Minggu, 01 September 2013

Meraihmu (Just Prolog) ^.^



Jurnalis sekolah yang tak diketahui namanya mewawancarai para siswa dari sekolah Avarus baik itu di halaman sekolah, lapangan, bawah pohon mangga yang terletak di belakang sekolah. Itu semua demi memuat artikel tentang Jien—anak kepsek yang terkenal kejam seperti Hitler.
Dengan menggunakan handycame, Ardie—siswa yang sedang berteduh di bawah pohon mangga ikut berkomentar. “Jien, menurut gue kepribadiannya unik. Gayanya asik, dia cantik dan baik kalau kita nggak cari masalah. Tapi ada satu hal, kalo ketemu dia jangan liat matanya! Nanti lo bisa dihajar kayak murid kelas satu itu, tuh...”
Yang Ardie maksud adalah Doni—siswa yang kini terbaring lemas di ruang kesehatan. Wajah penuh luka lebam setelah terkena bogeman mentah dari Jien.
Doni turut menceritakan kronologinya, “Padahal, waktu itu gue balik badan karna dipanggil sama temen gue, kebetulan aja di hadapan gue ada dia. Dengan pandangannya yang dingin kayak tukang pukul, dia langsung mukulin gue sampe kaya begini. Aduh...” Doni merintih sambil memegang pipinya.
“Terima kasih...” Jurnalis itu pergi dan mematikan handycamenya.
Seorang siswa yang sedang berdiri mengamati mading turut diwawancarai. Namun saat Jurnalis menanyakan perihal Jien, siswa itu ketakutan dan lari bagai dikejar Badak.
“Eh... tunggu dulu, ah... gimana, sih?” sesal Jurnalis itu.
Jurnalis sekolah tak menyerah begitu saja dan mendekati sekelompok murid yang sedang asik makan disalah satu meja kantin. Saat hendak mewawancarai mereka perihal Jien, reaksi yang mereka tunjukkan sama seperti siswa tadi. Para siswa ngibrit ketakutan sambil membawa mangkuk bubur dan meninggalkan jurnalis yang terus memohon. Mereka juga lupa membayar makanannya, tampak dari mimik kesal tukang bubur.
“Sedikit aja, jangan pada pergi dong,” sepertinya ‘ditinggal kabur’ akan menjadi nama tengahnya.
Berbeda dari yang lain tanpa rasa takut sedikitpun. Dira—siswa yang paten dengan jambul ketinggalan zamannya, menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan sang Jurnalis dengan kenarsisannya di tengah latihan bola bersama tim kebanggaannya.
Dira bertolak pinggang, dengan penuh dendam dia berkata, “Jien, dia penjahat kelas kakap. Nggak berperikemanusiaan, begis, kejam, sadis, gila, otaknya udah geser. Dia itu alien, lahirnya dari muntahan lumpur lapindo. Dan dia musuh bebuyutan gue!” Dira menunjuk-nunjuk ke arah lensa handycame pertanda dia akan menantang Jien untuk kesekian kalinya.
Selama handycame masih menyenternya, Dira menunjukkan aksinya dengan cara merebut bola dari kawannya kemudian memasukkannya ke gawang sambil berlagak seperti David Beckham.

Meraihmu


Sinopsis:
Takdir yang menyakitkan telah kualami.
Takdirku dengannya adalah
cinta yang tidak ingin aku lupakan
walaupun kita tidak berjodoh
Karena aku tak sanggup berpaling darinya


Engkau hadir bukanlah pada saat yang tepat, bahkan aku menganggapmu tiada. Dan waktu pun membawaku pada satu rasa. Rasa nyaman dan aku anggap itu cinta. Namun rasa ini belum sempurna atau mungkjn tidak akan pernah sempurna.

Aku pun kehilangan jejakmu, mungkin kau begitu dekat tapi tak mampu aku meraih. Hingga waktu jualah kembali mempertemukan kita. Kita saling memegang tangan dengan erat, saling berpelukan seolah tak ingin berpisah lagi.

Yang berlalu sejatinya tidak akan sama dengan saat ini, ada banyak bagian-bagian kehidupanmu yang aku terlewatkan, ada begitu banyak maaf yang harus diucapkan, merelakan sepenuhnya dan membiarkan cinta meraihmu.

Jumat, 23 Agustus 2013

My "Korean" Girl

Sudah sebulan lebih Korean wave menjajah gadisku, Lily. Dari style, selera musik dan makanannya berubah. Bahkan, pertumbuhan poster BoyBand Korea di kamarnya berkembang pesat daripada warung makan padang di dekat rumahku.
Saat kencan, Lily selalu membicarakan Thunder MBLAQ. Dia bisa menjelaskan panjang lebar tentang musik Korea dalam sepuluh halaman Microsoft Word, tapi payah dalam menjelaskan berita kriminal di tanah air. Di samping itu, Lily punya impian yang muluk. Dia ingin pergi ke Korea untuk menonton konser MBLAQ. Boleh saja! Asalkan aku ikut, tujuannya untuk mencekik Thunder di atas panggung nanti. Hus! Aku mikir apa?
Tuhan, apa tujuanku dilahirkan hanya untuk melihat pacarku tergila-gila orang lain? Meski Thunder nun jauh di sana, tapi hatiku tetap saja sakit saat dia selalu membahas orang yang sama dengan mata berbinar seperti ini, “Andai Thunder jadi pacarku, aku pasti akan setia”.
Aku penasaran dengan rupa orang itu, lantas kucari di Google. Sungguh menyesal, aku jadi semakin terlihat buruk saat melihat wajah Thunder yang mempunyai kulit putih mulus, sempurna. Sebulan sudah rambutku tidak kunjung tumbuh. Aku takut jika ini akan menjadi permanen. Salon yang kudatangi sebulan yang lalu sudah tutup, minta pertanggung jawabanpun tidak mungkin. Sampai kapan aku akan jadi cimol begini?
Belakangan ini, Lily pun memanggilku Lee Min Hoo, pria idaman keduanya. Yang benar saja? Jujur, aku merasa tidak nyaman dengan hubungan ini meski putus bukanlah pilihan yang bijak.

