Rabu, 21 September 2016

Menulis adalah penyembuhan diri (1)

Saya sudah menulis sejak september 2008, tahun paling produktif, sedang antusias-antusiasnya, imajinasi sangat tinggi, full time writer, namun sayangnya saat itu media masih belum mendukung. Akan tetapi hal tersebut bukan penghalang untuk mewujudkan mimpi saya, saya menulis di banyak buku tulis atau jurnal yang biasanya diberikan kakak sebagai oleh-oleh dari kantornya.

Di tahun tersebut kira-kira ada belasan naskah yang saya tulis, yang berarti belasan buku. Gaya menulis saya waktu itu masih memakai sistem skenario absurd.
Semisal,

Johnny: Apa kabar lo? (dengan senyum)

Ade: Bae-bae aja.

Itulah yang terjadi kalau baru belajar menulis, belum paham faedahnya, tapi mau buru-buru menerbitkan buku. Semakin lama saya mengerti suatu hal bahwa kesuksesan tercapai bukan karena terburu-buru tapi dengan kekonsistenan. Saya masih harus banyak berlatih, membaca, mengambil pelajaran dari hikmah pengalaman, bagaimana menulis naskah yang penuh nutrisi sehingga pembaca dapat sesuatu setelah menyelesaikannya, referensi dan interaksi dari berbagai kalangan supaya tulisan saya ada RASA-nya, lho.

Suatu waktu di tahun ini saya sempat membaca tulisan amatir-amatir saya saat itu, nggak kaget lagi kalau naskah saya terasa hambar, permainan emosi di narasi nggak ada, padahal tokohnya ekspresif, dan diri saya yang saat itu justru bertekad untuk menulis tokoh yang nggak punya emosi tapi ada cita rasa emosinya, nah lho! Dan karena latihan itu terciptalah karakter Song Hyemi di Happiness Theory.

Semua buku yang berisi naskah saya masih tersimpan rapi di dalam lemari, ada beberapa yang dibuang setelah nggak lolos uji seleksi. Total awalnya belasan, sekarang jumlahnya dirampingkan karena lemari saya penuh. Cerita-cerita di naskah itu seputar remaja, sekolah, gaya hidup, sosialisasi dan pembullyan dengan sedikit bumbu cinta-cintaan.

Di buku lainnya saya menuliskan kurang lebih lima puluh lirik lagu, yang nadanya saya gumamkan di sebuah MP4 jadul yang saya beli sewaktu SMP (waktu itu sempat mengalami kerusakan, jadi seluruh gumaman saya hilang. Kok lucu, yah?).

***

Di tahun 2009, saya mulai sok-sokan tertarik menulis skenario film, banyak baca contoh-contoh skenario film, tips-tips dari penulis skenario senior, belajar otodidak tentang istilah penulisan di dalam skenario seperti INT, EXT, CUT TO, FADE IN, dan semacamnya, kemudian diaplikasikan ke dalam naskah dan hasilnya? Hanya penulis yang bisa mengerti.

Di tahun itu juga, kakak mulai membeli laptop lenovo, saya mulai menyolong-colong diwaktu kerjanya agar laptopnya yang disembunyikan dibawah tempat tidur bisa saya gunakan untuk menulis diam-diam. Iya, waktu itu menulis adalah pekerjaan ‘ilegal’ bagi orang rumah, definisi bekerja bagi keluarga saya yaitu bangun pagi, pakai-pakaian kantor, dan berangkat dari rumah, gajian sebulan sekali.

Saya mulai menyalin semua tulisan saya di buku ke MS.Word dan jeniusnya …, file-file naskah itu saya simpan di MP4 player dan ketika MP4 player mengalami error, usaha pengetikan naskah sekian lama itu lenyap semua. Sakit hati banget waktu itu (mungkin beberapa penulis pernah mengalaminya). Tapi saya teruskan menulis dari awal, saya berterima kasih dengan keambisiusan saya waktu itu. Sekarang masih ambisius, sih.

***

Hingga pada tahun 2011, bermodal handphone Sony Ericson K530i—ponsel batangan tapi bisa internetan dan videocall—bekas dari kakak, saya mulai mencari info lomba menulis yang bertebaran, kemudian ke warnet seminggu sekali untuk mengirim naskah. Sejam 4000, lumayan mahal di tengah kesulitan keuangan waktu itu. Perjalanannya lumayan jauh, kira-kira satu KM lebih karena warnet masih langka kala itu. Perjuangan waktu itu bikin saya terharu di hari ini.

