Jumat, 24 Juni 2016

Konten untuk Blog yang Bapuk

Oh, ya ampun …, lihatlah betapa bapuknya blog saya. Betah desain burung berterbangan dengan latar coklat selama tiga tahun. Bie, kamu ngapain aja selama ini? Siapa yang sudah menyakitimu hingga kamu amnesia ngurusin blog? *bertanya pada burung-burung berterbangan*.
Saya pikir semua perlu jadwal agar teratur, dan memastikan konten setiap harinya yang memungkinkan esensi dari blog saya tertata, nggak melulu soal kebaperan yang bikin teman saya mules, tentang curhatan yang membuat visitor saya berkata, ‘nih, cewek baperan mulu!’, apalagi curhatan kebaperan tentang mantan yang membuat mantan saya, yah ..., makin menjauh dari pandangan saya akibat minus yang kian bertambah *hening melanda*.
Konten disesuaikan dengan hari dan ditentukan secara acak:

1. Senin ---> Tips-tips tipis-tipis bareng Arbie Sheena

Apapun saya akan angkat di sini, mulai dari tips menulis, memasak, menjahit, menyetrika, mengepel, nyuci piring, dan nggak luput adalah mengendarai motor dan hatimu *disenyumin Lee Min Hoo*
Mengendarai hati? *mikir lembek*
Ada history mendalam ketika saya memakai judul di atas, pada tahun 2013 saya dipercayai memberikan materi atau tips menulis tiap seminggu sekali untuk para anggota sebuah komunitas penulis remaja pemula yaitu Gravil Esidra dengan menggunakan judul tersebut. Makna tips tipis sendiri berawal dari isi materi saya yang sedikit namun mengena *masa sih?* mengingat bahwa dulu saya memberikan materi genre komedi dari mulai slapstik, sarkastik, plastik, sampai ayam dan itik *abaikan* jadi judulnya dikomedikan juga.

2. Selasa ---> Keluarga betawi

Kalau zaman baheula ada keluarga cemara, mulai selasa nanti saya akan menghadirkan kisah ibu, ayah, keempat kakak kandung saya, serta keenam keponakan dan satu lagi sedang OTW *aamiin*
Bagaimana keseruan, keriwehan, kebahagiaan, dan banyak syukur karena hadir di kehidupan mereka sebagai anak bungsu yang sedang mencari jodohnya *azek*.

3. Rabu --->  Motivasiku, memotivasimu juga

Menapak tilas perjalan saya sampai beranjak kepala dua, pelajaran-pelajaran serta pemikiran-pemikiran apa saja yang telah saya dapatkan, terapkan, kemudian dibagikan dan selalu berharap bermanfaat.

4. Kamis ---> Kamu-kamu lagi, cinta-cinta lagi

Ini dia! Saya nggak akan pernah bisa hilangkan konten tentang cinta setelah menjadi begawan patah hati *laugh*
Sejujurnya kapasitas saya untuk berbicara tentang cinta benar-benar minim, namun karena banyak mengobrol dengan teman atas segala pengalaman mereka yang membuat saya merasa harus berbagi. Kebetulan juga saya sedang jatuh cinta dengan seseorang yang ‘mungkin’ sesuai kriteria doa-doa yang selama ini saya panjatkan. Tatapannya sudah sampai di hati saya, tapi entah dengan tatapan saya apa sudah sampai ke hatinya juga? Tergantung pakai JNE atau POS ngirimnya atau malah pakai Wahana.

5. Jumat ---> Cerita pendek

Nah, inti dari blog ini selain berbagi keseharian, menyalurkan passion saya juga. Saya nggak akan membatasi genre yang akan saya kisahkan nanti, tergantung hari itu maunya menulis apa dan ada kejadian apa. Stay tune, di jumat produktif.

6. Sabtu ---> Curuthat (Curut lagi Curhat)

Pada episode kali ini *chaelah* entah rahasia, kegalauan, kesenangan, keseruan, berbaur aib akan hadir menemani hari sabtumu *yeay! Selain teman yang telinganya sudah panas, saya butuh penampung yang lebih besar untuk mencurahkan segala kegelisahan-kegelisahan saya tentang manusia, sikap mereka, kebiasaan mereka, sampai bau-bau mereka. Gitu.