***

Malam ini, di kafe rumahan dekat kediamanku. Aku telah menyiapkan sebuah cincin untuknya. Walau harganya tak seberapa, bagiku yang terpenting adalah rasa cintaku yang tidak bisa dibeli dengan mata uang manapun.
Aku segera menyembunyikan cincin di saku celana saat Lily datang dengan longdress putih, rambutnya dibiarkan tergerai sedada lalu duduk diseberangku.
“Kau mau makan apa?” tanyaku segera.
“Tidak perlu. Aku buru-buru.”
“Mau kemana?”
Lily menggeleng, “Tidak kemana-mana.” Dia terdiam sejenak sebelum mengatakan yang selanjutnya, “Lee Min Hoo, aku sudah berpikir ribuan kali tentang ini. Ada baiknya jika aku mengakhiri hubungan kita.”
Aku tersentak, “Kenapa? Aku masih menyayangimu, Lily.”
“Ada pria lain di hatiku.”
“Maksudmu Thunder? Aku tidak cemburu meski pikiranmu selalu melayang ke arahnya saat kita kencan. Tidak masalah bagiku, aku mohon jangan begini.”
“Mianhe—“
Aku memotong ucapannya, “Jangan pakai bahasa Korea. Aku tidak mengerti.” Aku amat gelisah sekarang. Kehilangannya, tak termasuk dalam resolusi hidupku tahun ini.
“Bukan Thunder atau artis Korea manapun. Ada seorang pria yang lebih mengerti tentang kegemaranku, komunikasi kami sangat baik saat membahas Korea, tidak seperti kita,” jelasnya.
“Siapa dia? Apa aku kenal?”
“Tidak. Aku mengenalnya di festival Korea. Dia mengungkapkan perasaannya padaku tadi siang dan sekarang sedang menunggu jawabanku.”
“Kau tidak bilang jika punya aku?”
“Aku bilang, tapi dia tidak peduli.”
“Lalu sekarang? Kau lebih memilih dia?”
Lily mengangguk, “Nee.”
Aku menunduk menahan tangis.
“Kau pria yang baik. Kau pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi. Lee—em... maaf, sekarang namamu bukan Lee Min Hoo lagi, tapi Rifan. Jaga dirimu baik-baik, aku pergi.”

Lily meninggalkanku, membuang segala impian dan menempatkan kekecewaan di sampingku. Ada begitu banyak cinta yang tak sampai padanya hari ini. Cinta. Selalu memperdayakanku dalam detik yang tak lazim.

Sepulang dari sana, aku pergi ke beranda kamar dan membuang cincin itu. Karena pada kenyataannya, hanya dia yang pantas memakainya.

Esok pagi, Adikku yang mempunyai senyum serigala seperti di dalam dongeng Red Riding Hood menyapaku di meja makan. Dia menunjukkan cincin yang semalam kubuang.
“Kak, aku menemukan ini.”
Dalam keadaan seperti ini, aku tersedak nasi goreng dengan sangat hebat.
“Pantas saja dia memutuskanmu, kau beli cincin duapuluh lima ribuan. Cih!” hinanya.
“Tahu apa kau? Sini kembalikan!”
Aku berusaha meraihnya, tapi dia segera menyembunyikannya di balik punggungnya.
“Aku tahu. Facebookmu penuh dengan status kegalauan. Kau itu sudah duapuluh tahun kak, seharusnya kau malu. Ma-lu!”
Andai saja tidak ada pembantuku di sini, pasti dia sudah kubuat perkedel rasa daging berbentuk segitiga.

***

Tuhan mungkin lupa memberikan musim hujan ke jakarta. Matahari semakin menyengat meski sudah memasuki bulan oktober. Sekarang, siapa yang berani bilang coba kalau musim hujan selalu datang pada bulan yang diakhiri kata –ber?
Setelah mata kuliah selesai, aku berjalan di halaman—berharap tidak bertemu Lily yang semakin cuek padaku. Tapi Tuhan selalu mempunyai cara baru untuk mempertemukan kita.
Seorang pria yang dikabarinya dulu, menjemputnya dengan mobil Mazda putih. Dia tinggi dan berkharisma—mirip aktor Korea dan yang terpenting, dia tidak botak. Pantas saja aku dicampakkan. Dari segi fisik, aku jelas kalah telak. Kata orang, jelek itu mutlak dan tidak sepantasnya aku mengeluh sekarang.

Aku berkaca di lemari kamar. Wajahku tampak suram, adakah yang mempunyai wajah sesuram ini? Putus cinta sangat berpengaruh besar dalam kecerahan wajahku. Apa sebaiknya aku oplas saja?
Saat aku sedang menjepit hidungku dengan kedua jari agar terlihat mancung. Adikku menyetel sebuah lagu dari radio kamarnya.
“You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik. Cantik. Dari hatimu...”
Lalu adikku ikut bernyanyi sambil memperagakan tarian Cherry Belle di ambang pintu kamarku. “Yu ar, bi-ti-pul, bi-ti-pul, bi-ti-pul. Kamu botak. Botak. Dari hatimu...”
Kurang ajar! Dia pasti sudah melihat pacar baru Lily di Facebook. Aku segera mengejarnya, dia melesat cepat ke lantai satu sambil berteriak ketakutan.
“Mami. Mami. Mami...”

***

Aku menonton konser Depapepe di Istora Senayan sendirian. Dengan kejombloan ini, aku bebas kemanapun tanpa perlu melapor. Sudah begitu, tidak ada SMS yang menganggu telingaku dari alunan gitar akustik dari Miura Takuya dan Tokuoka Yoshinari. Selain berdoa kepada Tuhan, musik juga mampu membuatku tenang.
Setelah konser berakhir dengan sorak penonton. Aku pergi ke foodcourt burger dan menghabiskan big burger sendirian di sana. Selagi aku menikmati lahapan demi lahapan makananku seperti pengemis kelaparan. Aku melihat Pacar lily bersama dengan seorang pria sedang terbahak persis di meja makan di sebelahku. Mereka pun terkadang saling suap dan saling membersihkan sisa makanan di mulut dengan tisu. Ada yang tidak wajar di sana. Ah... mungkin hanya temannya saja. pikir apa aku ini?

Aku menatap langit malam dari beranda. Aku ingin membuangnya dari ingatanku, melupakan setiap bagian dari kenangan kami, tapi selalu gagal, menyedihkan. Samar-samar aku mendengar lagu Cherry Belle lagi dari kamar Adikku.
“You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik. Cantik. Dari hatimu...”
Lalu adikku ikut bernyanyi dengan suara yang jauh dari kata enak.
“Yu ar, bi-ti-pul, bi-ti-pul, bi-ti-pul. Kamu jelek. jelek. Dari rahim ibumu...”
“BERISIK!!”

***

Aku lupa makan pagi jadi siang ini terasa begitu lapar. Selagi aku berjalan di halaman menuju pedagang makanan. Aku berpapasan dengan Lily.
“Aku mau membicarakan sesuatu,” katanya langsung.
Aku membuang muka, “Cepatlah.”
“Kau sekarang dingin sekali,” lirihnya.
“Aku lapar. Kalau tidak penting, aku pergi.”
Lily tampak sulit mengungkapkannya, “Aku dan pria itu sudah putus.”
“Apa itu urusanku? Urusan kita sudah berakhir saat kau meminta putus.”
“Mianhe, aku yang salah. Dia ternyata gay, dia sengaja memanfaatkanku agar orang-orang disekitarnya menganggapnya normal,” jelasnya.
Jadi, dugaan dua hari yang lalu itu benar?
“Pantas saja kami selalu nyambung saat membahas K-Pop. Dia juga mengakui kalau wajahnya itu hasil oplas,” lanjutnya.
Kalau begitu, wajah aslinya pasti tidak lebih baik dariku.
“Lalu?”
“Bisakah kita balikan?”
Aku terdiam sejenak, mengikat kembali benang yang putus itu tidak semudah itu, “Kau tahu? Setelah kita putus, bagiku menata hati tidaklah mudah.”
“Kumohon,” matanya mulai nanar.
“Apalagi kau membuangku, kau pikir aku Kucing? Lalu sekarang, kau memintaku secara tidak langsung untuk menjadi pelampiasanmu.”
Lily menggeleng, “Tidak, bukan begitu. Kau salah.”
“Bersikaplah dewasa, jangan lakukan hal ini pada pria lain.”
Aku beranjak pergi; Lily menangis.
“Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Langkah kakiku terhenti, “Benarkah?”
Dia mengangguk cepat. Aku pun tersenyum.
“Kenapa tersenyum?”
“Aku hanya pura-pura kok!” lalu aku menyengir.
“Lee Min Hoo!” Dia tampak tidak senang.
“Tuhkan, mulai lagi.”
Aku memegangi perutku—cacingku semakin ganas. “Aduhh... lapar.”
Lily tersenyum, “Ayo, kita cari makan.”
Lalu kita berjalan ke tempat penjaja makanan.
“Tapi aku lebih suka panggilan itu.” Lily kembali membahas masalah tadi.
“Tidak mau.”
“Lalu kau mau kupanggil apa?”
“Naruto Rikodou.”
“Huh! Dasar kekanak-kanakkan.”

