ^.^



Jurnalis sekolah yang tak diketahui namanya mewawancarai para siswa dari sekolah Avarus baik itu di halaman sekolah, lapangan, bawah pohon mangga yang terletak di belakang sekolah. Itu semua demi memuat artikel tentang Jien—anak kepsek yang terkenal kejam seperti Hitler.
Dengan menggunakan handycame, Ardie—siswa yang sedang berteduh di bawah pohon mangga ikut berkomentar. “Jien, menurut gue kepribadiannya unik. Gayanya asik, dia cantik dan baik kalau kita nggak cari masalah. Tapi ada satu hal, kalo ketemu dia jangan liat matanya! Nanti lo bisa dihajar kayak murid kelas satu itu, tuh...”
Yang Ardie maksud adalah Doni—siswa yang kini terbaring lemas di ruang kesehatan. Wajah penuh luka lebam setelah terkena bogeman mentah dari Jien.
Doni turut menceritakan kronologinya, “Padahal, waktu itu gue balik badan karna dipanggil sama temen gue, kebetulan aja di hadapan gue ada dia. Dengan pandangannya yang dingin kayak tukang pukul, dia langsung mukulin gue sampe kaya begini. Aduh...” Doni merintih sambil memegang pipinya.
“Terima kasih...” Jurnalis itu pergi dan mematikan handycamenya.
Seorang siswa yang sedang berdiri mengamati mading turut diwawancarai. Namun saat Jurnalis menanyakan perihal Jien, siswa itu ketakutan dan lari bagai dikejar Badak.
“Eh... tunggu dulu, ah... gimana, sih?” sesal Jurnalis itu.
Jurnalis sekolah tak menyerah begitu saja dan mendekati sekelompok murid yang sedang asik makan disalah satu meja kantin. Saat hendak mewawancarai mereka perihal Jien, reaksi yang mereka tunjukkan sama seperti siswa tadi. Para siswa ngibrit ketakutan sambil membawa mangkuk bubur dan meninggalkan jurnalis yang terus memohon. Mereka juga lupa membayar makanannya, tampak dari mimik kesal tukang bubur.
“Sedikit aja, jangan pada pergi dong,” sepertinya ‘ditinggal kabur’ akan menjadi nama tengahnya.
Berbeda dari yang lain tanpa rasa takut sedikitpun. Dira—siswa yang paten dengan jambul ketinggalan zamannya, menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan sang Jurnalis dengan kenarsisannya di tengah latihan bola bersama tim kebanggaannya.
Dira bertolak pinggang, dengan penuh dendam dia berkata, “Jien, dia penjahat kelas kakap. Nggak berperikemanusiaan, begis, kejam, sadis, gila, otaknya udah geser. Dia itu alien, lahirnya dari muntahan lumpur lapindo. Dan dia musuh bebuyutan gue!” Dira menunjuk-nunjuk ke arah lensa handycame pertanda dia akan menantang Jien untuk kesekian kalinya.
Selama handycame masih menyenternya, Dira menunjukkan aksinya dengan cara merebut bola dari kawannya kemudian memasukkannya ke gawang sambil berlagak seperti David Beckham.

Meraihmu


Sinopsis:
Takdir yang menyakitkan telah kualami.
Takdirku dengannya adalah
cinta yang tidak ingin aku lupakan
walaupun kita tidak berjodoh
Karena aku tak sanggup berpaling darinya


Engkau hadir bukanlah pada saat yang tepat, bahkan aku menganggapmu tiada. Dan waktu pun membawaku pada satu rasa. Rasa nyaman dan aku anggap itu cinta. Namun rasa ini belum sempurna atau mungkjn tidak akan pernah sempurna.

Aku pun kehilangan jejakmu, mungkin kau begitu dekat tapi tak mampu aku meraih. Hingga waktu jualah kembali mempertemukan kita. Kita saling memegang tangan dengan erat, saling berpelukan seolah tak ingin berpisah lagi.

Yang berlalu sejatinya tidak akan sama dengan saat ini, ada banyak bagian-bagian kehidupanmu yang aku terlewatkan, ada begitu banyak maaf yang harus diucapkan, merelakan sepenuhnya dan membiarkan cinta meraihmu.