7. Minggu ---> Rekap perjalanan Arbie Sheena selama sepekan

Pesimis ada yang mau baca *ketawa keras*
Rangkuman perjalanan selama sepekan ketika saya ngampus, kena tilang, magang di daerah Depok, lagi jadi babu, lagi di kamar, di dapur atau di hatimu *baper lagi ente dah*. Semuanya akan saya bahas, yang lucu, sedih, kecewa, atau deg-deggan.
Segitu aja konten serta penjelasannya, ini juga memacut saya untuk disiplin menulis di tengah projek solo, ngampus, les dan magang nanti *keliatannya sibuk, padahal kagak!* semoga saya bisa memulainya minggu depan atau justru minggu ini malah lebih bagus lagi.
So, terima kasih banyak sudah berkunjung apalagi baca dengan tampilan blog yang apa adanya ini.
Sehat selalu, dan jaga diri kamu baik-baik di sana.
Arbie Sheena
Sign out

Senin, 20 Juni 2016

Perkara Putus

Pemahaman saya tentang putus membuat saya hampir menjadi begawan patah hati, terutama bagi orang-orang yang belakangan mengalaminya. Mendadak banyak ide yang harus dituliskan, banyak nasihat yang harus dibagikan, banyak kedewasaan menyertai pemikiran dan yang terpenting adalah menyadarkan betapa luar biasa pengaruh putus cinta bagi kebanyakan orang. Karena putus mampu membuatmu menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk atau bahkan sama saja.

Satu hal yang membuatmu lebih buruk saat putus adalah seberapa besar tingkat kekecewaanmu pada pasangan lampaumu. Kekecewaanpun bisa jadi membawamu ke tingkat lebih baik, tergantung lingkungan, pemikiran dan saluranmu.

Karena …,

Putus bukan perkara siapa yang menyampaikannya terlebih dulu, akan tetapi siapa yang mendapat teguran Sang Pencipta duluan untuk dijauhkan oleh orang yang kurang tepat untukmu ke depannya.

Tulisan ini berangkat dari kekecewaan saya terhadap seseorang di masa lalu, beliau yang telah ‘merasa’ ditegur oleh Allah menginginkan memantaskan diri, menjaga diri dari yang bukan muhrim, lantas saya menyetujui karena itu perihal luar biasa baik. Maka saya mengikhlaskannya, maka saya memantaskan diri sesuai pedomannya.

Namun selang beberapa minggu, apa yang terjadi pada dirinya? Beliau tidak berkelakuan sesuai pemikiran-pemikirannya, obrolan-obrolannya, kerelijiusan agung dirinya. Beliau menjadi seseorang yang memang pantas dijauhkan.

Pertanyaan muncul, apa hanya saya yang memantaskan diri? Apa ia hanya perantara teguran Allah untuk saya? Siapa beliau itu sebenarnya? Bagaimana bisa berkata A kemudian berubah B? Dan peringatan macam apa yang akan datang padanya ketika sudah banyak orang yang tersakiti karena lisan dan perbuatannya?

Hingga kini saya mendalami pemikiran alasan saya dipisahkan oleh orang tersebut, tentunya karena Allah sayang pada saya, menjauhkan seseorang yang tidak baik untuk saya ke depannya dan dengan segala syukur saya mengatakan, “Alhamdulillah kita putus”.

Notes: A lot of sadnees in here, padahal namanya Ratu Komedi tapi isinya? Hemm, maafkan saya yang labil ini. Jadi mungkin namanya akan diubah jadi Ratu Labil? Ratu Genre? Ratu Cinta? Azek. Nggak, bercanda kok. Untuk ke depannya akan ada komedi-komedi lagi, saya nggak akan belengkok terlalu lama juga hahaha

So stay tune

Dan terima kasih untuk visitorkuuu ….

Emmmuahh ….

Rabu, 15 Juni 2016

Doa-doa Burukmu

Menyempatkan menulis di blog dulu sebelum menulis artikel lain, kali ini perihal doa.

Ketika kamu disakiti oleh seseorang kamu berhak mengadu pada Tuhanmu, namun seringnya yang keluar adalah doa-doa buruk untuk seseorang itu.

Jika semua doa buruk-buruk itu terkabul, kamu akan bahagia atau menyesal kemudian.

Penyesalan pertama karena doa itu dikabulkan, mungkin saja suatu hari akan berbalik padamu.

Penyesalan kedua, ketika doa negatif itu telah dikabulkan, kenapa waktu itu kamu tidak memilih berdoa positif untuk kehidupanmu?

Maka itu akan jauh jauh jauh lebih baik untukmu dibandingkan melihat orang yang menyakitimu sengsara.

Mulailah saat ini belajar sabar, ikhlas, bijak, berdoa dengan yakin dan intens, meminta perbaikan hati, kehidupan juga nikmat atas iman dll

Notes: berbagi pengalaman, ada beberapa hal yang membuat doamu cepat dikabulkan, pertama yakin kedua jangan egois. Yakin bahwa semua doamu akan dikabulkan. Dan maksud tidak egois, doakan orang-orang di sekitarmu juga.

Salam.