Asalkan jangan menyuruhku oplas, apapun akan kulakukan untuk Lily. Jika dia suka pria yang pintar bernyanyi, aku akan les vokal. Jika dia menyukai pria yang pintar menari, aku akan belajar menari. Tapi jika dia menyukai pria tampan, mungkin aku akan bunuh diri.



Jakarta, !9 Maret 2012

Kamis, 22 Agustus 2013

Geng Ikan Asin (Prolog)


Masa kecil gue masuk dalam kategori A (ancur). Di TK gue dibuli. Di SD dibuli. SMP dibuli. Pas SMU gue dibikin nasi kebuli. Tampang gue emang udah tahap tiarap. Dompet gue melempem kayak kerupuk kampung. Otak gue nggak jelas. Tapi hati gue selembut Yuppi.
Semenjak gue kenal keempat sohib yang nggak kalah anehnya. Gue jadi kenal yang namanya orang aneh itu. Kadang kala kita berantem ngeributin duit gopean hasil temuan dari tong sampah (nggak keren amat). Kadang kala... kita tersenyum saat dihukum ngepelin toilet gara-gara abis boker nggak disiram lagi. Pernah juga waktu pelajaran matematika kita disamperin tukang bakso gara-gara abis makan mangkok sama sendoknya kita bawa pulang #gue kira tadinya dia ngefans sama gue.
Yah... kawan. Itulah sahabat, susah senang bodo amat. Okelah! Nggak ada salahnya gue kenalin mereka di sini, mungkin dengan format kayak ini.
Nama panjang              :  Hadiansyah syah syah sajalah
Nama panggilan            :  Jeding, Dower, Melempem
Nama mangkal :  Aisyah
Pekerjaan                     :  Jual Peyek Teri, sebungkus seribu
Cita-cita                       :  Punya peternakan Ikan Teri
Cita-cita yang utama     :  Menjadi pengusaha peyek Ikan Teri yang sukses
Kebiasaan                    :  Berbicara dengan Ikan Teri
Hal yang disukai           :  Ikan Teri fever
Hal yang dibenci           :  Manusia yang tidak ber-kepriikanteri-an

Nama panjang              :  Zaki Van Embot Emboten
Nama panggilan            :  Embot, Sapuh Lidih, Begeng, Maho
Nama mangkal :  Jakiah
Pekerjaan                     :  Ngoleksi poster Charly
Cita-cita                       :  Gabung di Setia Band
Cita-cita yang utama     :  Nikah sama Charly dan punya anak kembar #wew
Kebiasaan                    :  Ngelamun sambil ngemil upil
Hal yang disukai           :  Charly
Hal yang dibenci           :  Cewek-cewek yang ngefans sama Charly

Nama panjang              :  Kim Choi Hyun
Nama panggilan            :  Acoy, Amsyong
Nama mangkal :  Caca
Pekerjaan                     :  Bantuin jualan beras di toko
Cita-cita                       : Membelokan mata, memancungkan hidung, menarik   dagu, menghilangkan cabi, menarik telinga.
Cita-cita yang utama     :  Jadi orang kaya
Kebiasaan                    :  Gadoin kutu beras
Hal yang disukai           :  Gopean dan Indomie
Hal yang dibenci           :  Orang kikir yang mengkikirkan orang pelit

Nama panjang              :  Sobirin Labirin
Nama panggilan            :  Sobar, Gobar, Nobar, Bubar
Nama mangkal :  Barokah
Pekerjaan                     : Ceramah. Apa ajah diceramahin mulai dari cicek, kecoa, balang, cengcorang sampe semut rangrang
Cita-cita                       :  Ustad
Cita-cita yang utama     : Menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara, dunia akhirat, surga neraka
Kebiasaan                    :  Natap lantai, ngelus-ngelus dada
Hal yang disukai           :  Surat yasin
Hal yang dibenci           :  Orang hina yang menghinakan orang hina

Nama panjang              :  Nande Datebayo
Nama panggilan            :  Nanang, Rumah Susun, Busway, Tenda Hajatan
Nama mangkal :  Nana
Pekerjaan                     : Bangun-tidur, bangun-tidur. Tidur kagak bangun-bangun lagi.
Cita-cita                       :  Menguruskan badan, menikah dengan kucing.
Cita-cita yang utama     :  Ngancurin Busway.
Alasan                          :  Biar pas orang lewat di depannya nggak ketuker yang mana dia, yang mana Busway.
Kebiasaan                    :  Nginjek buntut kucing sampai mencret.
Alasan                          :  Buntut kucing itu pembawa hoki.
Kata siapa                    :  Siapa aja bollee.
Hal yang disukai           :  Kucing, reskuker.
Hal yang dibenci           :  Lapar tingkat DEWA.


Itulah mereka, aneh, kan? Nggak perlu protes gitu. Di kisah ini ada orang @l4y. Ada orang yang mukanya keliatan sangar tapi baik banget. Ada juga yang mukanya oon banget tapi kalo marah bisa bantai orang. Ada orang yang keliatan pendiem tapi kalo ceramahin orang, satu jam baru kelar. Dan terakhir, ada orang yang ngaku ganteng, tapi nggak pernah punya cewek, orang itu gue. Ngaku lebih baik ketimbang dihakimi, gan. Dikisah ini, ada suatu kejadian yang membuat Geng Ikan Asin jadi nggak asin lagi. Karena itu, sekarang gue mencoba mengingat-ingat awal pertemuan kita yang amat gurih bagai ikan asin.