Dalam sebulan saya mengikuti kira-kira sepuluh lomba cerpen, atau puisi, atau kadang-kadang artikel. Banyak kalahnya, menang sesekali dengan hadiah sertifikat atau pulsa beberapa puluh ribu. Di tengah perjuangan menulis untuk lomba saya juga menyicil untuk projek novel solo, projek serius pertama saya waktu itu adalah Happiness Theory konsepnya mirip dengan Cinderella, sesekali merevisi naskah absurd Meraihmu yang kini sudah diterbitkan juga.

Karena ponsel itu juga, saya membuat facebook, di sanalah saya mulai mengenal sebuah akun bernama Gravil Esidra yang mencari beberapa admin untuk akunnya. Terpilihlah saya, Sandra, Ucie, Kurnia, dan admin terbontot dan paling tampan yaitu Adit. Kami memulai dengan julukan, saya—Arbie Sheena: Comedy Queen, Sandra: Romance Queen, Ucie: Fantasi Queen, Kurnia atau sebutannya Kuncen: Horor Queen, dan Adit yang menyukai wanita 3D dan Percy Jackson dipanggil Acing alias anak kucing.

Kami mengalami pertemuan sosial media yang positif, banyak bercanda. Lantas dengan keeksistensian, kami membuat sebuah grup facebook yang saat itu amat hip dikalangan pengguna. Banyak juga grup-grup komunitas menulis lain yang lebih kece dan terbaik dibandingkan grup kami, namun kesolidan kami yang membuat kesetiaan itu terbentuk dan perkumpulan penulis pemula remaja paling terbaik se dunia maya menurut kami saat itu.
Tiap minggu atau dua minggu sekali sebagai admin, kami memberikan materi-materi tentang penulisan dari genre yang kamu tekuni, meskipun kami sadar masih banyak kekurangannya, atas apresiasi anggota grup Gravil Esidra membuat kami antuasias untuk mencari ilmu lebih dalam kemudian mengamalkannya pada mereka.

Di tahun 2012 saya mulai memenangkan berbagai lomba antologi (kumpulan karya) ada kurang lebih sembilan antologi indie yang ada tulisan sayanya telah diterbitkan. Di tahun itu juga sebuah penerbitan bernama Writing Revolution, mengadakan lomba novel, persyaratan harus mengirimkan outline, saya sampai bergadang membuat outline Happiness Theory selama sebulan, alhasil pahit sekali, saya kalah, menangis, di lomba itu pula titik awal mendapat pelajaran bahwa Tuhan membuang hal buruk untuk memberikan hal baik kepada saya.

Selang beberapa hari naskah itu saya ikutkan lomba novel lain, Elfbooks membuka lomba penulisan remaja dan saya mengajukan naskah Happiness Theory sebagai naskah andalan, tidak menyangka di akhir tahun saya mendapat berita kemenangan sebagai naskah pilihan editor. Tangan gemetar hebat saat itu, pencapaian luar biasa dari doa-doa tanpa bosan yang saya panjatkan telah di ACC. 

Kemenangan itu membuka jalan semangat saya untuk tak henti berkarya di tahun 2013. Kembali mengikuti lomba cerita pendek Hantu Gokil Jogja dari Diva Press, yang awalnya pesimis untuk mampu mengejar deadline dan akhirnya terkirim lima belas menit sebelum pengiriman naskah ditutup. Kemudian pengumuman tiba, saya kembali menang. Itulah jalan awal untuk menerbitkan Geng Ikan Asin dan The School of Comedy yang banyak dicintai kalangan remaja seluruh nasional hingga hari ini.

Selasa, 20 September 2016

Banyak kebaikan ayah yang tidak dimiliki kekasihmu

Definsi ayah tidak cukup hanya sebatas orangtua yang pergi pagi pulang malam demi menafkahi keluarganya. Ditiap pikiran anak, seorang ayah mempunyai makna berbeda di batin mereka. Satu-satunya pria yang mencintai anak perempuannya dengan tulus dan tanpa nafsu hanyalah seorang ayah. Namun kehadiran ayah sering terabaikan ketika ada cinta dari pria idaman yang hadir ke ke hatimu, padahal ayah sudah lebih dulu masuk ke kehidupanmu.

Ayah yang rela mengantar jemput
Meski panas, kehujanan, kedinginan, ayah adalah orang yang selalu memiliki kesabaran tanpa batas. Beliau mengantarmu dengan hati-hati dengan kakinya yang tidak sebugar dahulu, menjemputmu dengan motor bebeknya yang sempat mogok berkali-kali hingga kamu selamat sampai tujuan.