Jumat, 23 Agustus 2013

My "Korean" Girl

Sudah sebulan lebih Korean wave menjajah gadisku, Lily. Dari style, selera musik dan makanannya berubah. Bahkan, pertumbuhan poster BoyBand Korea di kamarnya berkembang pesat daripada warung makan padang di dekat rumahku.
Saat kencan, Lily selalu membicarakan Thunder MBLAQ. Dia bisa menjelaskan panjang lebar tentang musik Korea dalam sepuluh halaman Microsoft Word, tapi payah dalam menjelaskan berita kriminal di tanah air. Di samping itu, Lily punya impian yang muluk. Dia ingin pergi ke Korea untuk menonton konser MBLAQ. Boleh saja! Asalkan aku ikut, tujuannya untuk mencekik Thunder di atas panggung nanti. Hus! Aku mikir apa?
Tuhan, apa tujuanku dilahirkan hanya untuk melihat pacarku tergila-gila orang lain? Meski Thunder nun jauh di sana, tapi hatiku tetap saja sakit saat dia selalu membahas orang yang sama dengan mata berbinar seperti ini, “Andai Thunder jadi pacarku, aku pasti akan setia”.
Aku penasaran dengan rupa orang itu, lantas kucari di Google. Sungguh menyesal, aku jadi semakin terlihat buruk saat melihat wajah Thunder yang mempunyai kulit putih mulus, sempurna. Sebulan sudah rambutku tidak kunjung tumbuh. Aku takut jika ini akan menjadi permanen. Salon yang kudatangi sebulan yang lalu sudah tutup, minta pertanggung jawabanpun tidak mungkin. Sampai kapan aku akan jadi cimol begini?
Belakangan ini, Lily pun memanggilku Lee Min Hoo, pria idaman keduanya. Yang benar saja? Jujur, aku merasa tidak nyaman dengan hubungan ini meski putus bukanlah pilihan yang bijak.

***

Malam ini, di kafe rumahan dekat kediamanku. Aku telah menyiapkan sebuah cincin untuknya. Walau harganya tak seberapa, bagiku yang terpenting adalah rasa cintaku yang tidak bisa dibeli dengan mata uang manapun.
Aku segera menyembunyikan cincin di saku celana saat Lily datang dengan longdress putih, rambutnya dibiarkan tergerai sedada lalu duduk diseberangku.
“Kau mau makan apa?” tanyaku segera.
“Tidak perlu. Aku buru-buru.”
“Mau kemana?”
Lily menggeleng, “Tidak kemana-mana.” Dia terdiam sejenak sebelum mengatakan yang selanjutnya, “Lee Min Hoo, aku sudah berpikir ribuan kali tentang ini. Ada baiknya jika aku mengakhiri hubungan kita.”
Aku tersentak, “Kenapa? Aku masih menyayangimu, Lily.”
“Ada pria lain di hatiku.”
“Maksudmu Thunder? Aku tidak cemburu meski pikiranmu selalu melayang ke arahnya saat kita kencan. Tidak masalah bagiku, aku mohon jangan begini.”
“Mianhe—“
Aku memotong ucapannya, “Jangan pakai bahasa Korea. Aku tidak mengerti.” Aku amat gelisah sekarang. Kehilangannya, tak termasuk dalam resolusi hidupku tahun ini.
“Bukan Thunder atau artis Korea manapun. Ada seorang pria yang lebih mengerti tentang kegemaranku, komunikasi kami sangat baik saat membahas Korea, tidak seperti kita,” jelasnya.
“Siapa dia? Apa aku kenal?”
“Tidak. Aku mengenalnya di festival Korea. Dia mengungkapkan perasaannya padaku tadi siang dan sekarang sedang menunggu jawabanku.”
“Kau tidak bilang jika punya aku?”
“Aku bilang, tapi dia tidak peduli.”
“Lalu sekarang? Kau lebih memilih dia?”
Lily mengangguk, “Nee.”
Aku menunduk menahan tangis.
“Kau pria yang baik. Kau pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi. Lee—em... maaf, sekarang namamu bukan Lee Min Hoo lagi, tapi Rifan. Jaga dirimu baik-baik, aku pergi.”