Jangan Bawa Aku ke Neraka

Aula Hotel K tampak berkelas, cahaya cristal-cristal lampu memancarkan sorotan di sudut-sudut ruangan klasik. Para tamu seakan diingatkan kembali masa-masa tahun delapan puluhan.
Musik swing jazz dilantunkan, mereka berdansa, terkadang tertawa bersama pasangannya sambil meminum segelas wine disudut lain, sementara para pelayan bertuxedokan putih menuangkan wine putih jika gelas yang digenggam mereka kosong. Ada juga yang baru bergabung setelah menghadiri kegiatan lain dan tuan rumah menyambutnya dengan senang hati.
Kedatangan Median baru tercium Papa setelahnya. Pria berumur 28 tahun dengan tulang rahang sempurna, mata bulat dan bibir tipis baru tiba di Aula dengan tuxedo hitamnya. Median melangkahkan kaki di lobi hotel sambil menghembuskan napas lewat mulutnya. Median mungkin akan malas menjelaskan keterlambatannya pada Papa sehingga matanya berpendar keseluruh aula, mencari tempat yang memungkinkan Papa tidak mendapati keberadaannya.
Median menghampiri sebuah meja bertaplak putih, mengambil segelas wine dan kue kecil yang terhidang rapi tanpa terlebih dulu menyapa Papa dan rekan-rekannya yang berada jauh sepuluh kaki darinya. Papa yang menyadari kehadirannya segera mohon pamit pada rekan-rekannya untuk sekedar menyapa Median.
“Median!” seru Papa ceria sambil menghampiri Median yang membelakanginya.
Median yang kaget segera menelan kue yang sedang dikunyahnya dengan keras. Barulah Median berbalik badan dan balas menyapa Papa dengan senyum kepuraannya.
”Papa!” sahut Median.
”Kamu datang juga?”
”Tentu saja!”
”Papa janji kali ini tidak akan mengecewakanmu. Dia pintar, cantik dan yang paling penting, dia yang akan membuat masa depan perusahaan kita bertambah cerah,” jelas Papa kesejuta kalinya. Median mengerti jika Papa tidak menginginkan perjodohan kali ini kembali gagal dikarenakan Median tidak menyukai pilihan Papa.
Median mendesah, ”Iya...iya....Median tau. Papa sudah bilang hal ini berulang kali di rumah, di kantor. Dan sekarang di sini.” Median mencoba mengingatkan Papa.
Papa malah tertawa terbahak-bahak seakan tidak perduli. Sementara Median tersenyum masam sambil kembali meneguk minumannya.

Acara di buka dengan pidato dari Papa sebagai pemilik Hotel sekaligus Pemimpin Grup K. Setelah membunuh waktu kurang lebih 10 menit, Papa mengundang Median untuk naik ke atas podium begitupun dengan calon tunangannya, Zaira.
Para wanita eksklusif terpanah dengan kecantikan wajah pribumi Zaira. Zaira menggunakan tatanan rambut ala Marlin Monro yang tersematkan jepitan swarovski terbentuk inisial namanya untuk mendukung busana longdress merah marun yang membuat mereka ingin memilikinya juga.
Selain itu, Anak sulung keluarga Pramada yang baru beranjak 25 tahun itu sudah dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai direktur utama di perusahaan milik Papanya sekaligus salah satu komisaris besar di anak perusahaan Grup K. Karena alasan itulah Papa menjodohkan Median dengan Zaira.

Sekarang Median dan Zaira sudah berada di atas podium. Papa segera memperkenalkan mereka satu sama lain. Zaira langsung menjulurkan tangannya dengan senyuman manis lesung pipit khasnya namun Median menyambut tangannya dengan senyuman kecut.
Setelah perkenalan singkat itu, Median berlalu pergi. Para tamu dibuat kebingungan ditambah heboh sorak-sorai penuh tanya. Papa terlihat kesal, lagi-lagi Median menolak perjodohannya.
”Papa akan tetap melaksanakan pernikahannya!” teriak Papa.
”Terserah, ” gumam Median dengan nada malas.
Sementara Zaira tampak kecewa sambil menatap punggung Median menjauh.

***

Median masuk ke dalam kamar Hotel, mengunci pintu, membuka jasnya lalu membantingnya ke lantai sambil bergerutu, ”Apa ada lagi hidup yang membosankan lebih daripada ini?”
Median melepas dasi kupu-kupunya kasar, ”Sepertinya tidur lebih menyenangkan,” kemudian dia membanting diri di ranjang.

BRAKK!!

Median seketika membangunkan tubuhnya, jendela berkusen putih di sampingnya terbuka lebar bersama angin kencang yang mengibas gorden berwarna sepadan. Median tidak mau berfikir yang macam-macam meskipun merasakan kejanggalan. Median mendesah sebentar, lalu membangunkan diri untuk mengunci jendela, kemudian kembali membanting diri di ranjang.

BRAKKK!!

Untuk kedua kalinya jendela itu terbuka seperti menghantuinya...

Median terkejut, bulu kuduknya berdiri begitu sejurus angin menghembus hingga menyayat daging dan tulangnya. Median berusaha tenang sambil kembali mengunci jendela kamarnya, kali ini dia tak lupa memastikannya terkunci rapat. Barulah Median merebahkan diri di ranjang sambil menyelimuti seluruh anggota tubuhnya, gemetaran.
Situasi menenang untuk waktu yang lama, dengan cepat Median masuk ke alam mimpi. Sebuah lagu bersenandung dan terprogram difikirannya, menemani tidurnya. Semakin lelap, lagu itu semakin kuat terasa, kuat hingga Median tidak mampu menghentikannya. Tidak hanya itu, desis mistispun turut merasuki alam mimpinya.
Keringatnya bercucuran, dia berusaha keluar dari alam mimpi yang mengikatnya kuat. Tubuhnya kaku, dia hanya mampu mengeliat-liat layaknya Cacing yang terbakar. Rohnya perlahan terhisap oleh sesuatu makhluk hitam pekat mencekam yang kini melayang diatas tubuhnya.
Median sekuat tenaga berusaha untuk berteriak meminta pertolongan di tengah penglihatan yang samar, tapi suaranya tidak mampu keluar seperti biasa. Raut wajah yang memerah dan jambakan kencang di bantal hanya dapat mengartikan jika dia tidak menginginkan KEMATIAN.

***

Para perawat bergegas mendorong ranjang menuju ruang UGD sambil sesekali memeriksa kondisi pasien. Median dengan sisa-sisa tenaga, samar-samar menyimak isak haru keluarganya untuk kemudian memejamkan matanya lagi. Para dokter telah melewati masa-masa ketegangan, Median dinyatakan koma. Setelah tidak bangun untuk beberapa bulan dia dinyatakan telah meninggal dunia.
Sejak kejadian aneh itu, mendadak Hotel K menjadi perbincangan para media cetak maupun elektronik. Akibatnya Hotel K sepi pengunjung, meskipun Papa sudah melakukan berbagai promosi agar Hotel tetap bertahan sekalipun memanggil orang pintar untuk mengusir makhluk gaib dari Hotel. Tapi para pelanggan tidak mau mengambil resiko untuk menginap. Setelah mengalami kebangkrutan, dengan terpaksa Hotel K ditutup.

Di toilet, jenazah Median dimandikan oleh para kerabat dan Mama. Wanita paruh baya itu masih meratapi kepergian anak semata wayangnya yang begitu cepat. Perlahan,  Mama membasuh tubuh Median dengan segayung air sambil menatapi rona wajah anaknya yang tak secerah dulu.
Seorang kerabat yang turut bertugas memandikan tiba-tiba saja tersentak, kelopak mata Median terbuka. Semua yang menyaksikan menjerit histeris sambil bergegas pergi, sementara Mama masih tetap berada di sana, tersenyum bahagia.