Ayah yang overprotektif
Tiap kali kamu keluar rumah, ayah adalah orang pertama yang menanyakan tempat kepergianmu, selalu berpesan agar kembali dengan selamat dan jangan terlalu larut. Hanya ayah yang menunggu di ruang tamu kepulanganmu, siap-siap menjemput kalau-kalau terjadi sesuatu, karena anaknya tidak mampu menjamin keselamatannya sendiri, karena ayah satu-satunya pria di dalam rumah yang siap melindungimu, meski fisiknya tidak sehebat itu, namun ia punya banyak nyali untuk melindungimu, ayah rela terluka untuk melindungimu.

Mengalah dalam segala aspek
Pernahkah kaliah lihat ayah menghabiskan seluruh lauk di meja makan? Ayah bahkan menyisakan lebih banyak jatah, agar generasinya lebih baik untuknya. Ayah jugalah yang meminta maaf duluan jika kamu tak bisa lagi diajak berdebat, hanya karena tak ingin hubungan kalian berantakan, karena sebesar itu ayah menyanyangimu.

Nasihatnya lebih baik namun selalu digubris
“Jangan pacaran dulu, fokus kuliah.”
“Dia baik kok, sering antar jemput aku, jadi ayah nggak perlu repot lagi.”
“Bukan begitu, ayah khawatir kuliah kamu berantakan.”
“Dia pintar, dia bisa bimbing aku.”
Enam bulan kemudian kalian putus, diselingkuhkan. Kamu pun menyesal tidak mengikuti nasihat ayah, hanya karena ayah terasa kolot buatmu. Ayah bukan orang yang ngambekkan ketika kalian bertengkar, ayah tidak akan menyalahkanmu.

Doa ayah selalu menyertaimu
Apa pernah kamu merasa tidak pernah berdoa untuk sesuatu namun hal tersebut datang begitu saja? Itu adalah doa ayah yang selalu meminta agar kamu sukses. Tiap kali kamu mencium tangannya, ayah dengan pelan berdoa, “selamat, semoga sukses.” Di tiap sujudnya, di setiap tilawahnya.

Orang pertama yang mengingat tanggal lahirmu
Ketika kamu kecil merengek dipestakan ulang tahun, ayah mengabulkannya, mengundang badut yang bisa sulap, rumahmu sekejap dihiasi balon-balon, mainan serta kue ulang tahun sesuai karakter berbentuk kartun kesukaanmu.
Namun ketika dewasa seringnya kamu mengingat ulang tahun kekasihmu dibandingkan ayah, kekasihmu kamu berikan kado yang besar, sementara ayahmu yang kecil. Tapi bagaimanapun ayah tidak pernah mengeluh.

Ketika memilih kekasih atau ayah, dahulukan ayah, karena prioritas ayah dalam mencintai adalah anaknya. Begitu pun seharusnya seorang anak.

Rabu, 17 Agustus 2016

Kemerdekaan Manusia Phobia Sosial


Kemerdekaan yang gue pahami paling sederhana adalah kebebasan. Kebebasan bisa diesensikan lagi bila seseorang terlepas dari segala tekanan, masalah dan urusan-urusan pelik lainnya. Pembahasan terkrusial kali ini mengenai “terbebasnya gue dari phobia sosial”. Phobia sosial sendiri dikenal dengan bahasa kerennya Sosial Anxiety Disorder yang mana bisa dikategorikan sebagai penyakit kecemasan yang ditandai dengan munculnya ketakutan pada situasi sosial, menyebabkan tekanan serta ketidakmampuan berfungsi secara normal dalam pergaulan sang penderita.

Phobia tersebutlah yang menggerogoti perkembangan mental sosial gue dari 2013 ke belakang. Banyak teori serta solusi yang bisa dibaca lima menit kelar, tapi percayalah prakteknya butuh bertahun-tahun. Cara satu-satunya yaitu banyak berinteraksi dengan berbagai orang.

Gue sedikit mengenang masa kanak-kanak yang menyebabkan phobia ini muncul.

Well, dari kecil gue adalah anak manja yang segala urusannya diselesaikan orang tua, yang segala kemauannya harus dituruti. Contoh sedikitnya, semisal gue nggak bisa kerjain pekerjaan rumah, kemudian orangtua gue bayar seseorang untuk menyelesaikan hal itu.
Lainnya, ketika semua nilai gue jelek, ibu akan memanipulasi omongannya kepada orang-orang sehingga gue dikenal baik, padahal waktu itu nilai ulangan gue semuanya enam bahkan ada yang lima (kalau ingat itu sekarang gue pengin ketawa, ibu itu luar biasa). Karena faktor-faktor itu, jam terbang berpikir mandiri maupun interaksi gue terhadap orang luar itu bener-bener payah. Gue tumbuh menjadi anak pemalu, takut tatap mata orang, nggak pernah bisa memutuskan perkara sendirian, takut salah, takut dibentak, pendiam, sering berpikir negatif dan gugupan.