Selasa, 14 Juni 2016

Penipu Perasaan

Apa kamu tahu? Ribuan canda yang kamu berikan lampau, tak lagi membuatku tertawa pada hari ini. Bukankah tak mungkin sumber kebahagiaanku itu kamu?

Tidakkah kamu tahu? Kebiasaanku memikirkanmu, jadi kebiasaanku seterusnya, karena terlalu memanjakan pikiran masa laluku.

Apa kamu tahu? Betapa inginnya aku melihatmu sengsara setelah mendatangkan kesedihan yang bukan resolusiku pada tahun ini, namun sisa sayang selalu membatalkannya.

Tidakkah kamu paham? Banyaknya maaf yang kamu ucapkan, tapi tak satupun menancap untuk kuberi iba, karena sesungguhnya tak ada yang salah dari pertemuan kita.

Tidakkah kamu tahu? Terima kasihku semata hanya ingin membuatmu paham bahwa ada yang menghargaimu. Karena hingga kini, aku belum mampu menerima perginya langkah kakimu dari masa depanku.

Apa kamu merindukanku? Menangisiku? Melihatku? Sementara aku tidak melihatmu.

Apa kamu merasa aku manusia paling jahat ketika aku tertawa lepas pada orang lain?

Apa kamu mengingatku saat malam? Menginginkanku kembali? Bangun dari tidur jam dua malam berkeringat karena takut kehilanganku yang sudah terlanjur hilang.

Apa kamu memimpikanku tidak menghiraukanmu? Menjalin cinta bersama orang lain yang lebih baik dari segi apapun darimu, percayalah itu adalah seburuk-buruknya mimpi.

Apa sesekali kamu ingin menipiskan jarak? Berbincang tentang kehidupanmu yang terus berjalan, masalah-masalahmu yang tak henti ada, untuk bahan obrolan dan evaluasi diri, kemudian berteman baik bukan lagi tabu seperti yang kita canangkan dahulu.

Apa karena tanpamu aku tampak baik-baik saja, dan gemetar dari sikap kecanggungan dan prasangka-prasangka bahwa aku membencimu, kamu jadi tidak punya keberanian untuk mendekatiku?

Tapi sayang  …, kita adalah sepasang penipu perasaan paling ulung sedunia.

Senin, 13 Juni 2016

Kamu tidak Sakit Hati Sendirian

Hanya dalam sehari.

Saya menyaksikan sendiri hari ini tepatnya senin di tengah mata kuliah Projek Manajemen. Teman saya menangisi mantannya yang terlalu intens dengan seorang wanita, setelah mendengar kabar bahwa mereka putus karena adanya perselingkuhan dari pihak pria. Dia sesegukan dengan suara yang ditahan padahal beberapa menit lagi ia akan melakukan presentasi di muka kelas. Sakit hatinya masih baru dari kedalaman cintanya yang harus ditarik paksa.

Sementara tiga puluh menit menuju tengah malam, seorang teman bercerita lewat aplikasi chat tentang kekecewannya pada kekasihnya, saya paham deritanya, sesaknya, tangisnya meski hanya diselipkan emoticon, saya menenangkannya sebentar, dan berdoa semoga esok nasihat saya membuatnya mengubah pemikirannya.

Dan selalu ditiap mata pelajaran kuliah, saya harus menyantap mantan saya bercanda mesra dengan teman wanita lainnya, yang lebih cantik dan mampu berkomunikasi dengan baik apapun candaan yang ia buat, yang menyentuh tangannya yang dulu sering tak sengaja tersentuh oleh saya, yang tatapannya dulu tak pernah luput dari tatapan rasa sukanya kepada saya, yang lawakan-lawakannya membuat saya melupakan bila suatu hari tak lagi bisa tertawa bersamanya.

Menyaksikan, mendengar, merasakan beberapa kisah ini dalam sehari, apakah kamu masih menganggap bila yang berduka hari itu hanya kamu?

Kamu tidak sakit hati sendirian.

Jangan bersedih!

Notes: Bagi kamu yang sedang bersedih atau membutuhkan teman curhat, bisa kirimkan cerita kamu ke email saya penulissheena@gmail.com mudah-mudahan saya bisa menjadi teman sekaligus pendengar yang baik untuk kalian.

Selasa, 17 Mei 2016

Landasan Bahagiamu


Sebagai penulis novel ketika terluka mental atau batin, cara saya mengungkapkan kesedihan yaitu lewat menulis komedi. Ketika kesedihan saya menghasilkan karya, dibaca dan diapresiasi ketika itu saya sembuh. Karena saat saya berbagi kebahagiaan lewat tulisan, saya percaya akan ada seseorang lain di sana yang mempunyai tujuan serupa untuk membahagiakan saya.