***

Mati suri Median kembali menjadi perbincangan yang menghebohkan banyak orang. Hotel K kembali dibuka dan menjadi tempat baru bagi para petualang yang berani menantang diri.
Namun berita itu kian memanas saat Median dinyatakan bisa kembali beraktifitas dan kembali bekerja.
”Bagaimana bisa? Orang yang udah jelas-jelas di vonis meninggal dan sebelumnya sempat koma beberapa bulan, sekarang bisa berkeliaran lagi di kantor,” bisik-bisik salah seorang karyawan pada karyawan lain.
Tanpa sadar Median masuk ke dalam ruangan, melintas di samping mereka, menatap dingin. Mereka segera berpura-pura bekerja sambil menyambut tatapan Median yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
Begitu juga yang dirasakan rekan kerja Median, saat makan siang Median tidak biasanya hanya duduk manis sambil terus makan tanpa menyeletuk setiap candaan yang dilontarkan temannya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Papa, namun Papa pun tak dapat berbuat apa-apa.

***

Matahari tak menyinari alam semesta, awan hitam pekat menyelimuti bumi dengan hembusan angin tak bersahabat. Sesosok makhluk kembali menghantui Pria seperti mayat hidup itu, ia menghasutnya terjun dari atap perusahaan. Namun Pria itu tak mengelak, sampai di sebuah ujung pijakan dan selangkah lagi ia akan tiba pada kematian. Di moment itu, Zaira datang menyerang makhluk gaib dengan sabetan gelang sucinya, Makhluk itu pun musnah dan Median selamat dari maut.
Selain itu, Zaira menempelkan gelang sucinya ke kening Median, membuat kesadarannya kembali. Setelah sadar, Median malah celingak-celinguk kebingungan seperti orang bodoh. ”Kenapa aku ada di sini? Dan kamu juga? Bukannya kita ada di hotel?”
”Coba ingat sendiri kenapa kamu bisa berada di sini!” perintah Zaira.
Samar-samar Median mengingat semua kejadian yang telah menimpanya namun hal itu malah membuat kepalanya sakit bagaikan ditimpa reruntuhan besi baja.
”Sudah jangan diingat terlalu keras! Aku salut melihatmu kembali hidup padahal roh kamu sudah banyak dihisap.”
Kemudian Zaira menunjukkan gelang sucinya dihadapan Median, ”Tapi untung saja sabetan gelang ini bisa membawa rohmu kembali dengan utuh,” sambung Zaira.
”Sebenarnya apa tujuan mereka melakukan itu kepadaku?” tanya Median, mengerutkan dahinya.
”Kenapa kamu tidak memakai gelang suci untuk mengalahkan mereka?” Zaira bertanya balik.
”Gelang suci? Aku tidak mempunyainya.” Median masih terlihat kebingungan.
Zaira bertolak pinggang, dia mengira Median sedang berpura-pura.
”Jujur, apa sebelumnya kamu pernah berhubungan dengan mereka? Seperti meminta kekayaan atau yang lainnya,” selidik Zaira.
”Kamu gila!!” Median merasa tersinggung.
”Tolong jujur saja tidak perlu malu.”
”Justru aku mau tanya, apa mereka suruhan kamu? Kamu sengaja menyetujui perjodohan itu untuk mengambil alih Grup K saat aku mati,” tuduh Median.
Zaira berubah geram, kemudian dia kembali menempelkan gelang suci di dahi Median sejenak. Begitu gelang suci dilepaskan, tiba-tiba Median berteriak histeris sambil berusaha menjauh dari hadapannya.
”AAAAAAPA ITU?!!” tunjuk Median gemetar pada sebuah makhluk besar berkulit gelap yang mempunyai enam buah tangan dan dua wajah di depan dan dibelakang yang sekarang berdiri disamping Zaira.
”Dia temanku namanya Zeto,” jawab Zaira, tenang.
”Kamu sudah gila makhluk begitu dijadikan teman!”
”Anda jangan kurang ajar!” sahut Zeto, garang.
”Haaa....!!! dia juga bisa bicara,” tubuh Median kembali gemetar. Keterkejutannya bertambah setelah mengetahui Zeto mampu berbicara.
”Zeto jangan bicara dulu kamu bisa membuat dia pingsan!” perintah Zaira.
Zeto menurutinya, ”Maafkan saya,” Zeto sedikit membungkukkan badannya.
”D d d d dia makhluk apa lagi?” tanya Median, gagap.
”Maaf saja kalau aku menyetujui perjodohan itu karena ingin hartamu. Kalau ingin kaya, aku hanya menyuruh Zeto untuk mengambilkan segala yang kumau. Dan satu hal lagi, mahluk yang ada di sebelahku ini berbeda dengan Lambrtz, nama makhluk yang sudah menghisap rohmu itu. Zeto baik, setia dan tidak menerima imbalan saat kusuruh,” jelas Zaira.
”Aku benar-benar tidak mengerti.” Median mengeleng-gelengkan kepala.
”Waktu itu orang tuaku bangkrut, mereka hampir bercerai, aku bingung harus kemana. Dalam mimpi aku bertemu Zeto, lalu Zeto menyuruhku untuk melakukan ritual keberuntungan di tempat mereka selama sebulan. Dari sana aku berteman dengannya, anak penghuni alam lain yang disebut Andryai. Setelah ritual itu selesai, Zeto meminta dirinya bisa selalu ada di sampingku. Dengannya aku balik ke rumah dan keadaan sudah kembali kekondisi semula,” sambung jelasnya.
Zaira menunjukkan gelang sucinya kembali, ”Dari sana aku mendapatkan ini, sebuah pantangan besar jika kita selalu mengeluh setelah keluar dari sana, karena Lambrtz akan menghisap orang-orang yang melalaikan pantangan. Dan gelang suci ini bertujuan untuk menyelamatkan kita dari mereka, batas limitnya hanya 10 kali pakai lalu mereka akan membawamu KE-NE-RA-KA. Masa kamu tidak tau pantangan itu?” tambah Zaira.
”Ke sana saja aku belum pernah!” bantah Median
”Anda memang tidak pernah datang ke sana, tapi Papa anda pernah,” terang Zeto.
”Apa? Papa pernah ke sana?” Median kembali terkejut.
”Anak cucu yang memakan hasil dari Dewa Agung akan mendapatkan ganjaran bagi yang tidak bersyukur atas pemberiannya,” tambah Zeto.
”Jadi aku akan selalu diserang oleh makhluk yang bernama lambrtz itu?” tanya Median, takut.
”Itu kalau kamu selalu mengeluh,” timpal Zaira.
Median mengeleng-gelengkan kepala, ” Ini tidak adil!”
”Kalau begitu ini ambil saja, sepertinya kamu lebih membutuhkan.” Zaira memberikan gelangnya pada Median.
”Zaira nanti keberuntunganmu--?” cemas Zeto.
”Tidak perlu cemas, aku kan udah punya kamu.” Zaira tersenyum sambil memeluk Zeto.
 ”Jadi, sampai ketemu lagi.” Zaira dan Zeto berteleportasi padahal Median masih ingin melanjutkan perbincangannya.