Ya, itu phobia sosial, right?

Dan ketika nilai gue nggak sampai untuk masuk ke SMP negeri lagi-lagi orangtua gue memakai caranya agar gue bisa masuk ke sekolah yang bonafit. Tapi sayangnya, gue nggak cocok bergaul dengan anak-anak yang lebih cerdas, aktif, percaya diri. Terlebih lagi jam pelajaran yang gila-gilaan, kalau ada pelajaran tambahan bahkan bisa pulang mahgrib. Gue kesulitan beradaptasi dan homesick, nggak bisa keluar rumah terlalu lama terutama ditempat dan dengan orang-orang yang nggak nyaman. Sejak itu gue jarang masuk, udah nggak peduli sama belajar, belajar sekeras apapun tetep aja tertinggal, gue pun terlalu takut untuk bilang nggak nyaman dan pembullyan di sana. Bentuk ungkapan penolakan gue adalah dengan cara susah dibangunin tiap mau berangkat sekolah.

Akhirnya orangtua gue paham dan gue dimasukkan ke SMP swasta menengah kebawah, dan di sanalah gue merasa diterima, disayang, banyak tertawa, gue bahkan jadi bendahara OSIS. Di sana kita sama-sama, nggak pandang di dompet kamu ada uang berapa, ranking kamu berapa, phobia sosial gue sedikit demi sedikit tergerus. Sekolah nggak lagi jadi tempat menakutkan.

Dan gue perjelas, gue nggak benci belajar, gue hanya benci sistem di sekolah dan mengecam pembullyan yang membuat mental seorang anak melamban tumbuh dan melemah.

Dan pertanyaan, apakah sekarang gue benar-benar sudah terbebas dari phobia sosial?

Kalau ditanya kayak gitu jujur gue nggak bisa memastikan. Sampai sekarang praktek yang memakan waktu bertahun-tahun itu masih terus gue jalani. Selama ini saat berinteraksi dengan seseorang, gue udah nggak begitu gugupan lagi, gue bisa membahas apapun yang gue ketahui dengan panjang lebar, bisa bercanda tapi lebih sering garingnya, homesick terjadi tergantung keadaan, dan gue mulai gampang beradaptasi di beberapa tempat.

Dari phobia sosial ada kemungkinan gue sekarang loncat ke introvert, bahkan ambivert yang bisa swich ke ekstrovert. Gue selalu senang untuk memahami diri sendiri, berkomunikasi pada pikiran sendiri, akan menjauh dari hal yang nggak baik dan mengancam perkembangan mental terutama hati, dan mendekat pada sesuatu yang nyaman, menghargai hal-hal baik yang datang.

PS: Gue nggak menyalahkan cara didik orangtua, orangtua gue udah sangat teramat sabar menghadapi anak manja yang tiap hari bisanya merengek, banting-banting barang kalau nggak dapat apa yang dia mau. Dan gue nggak menyalahkan siapapun, bahkan nggak ada penyesalan. Gue malah bersyukur menjadi phobia sosial waktu itu, bukan jadi anak begajulan yang susah dibilangin. Terima kasih kepada doa-doa orangtua yang selalu menyertai.

Gue ingin menyampaikan pada diri gue yang dulu, “Bie, semua orang itu baik, nggak perlu takut, senyumin aja. Kamu sekarang punya senyum yang bikin orang lain ikut tersenyum juga. Orang-orang yang bikin kamu nggak nyaman, cuma jadi penyebab hidup kamu yang bisa kamu ambil hikmahnya dengan banyak dan bijak. Berterima kasihlah meski kamu disakiti, kalau nggak disakiti, kamu nggak akan belajar. Mentalmu nggak akan berteriak untuk minta tolong, ‘selamatkan saya, Bie’.”