Lily meninggalkanku, membuang segala impian dan menempatkan kekecewaan di sampingku. Ada begitu banyak cinta yang tak sampai padanya hari ini. Cinta. Selalu memperdayakanku dalam detik yang tak lazim.

Sepulang dari sana, aku pergi ke beranda kamar dan membuang cincin itu. Karena pada kenyataannya, hanya dia yang pantas memakainya.

Esok pagi, Adikku yang mempunyai senyum serigala seperti di dalam dongeng Red Riding Hood menyapaku di meja makan. Dia menunjukkan cincin yang semalam kubuang.
“Kak, aku menemukan ini.”
Dalam keadaan seperti ini, aku tersedak nasi goreng dengan sangat hebat.
“Pantas saja dia memutuskanmu, kau beli cincin duapuluh lima ribuan. Cih!” hinanya.
“Tahu apa kau? Sini kembalikan!”
Aku berusaha meraihnya, tapi dia segera menyembunyikannya di balik punggungnya.
“Aku tahu. Facebookmu penuh dengan status kegalauan. Kau itu sudah duapuluh tahun kak, seharusnya kau malu. Ma-lu!”
Andai saja tidak ada pembantuku di sini, pasti dia sudah kubuat perkedel rasa daging berbentuk segitiga.

***

Tuhan mungkin lupa memberikan musim hujan ke jakarta. Matahari semakin menyengat meski sudah memasuki bulan oktober. Sekarang, siapa yang berani bilang coba kalau musim hujan selalu datang pada bulan yang diakhiri kata –ber?
Setelah mata kuliah selesai, aku berjalan di halaman—berharap tidak bertemu Lily yang semakin cuek padaku. Tapi Tuhan selalu mempunyai cara baru untuk mempertemukan kita.
Seorang pria yang dikabarinya dulu, menjemputnya dengan mobil Mazda putih. Dia tinggi dan berkharisma—mirip aktor Korea dan yang terpenting, dia tidak botak. Pantas saja aku dicampakkan. Dari segi fisik, aku jelas kalah telak. Kata orang, jelek itu mutlak dan tidak sepantasnya aku mengeluh sekarang.

Aku berkaca di lemari kamar. Wajahku tampak suram, adakah yang mempunyai wajah sesuram ini? Putus cinta sangat berpengaruh besar dalam kecerahan wajahku. Apa sebaiknya aku oplas saja?
Saat aku sedang menjepit hidungku dengan kedua jari agar terlihat mancung. Adikku menyetel sebuah lagu dari radio kamarnya.
“You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik. Cantik. Dari hatimu...”
Lalu adikku ikut bernyanyi sambil memperagakan tarian Cherry Belle di ambang pintu kamarku. “Yu ar, bi-ti-pul, bi-ti-pul, bi-ti-pul. Kamu botak. Botak. Dari hatimu...”
Kurang ajar! Dia pasti sudah melihat pacar baru Lily di Facebook. Aku segera mengejarnya, dia melesat cepat ke lantai satu sambil berteriak ketakutan.
“Mami. Mami. Mami...”

***

Aku menonton konser Depapepe di Istora Senayan sendirian. Dengan kejombloan ini, aku bebas kemanapun tanpa perlu melapor. Sudah begitu, tidak ada SMS yang menganggu telingaku dari alunan gitar akustik dari Miura Takuya dan Tokuoka Yoshinari. Selain berdoa kepada Tuhan, musik juga mampu membuatku tenang.
Setelah konser berakhir dengan sorak penonton. Aku pergi ke foodcourt burger dan menghabiskan big burger sendirian di sana. Selagi aku menikmati lahapan demi lahapan makananku seperti pengemis kelaparan. Aku melihat Pacar lily bersama dengan seorang pria sedang terbahak persis di meja makan di sebelahku. Mereka pun terkadang saling suap dan saling membersihkan sisa makanan di mulut dengan tisu. Ada yang tidak wajar di sana. Ah... mungkin hanya temannya saja. pikir apa aku ini?