***

Sejak hari itu Median kembali hidup dengan normal, tak ada Lambrtz yang mengganggu ataupun para karyawannya yang sering mengosipkannya dan sekarang Papa tidak lagi memaksakan kehendaknya. Median pun menghormati Papa dengan tidak membahas soal dunia Andryai di hadapannya.
Setelah seminggu tak berjumpa dengan Zaira, tanpa sengaja mereka bertemu saat rapat kerjasama antara Grup K dan perusahaan papa Zaira. Mereka pergi kencan—mengobrol banyak hal tentang mereka sampai akhirnya saling tertarik.

Di malam resepsi, di dalam ruangan khusus pengantin pria, Median tampak gugup—sesekali membenarkan dasinya sambil menghembuskan napas untuk mencairkan ketegangannya.

Ngggikkkkkk ....

Di sisi kanannya sebuah jendela terbuka sendiri. Median menoleh, tampak takut. Hal itu cukup membuatnya dejavu. Median melangkah lebar ke arah pintu, tapi ia kalah cepat dengan Lambrtz yang mengunci pintu keluar duluan.
Suasana kembali mencekam diiringi dengan petir dan angin badai seolah menyambut kehadiran Lambrtz. Tak hanya satu, kali ini Lambrtz datang berkelompok dan melayang menyusuri keberadaannya. Median terpojok—berteriak.
Teriakannya terdengar hingga ke telinga Zaira yang sedang menunggu di ruangan khusus pengantin wanita. Zaira merasakan hal yang janggal dan segera berteleport ke tempat Median berada bersama Zeto.
Setelah sampai di tempat, sayangnya Zaira dan Zeto hanya dapat melihat dari kejauhan karena takut Lambrtz akan menyerangnya juga. Zaira semakin tak tega melihat keadaan Median yang kian kritis akibat sekelompok Lambrtz yang kelaparan saling berebut menghisap rohnya.
“Zaira! Tolong!” Dengan suaranya yang serak Median meminta pertolongan pada Zaira.
“Gelang kamu ada di mana?” teriak Zaira dari kejauhan.
Lalu Median menunjuk sebuah laci, tempat ia menyimpan gelang sucinya. Kemudian Zaira beranjak mengambil gelang suci itu namun Zeto melarangnya.
“Percuma! Gelang itu tidak akan bisa membuat semua Lambrtz pergi,” cegah Zeto.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Zaira dengan panik.
“Mari kita pergi ke Andryai,” ajak Zeto.
“Aku tak bisa itu terlalu lama, bagaimana jika sebelum kita kembali median tidak selamat?”
“Tiga puluh menit di dunia Andryai bukankah satu detik di dunia ini. Ayo, Zaira!” ujar Zeto sambil mengulurkan tangannya ke arah Zaira.

Sementara itu Lambrtz membawa Median kembali teringat pada kejadian di Hotel K saat lambrtz berusaha mengambil jiwanya, dengan penglihatan samarnya Median melihat Zeto berada di sebelah ranjangnya sambil tersenyum licik yang sengaja membiarkan Lambrtz menyerangnya.
“Anda tak akan bisa menjadi pendamping hidup Zaira, karna Zaira hanya milik saya dan selamanya akan mengabdi pada saya di Neraka. Anda akan merasakan bagaimana rasa sakit hati yang sebenarnya saya rasakan saat kalian bersama. Tak akan ada orang yang bahagia bila berhubungan dengan dunia Andryai,” ujar zeto dengan penuh kedendaman pada Median.
Disisi lain Zeto tersenyum sambil meraih tangan Zaira, kemudian dengan teleportasi mereka bersiap untuk pergi. Dengan tenaga yang tersisa Median berteriak, “ZAIRA...!!!!” Namun hal itu sia-sia, Zaira dan Zeto sudah menghilang dari hadapannya.


Jakarta, Mei 2011

Arakawa, Kimi Dake





Cawan bermotif bunga asoka, kabuse-cha mengepul. Meja makan pendek menjadi pembatas sepasang pendiam kegetiran itu. Ruang makan kedap suara, restoran bertema tradisional. Shouko Mamura tidak bernapas dua detik ketika menggeser kotak persegi berlapis bahan beludru biru tua, berisi emas putih. Begitupun Otoko[1] di seberangnya—Hyde.
“Aku tidak bisa. Kucari dimanapun tetap tidak ada,” ungkap Shouko lembut. Menggenggam erat kimono bermotif bangau yang dikenakannya.
“Shouko-chan.” Hyde bergetar, menahan untuk tidak menuju Shouko.
Shoujo[2] itu memandang sang Pelamar penuh kemantapan. “Kau menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Tapi bukan denganku. Tiga tahun ternyata tidak cukup.” Setetes air asin jatuh ke punggung tangannya.
Hyde mengangguk, apa yang dia mengerti dari anggukan itu selain sakit hati.
Shouko berdiri lantas membungkuk, mengucap salam terakhir. Berputar dan menggeser fusuma. Keluar seperti geisha diiringi nagauta samisen dipertunjukan kabuki. Acara resmi itu berujung tanpa keindahan. Tiga senarnya putus. Tidak bisa diperbaiki.
 Di tempat dan milidetik yang sama. Hiromu Arakawa membom meja pendek dengan tinju besarnya. Seorang Otoko incarannya ketakutan, terus menghindari serangannya.
“Hentikan!” pekik Wanita paruh baya yang berdiri di sudut, mencari celah untuk menghentikannya.
“Kau monster!” Otoko itu memakinya.
Hiro bukan monster melainkan iblis. Wajahnya memerah. Mata tipisnya seolah menyilet apapun yang dipandang. “Aku akan membunuh kalian!”
“Hiromu ARAKAWA!” Wanita itu melemparnya dengan shatsume[3] berisi matcha panas ke bahunya.
Hiro sudah mati rasa.
“Aku tidak pernah mencampuri hidupmu, kau juga harus menghormati urusanku,” imbuhnya.
“Di sini.” Hiro menepak jantungnya menahan isak. “Ada darahmu. Kenapa aku harus punya Ibu sepertimu?”
“Pergi!”
“Kau tidak tahu jawabannya?”
“Karena itu bukan sebuah pertanyaan.”
Mata yang memerah itu terpejam, mengatur napas. Mencari sifat kebaikannya yang ia tukarkan beberapa menit pada iblis. Ia mengambil kacamata hitam dari balik jaket kulitnya lalu mendorong fusuma dengan kaki. Melupakan kerusakannya. Melupakan kepahitannya. Hanya perlu jalan sepanjang dua puluh meter menuju lift di samping pohon momiji plastik. Tidak beda akan kepulangan kemarin. Di sampingnya, Shouko memandang kosong, menunggu lift terbuka.
Suara lift terbuka, mereka menghembuskan napas lewat mulut. Masuk ke ruang kosong itu. Shouko yang berjarak dekat dari tombol menekan lantai satu.
“Basement.” Hiro meminta.
“Baik.”
Saat beranjak menekan, pandangan Shouko kabur sehingga ia menekan semua tombol dengan kelima jarinya.
“Ah, gomen.” Ia membungkuk setelah pandangannya normal.
Hiro mendesah.“Baka,[4]” ejek Hiro pelan namun dalam.
Shouko menoleh kesal. “Kau juga. Di dalam ruangan tapi pakai kacamata hitam,” balasnya, sekaligus mencari pelampiasan.
Hiro melepas kacamata, menantang Shouko. “Tidak ada undang-undangnya, kan?”
Shouko dan Hiro terkejut, wajah itu….
“Kau?” mereka saling menunjuk, percaya tak percaya.
Tepat saat itu, lift mengalami goncangan hebat.
“Hah? Kenapa?” Shouko ketakutan setengah mati.
Setubuh dengan Hiro, meski ia menginginkan mati.
Doa mereka terkabul, empat puluh lima detik lift kembali normal hanya saja tidak bergerak di lantai enam.
Shouko segera menekan tombol darurat berulang kali. Tak lupa, ia melambaikan tangan di CCTV yang berada di sudut langit-langit lift.
“Tolong kami! Tolonggg.”
Hiro menyilangkan tangan. “Tidak berguna.” Ia berbalik dan duduk di sudut kanan lift.
“Kau tidak melakukan sesuatu?” tanya Shouko.
“Pasti akan ada yang menolong.”
Hiro membuka ponsel, tidak ada sinyal, kemudian melemparnya pelan. Wajah dingin itu, tidak bisa ditolerir. Suhu Kutub Utara berpindah ke lift. Tak ada yang bisa dilakukan Shouko, maka ia putuskan duduk di sudut kiri lift. Sekarang mereka hanya berjarak tiga langkah.
Hiro mengamati kimono merah padam Shouko sedetail mungkin. “Pakaianmu formal sekali.” Ia ingat, sudah tiga tahun.
Shouko berpaling agar kebohongannya tak tercium. “Aku habis menghadiri resepsi pernikahan. Kau?”
“Aku sedang melamar kerja.”
Dan mereka saling percaya pada kebohongan masing-masing. Nanar mata mereka memandang suatu teramat jauh. Tiga tahun lalu….