Jumat, 24 Juni 2016

Konten untuk Blog yang Bapuk

Oh, ya ampun …, lihatlah betapa bapuknya blog saya. Betah desain burung berterbangan dengan latar coklat selama tiga tahun. Bie, kamu ngapain aja selama ini? Siapa yang sudah menyakitimu hingga kamu amnesia ngurusin blog? *bertanya pada burung-burung berterbangan*.
Saya pikir semua perlu jadwal agar teratur, dan memastikan konten setiap harinya yang memungkinkan esensi dari blog saya tertata, nggak melulu soal kebaperan yang bikin teman saya mules, tentang curhatan yang membuat visitor saya berkata, ‘nih, cewek baperan mulu!’, apalagi curhatan kebaperan tentang mantan yang membuat mantan saya, yah ..., makin menjauh dari pandangan saya akibat minus yang kian bertambah *hening melanda*.
Konten disesuaikan dengan hari dan ditentukan secara acak:

1. Senin ---> Tips-tips tipis-tipis bareng Arbie Sheena

Apapun saya akan angkat di sini, mulai dari tips menulis, memasak, menjahit, menyetrika, mengepel, nyuci piring, dan nggak luput adalah mengendarai motor dan hatimu *disenyumin Lee Min Hoo*
Mengendarai hati? *mikir lembek*
Ada history mendalam ketika saya memakai judul di atas, pada tahun 2013 saya dipercayai memberikan materi atau tips menulis tiap seminggu sekali untuk para anggota sebuah komunitas penulis remaja pemula yaitu Gravil Esidra dengan menggunakan judul tersebut. Makna tips tipis sendiri berawal dari isi materi saya yang sedikit namun mengena *masa sih?* mengingat bahwa dulu saya memberikan materi genre komedi dari mulai slapstik, sarkastik, plastik, sampai ayam dan itik *abaikan* jadi judulnya dikomedikan juga.

2. Selasa ---> Keluarga betawi

Kalau zaman baheula ada keluarga cemara, mulai selasa nanti saya akan menghadirkan kisah ibu, ayah, keempat kakak kandung saya, serta keenam keponakan dan satu lagi sedang OTW *aamiin*
Bagaimana keseruan, keriwehan, kebahagiaan, dan banyak syukur karena hadir di kehidupan mereka sebagai anak bungsu yang sedang mencari jodohnya *azek*.

3. Rabu --->  Motivasiku, memotivasimu juga

Menapak tilas perjalan saya sampai beranjak kepala dua, pelajaran-pelajaran serta pemikiran-pemikiran apa saja yang telah saya dapatkan, terapkan, kemudian dibagikan dan selalu berharap bermanfaat.

4. Kamis ---> Kamu-kamu lagi, cinta-cinta lagi

Ini dia! Saya nggak akan pernah bisa hilangkan konten tentang cinta setelah menjadi begawan patah hati *laugh*
Sejujurnya kapasitas saya untuk berbicara tentang cinta benar-benar minim, namun karena banyak mengobrol dengan teman atas segala pengalaman mereka yang membuat saya merasa harus berbagi. Kebetulan juga saya sedang jatuh cinta dengan seseorang yang ‘mungkin’ sesuai kriteria doa-doa yang selama ini saya panjatkan. Tatapannya sudah sampai di hati saya, tapi entah dengan tatapan saya apa sudah sampai ke hatinya juga? Tergantung pakai JNE atau POS ngirimnya atau malah pakai Wahana.

5. Jumat ---> Cerita pendek

Nah, inti dari blog ini selain berbagi keseharian, menyalurkan passion saya juga. Saya nggak akan membatasi genre yang akan saya kisahkan nanti, tergantung hari itu maunya menulis apa dan ada kejadian apa. Stay tune, di jumat produktif.

6. Sabtu ---> Curuthat (Curut lagi Curhat)

Pada episode kali ini *chaelah* entah rahasia, kegalauan, kesenangan, keseruan, berbaur aib akan hadir menemani hari sabtumu *yeay! Selain teman yang telinganya sudah panas, saya butuh penampung yang lebih besar untuk mencurahkan segala kegelisahan-kegelisahan saya tentang manusia, sikap mereka, kebiasaan mereka, sampai bau-bau mereka. Gitu.

7. Minggu ---> Rekap perjalanan Arbie Sheena selama sepekan

Pesimis ada yang mau baca *ketawa keras*
Rangkuman perjalanan selama sepekan ketika saya ngampus, kena tilang, magang di daerah Depok, lagi jadi babu, lagi di kamar, di dapur atau di hatimu *baper lagi ente dah*. Semuanya akan saya bahas, yang lucu, sedih, kecewa, atau deg-deggan.
Segitu aja konten serta penjelasannya, ini juga memacut saya untuk disiplin menulis di tengah projek solo, ngampus, les dan magang nanti *keliatannya sibuk, padahal kagak!* semoga saya bisa memulainya minggu depan atau justru minggu ini malah lebih bagus lagi.
So, terima kasih banyak sudah berkunjung apalagi baca dengan tampilan blog yang apa adanya ini.
Sehat selalu, dan jaga diri kamu baik-baik di sana.
Arbie Sheena
Sign out

Rabu, 15 Juni 2016

Doa-doa Burukmu

Menyempatkan menulis di blog dulu sebelum menulis artikel lain, kali ini perihal doa.