Aku menatap langit malam dari beranda. Aku ingin membuangnya dari ingatanku, melupakan setiap bagian dari kenangan kami, tapi selalu gagal, menyedihkan. Samar-samar aku mendengar lagu Cherry Belle lagi dari kamar Adikku.
“You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik. Cantik. Dari hatimu...”
Lalu adikku ikut bernyanyi dengan suara yang jauh dari kata enak.
“Yu ar, bi-ti-pul, bi-ti-pul, bi-ti-pul. Kamu jelek. jelek. Dari rahim ibumu...”
“BERISIK!!”

***

Aku lupa makan pagi jadi siang ini terasa begitu lapar. Selagi aku berjalan di halaman menuju pedagang makanan. Aku berpapasan dengan Lily.
“Aku mau membicarakan sesuatu,” katanya langsung.
Aku membuang muka, “Cepatlah.”
“Kau sekarang dingin sekali,” lirihnya.
“Aku lapar. Kalau tidak penting, aku pergi.”
Lily tampak sulit mengungkapkannya, “Aku dan pria itu sudah putus.”
“Apa itu urusanku? Urusan kita sudah berakhir saat kau meminta putus.”
“Mianhe, aku yang salah. Dia ternyata gay, dia sengaja memanfaatkanku agar orang-orang disekitarnya menganggapnya normal,” jelasnya.
Jadi, dugaan dua hari yang lalu itu benar?
“Pantas saja kami selalu nyambung saat membahas K-Pop. Dia juga mengakui kalau wajahnya itu hasil oplas,” lanjutnya.
Kalau begitu, wajah aslinya pasti tidak lebih baik dariku.
“Lalu?”
“Bisakah kita balikan?”
Aku terdiam sejenak, mengikat kembali benang yang putus itu tidak semudah itu, “Kau tahu? Setelah kita putus, bagiku menata hati tidaklah mudah.”
“Kumohon,” matanya mulai nanar.
“Apalagi kau membuangku, kau pikir aku Kucing? Lalu sekarang, kau memintaku secara tidak langsung untuk menjadi pelampiasanmu.”
Lily menggeleng, “Tidak, bukan begitu. Kau salah.”
“Bersikaplah dewasa, jangan lakukan hal ini pada pria lain.”
Aku beranjak pergi; Lily menangis.
“Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Langkah kakiku terhenti, “Benarkah?”
Dia mengangguk cepat. Aku pun tersenyum.
“Kenapa tersenyum?”
“Aku hanya pura-pura kok!” lalu aku menyengir.
“Lee Min Hoo!” Dia tampak tidak senang.
“Tuhkan, mulai lagi.”
Aku memegangi perutku—cacingku semakin ganas. “Aduhh... lapar.”
Lily tersenyum, “Ayo, kita cari makan.”
Lalu kita berjalan ke tempat penjaja makanan.
“Tapi aku lebih suka panggilan itu.” Lily kembali membahas masalah tadi.
“Tidak mau.”
“Lalu kau mau kupanggil apa?”
“Naruto Rikodou.”
“Huh! Dasar kekanak-kanakkan.”

Asalkan jangan menyuruhku oplas, apapun akan kulakukan untuk Lily. Jika dia suka pria yang pintar bernyanyi, aku akan les vokal. Jika dia menyukai pria yang pintar menari, aku akan belajar menari. Tapi jika dia menyukai pria tampan, mungkin aku akan bunuh diri.



Jakarta, !9 Maret 2012

Kamis, 22 Agustus 2013

Geng Ikan Asin (Prolog)


Masa kecil gue masuk dalam kategori A (ancur). Di TK gue dibuli. Di SD dibuli. SMP dibuli. Pas SMU gue dibikin nasi kebuli. Tampang gue emang udah tahap tiarap. Dompet gue melempem kayak kerupuk kampung. Otak gue nggak jelas. Tapi hati gue selembut Yuppi.
Semenjak gue kenal keempat sohib yang nggak kalah anehnya. Gue jadi kenal yang namanya orang aneh itu. Kadang kala kita berantem ngeributin duit gopean hasil temuan dari tong sampah (nggak keren amat). Kadang kala... kita tersenyum saat dihukum ngepelin toilet gara-gara abis boker nggak disiram lagi. Pernah juga waktu pelajaran matematika kita disamperin tukang bakso gara-gara abis makan mangkok sama sendoknya kita bawa pulang #gue kira tadinya dia ngefans sama gue.
Yah... kawan. Itulah sahabat, susah senang bodo amat. Okelah! Nggak ada salahnya gue kenalin mereka di sini, mungkin dengan format kayak ini.
Nama panjang              :  Hadiansyah syah syah sajalah
Nama panggilan            :  Jeding, Dower, Melempem
Nama mangkal :  Aisyah
Pekerjaan                     :  Jual Peyek Teri, sebungkus seribu
Cita-cita                       :  Punya peternakan Ikan Teri
Cita-cita yang utama     :  Menjadi pengusaha peyek Ikan Teri yang sukses
Kebiasaan                    :  Berbicara dengan Ikan Teri
Hal yang disukai           :  Ikan Teri fever
Hal yang dibenci           :  Manusia yang tidak ber-kepriikanteri-an