 Suatu hari, ketika aku bertemu dengan seseorang yang kucintai. Aku ingin menemuinya dengan tangisan dan berpisah dengan tawa.

Musim gugur, 2011
Seorang Dansei[5] menghapus nama di lembar jawaban Hiromu Arakawa menjadi Shouko Mamura. Sebaliknya, Shouko Mamura menjadi Hiromu Arakawa. Lalu menyeringai.
SMA Takenodai di distrik Arakawa mempunyai dua murid yang saling terbelalak ketika Taniguchi-sensei[6] menunjukkan kejanggalan lembar jawaban di ruang guru. Hiro terbiasa mendapat nilai baik, mendapat nilai buruk. Shouko biasa mendapat nilai paling buruk, mendapat nilai sempurna.
“Ada apa dengan kejadian ini, dewa sedang mempermainkan takdir?” Taniguchi-sensei tidak juga yakin dewa mengutuk kedua muridnya.
Namun, Hiro menangis tanpa merengek. Shouko menangis bahagia.
“Aku sudah merasa benar, mengapa terjadi?” protes Hiro pada langit-langit.
Shouko juga menatap langit asli di luar jendela, “Okaa-san dan otou-san.[7] Sekarang anakmu jenius! Ini pasti karena aku tiga kali terbentur dinding. Bukannya angka ganjil itu membawa keberuntungan?”
“Tunggu-tunggu, jangan tunjukkan emosi itu dulu!” larang Taniguchi-sensei. “Ini sudah empat kali terjadi. Kemarin Takashi, Erica, Haru sekarang Shouko.”
“Apa?” Hiro mengelap airmatanya, tersenyum muak. “Kukira aku jadi bodoh.”
Fusuma ruang guru tergeser pelan, seorang Dansei berpostur tinggi besar masuk ketakutan.
“Itu dia,” tunjuk Taniguchi-sensei.
Hiro berbalik, agak kaget melihat sahabatnya. “Yuuji, kau konspirasi dengan mereka?”
“Bu-bukan, aku hanya ingin beritahu Chiaki menunggumu di taman Shioiri,” jawabnya.
Shouko menyadari satu hal. “Jadi, lembar jawaban kita ditukar?”
“Kau itu lamban sekali,” gumam Hiro, langsung beralih topik.” Sekarang dimana mereka?”
Taniguchi-sensei memukul folder ke meja. Mereka terkesiap.
“Kalian perang, nilai tidak akan dirubah!” ancamnya.
Hiro kini merengek. “Itu tidak adil, Sensei.”
“Yatttaaaa….” Shouko bertepuk tangan.
Upaya Taniguchi-sensei agar Hiro tidak adu kehebatan adalah menyapu halaman depan penuh daun berguguran yang 70% berpotensi akan selesai tiga hari, karena itu Shouko diajak.
Satu persatu fans Hiro berdatangan, mengambil gambar gratis. Hiro menikmatinya dan meninggalkan pekerjaan. Shouko membanting sapunya dan ikut berfoto. Secara agresif menggandeng Hiro. Fans Hiro cemburu dan mengusirnya, tapi Shouko keras kepala.
Seorang Josei[8] memakai syal ungu memberikan ponselnya ke seorang Dansei yang menunggunya di balik pohon. Setelah memberikan uang, ia tersenyum misterius.
Esoknya, di papan buletin heboh foto kemesraan Hiro dan Shouko. Di bawah foto itu terdapat tulisan, ‘mereka pacaran diam-diam agar fans Hiro tidak cemburu dan pamornya hilang’. Puluhan Fans Hiro kecewa.
Setelah memasang uwabaki[9] di loker, Hiro ditarik Yuuji ke papan buletin, sebentar lagi karismanya tidak berlaku.
“Si-siapa yang menempelkannya?” Hiro seperti berada di dalam pesawat yang akan crash.
Para fans Hiro satu persatu pergi sambil menangis. Ia bukan apa-apa tanpa fans, dan sekarang ia bukan siapa-siapa bagi fans.
Sekarang tidak ada josei yang menyambutnya di kelas, memberi bento saat istirahat atau berjuang memperebutkan roti isi daging untuknya. Dua dansei yang memerhatikannya dari kejauhan melakukan high five. Mereka berhasil menghancurkannya.