Ketika kamu disakiti oleh seseorang kamu berhak mengadu pada Tuhanmu, namun seringnya yang keluar adalah doa-doa buruk untuk seseorang itu.

Jika semua doa buruk-buruk itu terkabul, kamu akan bahagia atau menyesal kemudian.

Penyesalan pertama karena doa itu dikabulkan, mungkin saja suatu hari akan berbalik padamu.

Penyesalan kedua, ketika doa negatif itu telah dikabulkan, kenapa waktu itu kamu tidak memilih berdoa positif untuk kehidupanmu?

Maka itu akan jauh jauh jauh lebih baik untukmu dibandingkan melihat orang yang menyakitimu sengsara.

Mulailah saat ini belajar sabar, ikhlas, bijak, berdoa dengan yakin dan intens, meminta perbaikan hati, kehidupan juga nikmat atas iman dll

Notes: berbagi pengalaman, ada beberapa hal yang membuat doamu cepat dikabulkan, pertama yakin kedua jangan egois. Yakin bahwa semua doamu akan dikabulkan. Dan maksud tidak egois, doakan orang-orang di sekitarmu juga.

Salam.

Selasa, 17 Mei 2016

Landasan Bahagiamu


Sebagai penulis novel ketika terluka mental atau batin, cara saya mengungkapkan kesedihan yaitu lewat menulis komedi. Ketika kesedihan saya menghasilkan karya, dibaca dan diapresiasi ketika itu saya sembuh. Karena saat saya berbagi kebahagiaan lewat tulisan, saya percaya akan ada seseorang lain di sana yang mempunyai tujuan serupa untuk membahagiakan saya.

Kebahagiaan itu harus ditarik sesudah kekecewaan mendalam. Ketika kamu mampu paham bahwa kekecewaan nggak membuatmu berkembang, aktivitas seratus persenmu teralihkan, menggerogoti dirimu yang ceria, kamu mencari cara untuk kembali pada kebahagiaan, karena kecewa itu nggak ada yang abadi.

Berbincang tentang kebahagiaan dan kesedihan, saya pernah bertanya pada seorang teman cara supaya kita bisa menjadi sumber kebahagiaan dan kesedihan bagi diri sendiri, bukan melulu orang lain.
Yang saya maksudkan, ketika kamu berkumpul dengan sahabat, sahabatmu itu humoris parah, kemudian ketika kalian pulang, tawa itu nggak bertahan karena sumber kebahagiaannya sudah pergi. Kamu jadi kesepian, kesedihan datang. Dan kembali, orang itu lagi-lagi menjadi sumber kesedihan kamu.

Teman saya sempat kebingungan, tapi bagusnya dia jawab dengan baik dan religius.

Dia menyampaikan, bahwa sumber segala kebahagiaan dan kesedihan berawal dari hati dan sang pembolak-balik hati hanya Allah SWT. Jadi dekatilah Allah, minta pada-NYA agar mengganti kesedihan dengan cahaya Al-Quran, itu konsepnya. Kalau ikhtiarnya, buat diri sendiri sibuk dengan hal yang berguna, disaat sedih terima dengan ikhlas, lama kelamaan hati akan bertambah kuat dan kesedihan yang ada kini nggak akan bisa menyakitimu lagi.

Jadi sumber kebahagiaan dan kesedihan kamu bukan lagi bergantung pada makhluk tapi pada Sang Pencipta. That’s the key.

Di novel karangan saya Happiness Theory, saya pernah menuliskan bahwa bahagia itu dari pikiran. (Jawaban lain yang saya benarkan namun seringnya lupa diaplikasikan ke kehidupan, bahwa bahagia itu bersyukur apapun yang didapat dan terjadi).

Mengenai bahwa pikiran mempengaruhi sebagian besar aktivitas kebahagiaanmu, ada studi yang dilakukan Arbie Sheena berdasarkan pengamatan dari Universitas Kehidupan. Kesia-siaan itu ada dua hal: Bicara dan pikiran yang sia-sia.

*Bicara yang sia-sia, seperti kamu bergosip tentang keburukan seseorang padahal belum kenal secuilpun.