Nama panjang              :  Zaki Van Embot Emboten
Nama panggilan            :  Embot, Sapuh Lidih, Begeng, Maho
Nama mangkal :  Jakiah
Pekerjaan                     :  Ngoleksi poster Charly
Cita-cita                       :  Gabung di Setia Band
Cita-cita yang utama     :  Nikah sama Charly dan punya anak kembar #wew
Kebiasaan                    :  Ngelamun sambil ngemil upil
Hal yang disukai           :  Charly
Hal yang dibenci           :  Cewek-cewek yang ngefans sama Charly

Nama panjang              :  Kim Choi Hyun
Nama panggilan            :  Acoy, Amsyong
Nama mangkal :  Caca
Pekerjaan                     :  Bantuin jualan beras di toko
Cita-cita                       : Membelokan mata, memancungkan hidung, menarik   dagu, menghilangkan cabi, menarik telinga.
Cita-cita yang utama     :  Jadi orang kaya
Kebiasaan                    :  Gadoin kutu beras
Hal yang disukai           :  Gopean dan Indomie
Hal yang dibenci           :  Orang kikir yang mengkikirkan orang pelit

Nama panjang              :  Sobirin Labirin
Nama panggilan            :  Sobar, Gobar, Nobar, Bubar
Nama mangkal :  Barokah
Pekerjaan                     : Ceramah. Apa ajah diceramahin mulai dari cicek, kecoa, balang, cengcorang sampe semut rangrang
Cita-cita                       :  Ustad
Cita-cita yang utama     : Menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara, dunia akhirat, surga neraka
Kebiasaan                    :  Natap lantai, ngelus-ngelus dada
Hal yang disukai           :  Surat yasin
Hal yang dibenci           :  Orang hina yang menghinakan orang hina

Nama panjang              :  Nande Datebayo
Nama panggilan            :  Nanang, Rumah Susun, Busway, Tenda Hajatan
Nama mangkal :  Nana
Pekerjaan                     : Bangun-tidur, bangun-tidur. Tidur kagak bangun-bangun lagi.
Cita-cita                       :  Menguruskan badan, menikah dengan kucing.
Cita-cita yang utama     :  Ngancurin Busway.
Alasan                          :  Biar pas orang lewat di depannya nggak ketuker yang mana dia, yang mana Busway.
Kebiasaan                    :  Nginjek buntut kucing sampai mencret.
Alasan                          :  Buntut kucing itu pembawa hoki.
Kata siapa                    :  Siapa aja bollee.
Hal yang disukai           :  Kucing, reskuker.
Hal yang dibenci           :  Lapar tingkat DEWA.


Itulah mereka, aneh, kan? Nggak perlu protes gitu. Di kisah ini ada orang @l4y. Ada orang yang mukanya keliatan sangar tapi baik banget. Ada juga yang mukanya oon banget tapi kalo marah bisa bantai orang. Ada orang yang keliatan pendiem tapi kalo ceramahin orang, satu jam baru kelar. Dan terakhir, ada orang yang ngaku ganteng, tapi nggak pernah punya cewek, orang itu gue. Ngaku lebih baik ketimbang dihakimi, gan. Dikisah ini, ada suatu kejadian yang membuat Geng Ikan Asin jadi nggak asin lagi. Karena itu, sekarang gue mencoba mengingat-ingat awal pertemuan kita yang amat gurih bagai ikan asin.