***

Kecipak sungai Sumida terdengar dari jembatan Suijin. Seperti rutinitas, Hiromu Arakawa berkeluh kesah dan melemparinya batu ketika sore. Bahwasanya, apapun masalahnya, hanya dengan melihat aliran sungai, masalah serasa terselesaikan. Hidup tanpa dipuja shoujo sungguh hampa. Tapi itu hanya penyumbang 20% dari masalah sebenarnya.
“Kau seperti Nino[10].”
Di sebelahnya, Shouko datang tanpa ditebak. Kepangannya berantakan, penuh tepung dan telur busuk. Hiro segera tahu, Shouko habis diisengi mantan fansnya.
“Kata Nino, dia dari venus sedangkan Riku[11] dari mars karena itu mereka sering berselisih,” lanjut Shouko.
“Apa salahnya jadi Nino?” pandangan Hiro kembali ke sungai.
“Kau seharusnya jadi Kento Hayashi.[12] Waktu itu dia syuting di sini. Sutradaranya galak, aku tidak dapat tanda tangannya. Tapi rasa kecewa itu terbayar saat temanku bilang di sekolah ada dansei yang mirip dengannya, itulah kau. Aku—Shouko Mamura akan menjadi fansmu apapun yang terjadi,” tuturnya antusias.
Hiro punya ide, sebelah alisnya naik. “Kalau begitu, kau kuanugrahi sebagai fans setiaku.”
“Honto ni?[13]
“Apapun yang terjadi aku akan menjaga fansku.”
Seperti politikus yang berjanji akan melindungi negaranya, Hiromu Arakawa adalah pendusta. Ketika keluar dari toserba himawari pukul sembilan malam. Shouko Mamura melepas kantung belanjaan berisi roti tawar, madu dan nori[14]. Ia dihadang dua otoko berwajah mesum. Chiaki dan Tamaki.
“Yare… yare… ada kekasih Hiro.” Chiaki memukul-mukul balok kayu ke bahunya.
“Kita berhasil menjodohkan mereka, bukan? Kekasihmu tak sungkan meninggalkannya,” disambung Tamaki.
Hiro datang dari balik punggung Shouko seperti pahlawan yang datang dimenit terakhir episode pertama. “Menyentuh jarinya akan kupatahnya tangan kalian. Menyentuh bahunya akan kupatahkan leher kalian. Tak ada yang boleh menyentuh kekasihku!”
Detak jantung Shouko sempat terhenti tiga detik.
Hiro mendekat dan melayangkan tinju. Chiaki berhasil menangkapnya, tersenyum kecut lalu memelintir tangannya. Hiro berteriak. Shouko menggeleng sambil berdecak, menyingsingkan lengan mantelnya kemudian menghabisi mereka dengan jurus right straigh punch, triple punch dan tendangan mematikan di perut. Chiaki dan Tamaki tersungkur, darah keluar dari mulutnya.
“Aaa~~~ lenganku remuk!”
“Bokongku kram!”
Shouko menepuk tangannya, membersihkan debu. Hiro terbelalak. Chiaki dan Tamaki lari terbirit-birit. Shouko membangunkan Hiro, mengambil plester obat dan menempelkannya di sudut bibir Hiro.
“Mana kemampuanmu?” tanya Shouko tanpa memandang remeh Hiro.
Hiro tak mendengarkan, terlalu malu diketahui tidak bisa bela diri dan biasanya dibantu Yuuji. Saat ini, jarak wajah mereka hanya sejengkal.
“Kalau dilihat dari dekat, kau cantik juga.” Hiro mulai mengeluarkan pesona matanya.
Shouko menunduk, tersipu.
“Ada dua tipe shoujo di dunia ini. Yang tidak enak dipandang dan enak dipandang. Kau tipe kedua,” lanjutnya.
Kepala Shouko mendidih. Hiro tersenyum tipis lalu terdiam, air mukanya mengartikan banyak hal salah satunya, ‘tidak menarik’.

Hotel Arakawa, di dalam lift yang mati, 2014
Hiro melihat jam tangan. Tiga jam lagi tengah malam. Belum ada yang menyelamatkan mereka.
Hiro merenung sebentar lalu berkata, “Bila kita mati di sini—”
“Tidak akan!” dibantah keras oleh Shouko.
Hiro tetap meneruskan. “Aku tidak ingin mati sebelum meminta maaf.”
Tidakkah ia tahu kesalahannya sangat fatal?
“Aku kemarin memimpikanmu, persis seperti ini.”
“Hentikan! Aku tidak percaya!”
Shouko seperti trauma. Otaknya memutar potongan gambar, memuat kisah pahit lalu. Mulut Hiro adalah pelumas, mampu melicinkan hati josei manapun.
“Kalau dilihat dari dekat, kau cantik juga.”
Karisma tajam mata lancip itu.
“Ada dua tipe shoujo. Yang tidak enak dipandang dan enak dipandang. Kau tipe kedua.”
Kalimat yang sama untuk sepuluh josei dihari berbeda. Baru seminggu Hiro menganggap Shouko spesial. Hiro tidak tulus. Melupakannya. Tercampakkan. Tanpa ada keterangan putus atau tidak.
Dan untuk terakhir kali, Shouko berpapasan dengan Hiro di luar gerbang sekolah. Mereka beradu pandang sebelum Hiro naik ke taksi.
“Kau mau kemana?” tanya Shouko, menahan isak.
“Kyoto. Arakawa mulai membosankan.”
“Hiromu Kyoto?”
“Tidak, aku tidak akan menggantinya. Itu identitasku.”
Hiro beranjak membuka pintu taksi. Shouko lepas kendali, airmatanya tidak bisa ditampung.
“Kau itu seperti es.”
Hiro membuka pintu.
“Es yang hangat.” Shouko melanjutkan.
Hiro masuk ke mobil, tanpa meninggalkan ekspresi apapun.
Ingatan yang singkat namun menyakitkan. Lift semakin dingin, pekerjaan Hiro kini memandangi Shouko, berusaha mencari tahu jalan pikirannya.
“Saat kelas tiga orangtuaku bercerai dan aku ikut ayah ke Kyoto. Ayah berteriak, kita bebas. Ibu tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Ayah. Maka kuganti dengan prestasiku,” terang Hiro.
Shouko segera menoleh, mulut dan kakinya bergetar.
“Aku ingin populer, kulakukan berbagai cara terutama menyakiti seseorang,” lanjutnya.
Sebagian Shouko masih menganggap itu bualan.
“Kalau tahu, kenapa kau lakukan? Barusan, aku menolak otoko yang dua kali lipat lebih mapan, tampan dan baik hanya karena masih mengingatmu.”
“Karena itu aku tidak meneruskannya. Semakin kita dekat, aku semakin menyakitimu. Kita tidak mungkin melupakan orang yang terlanjur ada di memori, kecuali kehilangan ingatan.”
Sekarang Shouko seutuhnya memercayainya. “Kau benar-benar.” Shouko menggeleng sekaligus tersenyum.
Bertepatan Hiro menyambut senyumnya, lift terbuka. Teknisi berhasil mereparasi.
“Maaf, menunggu lama,” kata salah satu teknisi.
Shouko dan Hiro berdiri, keluar dari lift.
“Kembalilah ke acara lamaran itu, kalau kau bisa sangat mencintai orang sepertiku. Cintamu akan sebesar apa pada orang yang semuanya lebih dua kali lipat dariku. Kau, hiduplah yang baik,” pesan Hiro.
“Kau juga. Jadilah anak baik.”
Mereka tersenyum.
“Sampai jumpa.” Hiro pamit.
“Em.” Shouko mengangguk.
Mereka bertemu dengan tangisan, berpisah dengan senyum di Arakawa.

Jakarta, 28 Maret 2013



[1] Pria
[2] Gadis
[3] Wadah ocha
[4] Bodoh
[5] Murid laki-laki
[6] Pak Taniguchi
[7] Ibu dan Ayah
[8] Murid perempuan
[9] Sepatu khusus untuk di kelas
[10] Pemeran utama wanita di film Arakawa Under the Bridge
[11] Lawan main Nino
[12] Aktor di film Arakawa Under the Bridge berperan sebagai Riku
[13] Benarkah?
[14] Rumput laut kering