*Pikiran yang sia-sia, memikirkan sesuatu yang membuatmu nggak antusias, menghambat kinerjamu, kegalauan, kepesimisan, hal-hal belum kejadian tapi sudah kamu prediksi duluan berdasarkan ilmu pengetahuanmu tentang realitas yang minim.

Dan pikiran-pikiran itu membuat kebahagiaanmu tertunda.
Sementara dari seorang dosen yang ia kutip dari sebuah buku, orang nggak bahagia karena fisik dan otak nggak menyatu. Fisiknya tinggal disebuah tempat tapi pikirannya ke mana-mana. Saya sering melihat orang-orang yang nggak ‘menyatu’ tersebut, contoh terdekatnya emak saya.

Tiap kali saya menyetel televisi, emak yang lagi rehat masak pasti muncul, ambil remot terus ganti channel gosip-gosip, kemudian saya tinggal ke kamar. Ketika saya dengar acara itu berganti iklan, saya kembali lagi ke depan tv, dan melihat emak termenung di sana.

Dan ketika saya tegur, “Emak ngelamun?” dengan nyolot emak membalas, “enak aja, orang lagi nonton tipi.”

“Lah, tapi itu iklan, Mak, ngapain ditonton?”

Kemudian emak spontan ambil remot, mengganti channel gosip-gosip lain. Apa saya harus berspekulasi emak sukanya nonton iklan?

Bukan, saya rasa karena emak sedang melamunkan sesuatu hingga gagal fokus pada sesuatu yang di depannya.

Saya juga sering datang ke acara seminar, kajian atau ceramah. Penonton yang menyimak mungkin cuma lima persen, sisanya menyimak semenit, kemudian pikirannya ngambang, nyimak dikit terusnya pikirannya lari-larian lagi.

Ketika seorang teman saya ajak diskusi, dia bilang, “emang barusan bahas apa, sih?” Lah …, dalang-dalang …. (beda cerita kalau pengisi seminar tersebut bisa angkat suasana).

Ingat! Kesulitan fokus sering mengganggu karena kamu terlalu memanjakan lamunan.
Pikiran yang sia-sia.

Biarkan saya bernostalgia dengan pertanyaan, jadi …, apa teori kebahagiaanmu?

*Pembacaku, di artikel selanjutnya saya akan berbagi dongeng tentang Desa Tawa dan Desa Duka.

Sabtu, 23 April 2016

KENAPA PUTUS? Selamat menjomblo, welcome, welcome!

KENAPA (dalam KBBI):  kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan.

KENAPA (dalam KGB, Kamus Gue Banget): kata tanya untuk membuat seseorang harus beralasan tentang kehidupan pribadinya untuk konsumsi seseorang yang ingin mengetahuinya.

Pertanyaan, KENAPA PUTUS?  Yang ditekankan di sini. Di sini yang dimaksud adalah mushola kampus ketika menulis artikel ini saat menunggu mata kuliah Character Building di selasa siang yang panas.

Mengingat-ingat saat pacaran pengumbaran kemesraan di sosial media sudah dalam tahap eksream. Setiap pagi, siang, sore, malam, subuh-subuh, hari-hari sosial media kamu selalu diwarnai status-status selamat pagi, siang, malam dari kamu untuk si dia.

Status kasmaran bahwa dia yang terbaik, yang paling manis, yang paling cakep, juara di hatimu, paling dirindukan, dan dialah prediksi semumu bahwa kedatangannya adalah pelabuhan terakhirmu, nggak pernah luput juga.

Dan mari kita terlusuri siapa saja pengkonsumsi statusmu?

Teman SD, SMP, SMU, kuliah, kantor, mantanmu yang ketiaknya bau kaki tapi kakinya bau ketiak, tukang seblak basah dan soto mie yang rajin nyengir namun alay, temanmu yang baik, musuhmu, seseorang yang diam-diam naksir kamu atau naksir pacar kamu tapi kalian nggak peka.

Merekalah yang setiap pagi sarapan dengan status kamu duluan dibanding nasi uduk pakai semur kentang. Mereka yang setiap siang makanin statusmu sebelum cemilin kertas-kertas tugas kuliah. Mereka yang setiap malam menyantap hidangan statusmu sebelum sadar kehabisan nasi di rice cooker.

Dan anggaplah sebagian besar dari mereka, jomblo.

Tentu akan ada banyak perasaan lalu-lalang selama mereka baca status kamu. Ada yang turut bahagia—berharap hubungan kalian harmonis sampai akhir. Ada yang nggak peduli. Sementara yang paling tidak kamu inginkan di tengah kebahagiaanmu adalah …, perasaan dengki dari mereka karena sikap berlebihanmu dalam mengumbar perasaanmu.
Ingat! Ini dunia di mana nggak semua orang menyukaimu.

Sesuai doa-doa kedengkian mereka yang tersamarkan, akhirnya karena suatu kejadian kamu dengan si dia putus. Dan ketika putus orang-orang yang tak paham dengan tingkah kasmaran kalian terutama pembicaramu di belakang, akan saling bertepuk tangan …, untukmu.

Putus …,
Putus …,
Putus ….
Tenang dulu, kalem.

Ketika status hubunganmu di sosial media berganti menjadi empty, mereka yang hobi membututimu bertanya-tanya dalam hati kemudian pertanyaan tentang, “KENAPA PUTUS?” akhirnya di mulai.

Pertanyaan terawal dimulai dari sahabatmu sendiri yang kamu jadikan ladang curhat, “kenapa putus?” Kamu dengan senang hati dan fasih menceritakan semuanya hingga air matamu kering, motivasi dari sahabatmu membuatmu lega, seolah mampu menjalani hari seperti biasa lagi, meski masih perih.

Tapi bagaimana kalau kamu nggak punya sahabat?

Ada seorang teman yang sekadar teman bermain bertanya, “kenapa putus?”

Jawabmu? Pasti menggantung, “emm, gue emang lagi pengin libur pacaran dulu.”

Temanmu yang kepo itu tampak nggak puas, meminta jawabanmu sambil mengguncang-guncang tubuhmu, “kenapa kalian putus? Ayo, dong kasih tau ke gue doang, nggak gue sebarin ke mana-mana?”

Kamu tetap diam.

“Kalau gitu,  siapa yang putusin duluan?”

Reaksimu?

Setelah mendengar kajian oleh dosenmu bahwa membunuh itu dibolehkan berdasarkan logika, kamu pasti ingin membunuhnya, namun ternyata spritual Q-mu lebih besar pengaruhnya. Jadinya kamu hanya dapat menjawab sambil menggeleng tersenyum ikhlas, “kita emang nggak cocok aja.”

Ya, jawaban versi global bahwa kalian memang nggak cocok adalah yang paling tepat, untuk sekarang. Cukup perih ketika putus, dan harus disirami garam dengan pertanyaan, ‘kenapa putus?’, bukan?

Selesai dengan satu orang, teman lamamu yang kurang update bagian ketiga berbalas pesan padamu suatu hari, “gue baru jadian sama temen sekelas, nih. Double date yuk!”

Bagimu itu adalah ajakan kepedihan baru.

Ketika temanmu yang dulu kamu hina jomblo sekarang punya pacar, sementara dulu kamu yang punya pacar sekarang jomblo, kamu mulai sadar bahwa bumerang akan kembali ke pemiliknya lagi. Ingat! Ini dunia di mana semua hal dapat berubah dalam sedetik saja.

Kamu pun menjawab, “kayaknya nggak bisa, deh. Nggak biasa double date.” Demi menyembunyikan status barumu tersebut dan menghindari pertanyaan, “kenapa putus?”.

Wahai kekasih yang dulu sering kamu banggakan dan sekarang kamu tutupi fakta-faktanya, agar kesanmu dan kesannya baik. Katakanlah pada banyak orang yang penasaran dengan putusnya hubungan kalian dengan bijak, “gue banyak dapat pelajaran sewaktu berhubungan sama dia, cuma aja dia kurang tepat buat gue ke depannya, dan gue nggak baik buat dia ke depannya. Pertemuan singkat itu udah cukup buat gue kenal dia kayak gimana, dan dia kenal gue seperti apa.

“kita pisah dengan baik. Kita nggak berlomba-lomba mencari pengganti, dengan sengaja mencemburui hanya ingin melihat respon kadar cinta masing-masing, karena …, masih ada hati yang harus selalu dijaga.”

Dan temanmu pun yang ‘mengerti’ akan berhenti menanyakanmu lebih lanjut.

Nggak semua temanmu yang bertanya hal tersebut memang sekadar pengin tahu, tapi mungkin memang ada perasaan yang turut khawatir karena dulu mereka pernah merasakannya juga.
  

Intermezzo: saya mohon maaf sebesar-besarnya pada seseorang yang mungkin saja bersangkutan dan kebetulan atau sengaja stalking blog saya kemudian tersinggung, maafkan kesalahan saya seluas-luasnya.