Kebahagiaan itu harus ditarik sesudah kekecewaan mendalam. Ketika kamu mampu paham bahwa kekecewaan nggak membuatmu berkembang, aktivitas seratus persenmu teralihkan, menggerogoti dirimu yang ceria, kamu mencari cara untuk kembali pada kebahagiaan, karena kecewa itu nggak ada yang abadi.

Berbincang tentang kebahagiaan dan kesedihan, saya pernah bertanya pada seorang teman cara supaya kita bisa menjadi sumber kebahagiaan dan kesedihan bagi diri sendiri, bukan melulu orang lain.
Yang saya maksudkan, ketika kamu berkumpul dengan sahabat, sahabatmu itu humoris parah, kemudian ketika kalian pulang, tawa itu nggak bertahan karena sumber kebahagiaannya sudah pergi. Kamu jadi kesepian, kesedihan datang. Dan kembali, orang itu lagi-lagi menjadi sumber kesedihan kamu.

Teman saya sempat kebingungan, tapi bagusnya dia jawab dengan baik dan religius.

Dia menyampaikan, bahwa sumber segala kebahagiaan dan kesedihan berawal dari hati dan sang pembolak-balik hati hanya Allah SWT. Jadi dekatilah Allah, minta pada-NYA agar mengganti kesedihan dengan cahaya Al-Quran, itu konsepnya. Kalau ikhtiarnya, buat diri sendiri sibuk dengan hal yang berguna, disaat sedih terima dengan ikhlas, lama kelamaan hati akan bertambah kuat dan kesedihan yang ada kini nggak akan bisa menyakitimu lagi.

Jadi sumber kebahagiaan dan kesedihan kamu bukan lagi bergantung pada makhluk tapi pada Sang Pencipta. That’s the key.

Di novel karangan saya Happiness Theory, saya pernah menuliskan bahwa bahagia itu dari pikiran. (Jawaban lain yang saya benarkan namun seringnya lupa diaplikasikan ke kehidupan, bahwa bahagia itu bersyukur apapun yang didapat dan terjadi).

Mengenai bahwa pikiran mempengaruhi sebagian besar aktivitas kebahagiaanmu, ada studi yang dilakukan Arbie Sheena berdasarkan pengamatan dari Universitas Kehidupan. Kesia-siaan itu ada dua hal: Bicara dan pikiran yang sia-sia.

*Bicara yang sia-sia, seperti kamu bergosip tentang keburukan seseorang padahal belum kenal secuilpun.

*Pikiran yang sia-sia, memikirkan sesuatu yang membuatmu nggak antusias, menghambat kinerjamu, kegalauan, kepesimisan, hal-hal belum kejadian tapi sudah kamu prediksi duluan berdasarkan ilmu pengetahuanmu tentang realitas yang minim.

Dan pikiran-pikiran itu membuat kebahagiaanmu tertunda.
Sementara dari seorang dosen yang ia kutip dari sebuah buku, orang nggak bahagia karena fisik dan otak nggak menyatu. Fisiknya tinggal disebuah tempat tapi pikirannya ke mana-mana. Saya sering melihat orang-orang yang nggak ‘menyatu’ tersebut, contoh terdekatnya emak saya.

Tiap kali saya menyetel televisi, emak yang lagi rehat masak pasti muncul, ambil remot terus ganti channel gosip-gosip, kemudian saya tinggal ke kamar. Ketika saya dengar acara itu berganti iklan, saya kembali lagi ke depan tv, dan melihat emak termenung di sana.

Dan ketika saya tegur, “Emak ngelamun?” dengan nyolot emak membalas, “enak aja, orang lagi nonton tipi.”

“Lah, tapi itu iklan, Mak, ngapain ditonton?”

Kemudian emak spontan ambil remot, mengganti channel gosip-gosip lain. Apa saya harus berspekulasi emak sukanya nonton iklan?

Bukan, saya rasa karena emak sedang melamunkan sesuatu hingga gagal fokus pada sesuatu yang di depannya.

Saya juga sering datang ke acara seminar, kajian atau ceramah. Penonton yang menyimak mungkin cuma lima persen, sisanya menyimak semenit, kemudian pikirannya ngambang, nyimak dikit terusnya pikirannya lari-larian lagi.

Ketika seorang teman saya ajak diskusi, dia bilang, “emang barusan bahas apa, sih?” Lah …, dalang-dalang …. (beda cerita kalau pengisi seminar tersebut bisa angkat suasana).

Ingat! Kesulitan fokus sering mengganggu karena kamu terlalu memanjakan lamunan.
Pikiran yang sia-sia.

Biarkan saya bernostalgia dengan pertanyaan, jadi …, apa teori kebahagiaanmu?

*Pembacaku, di artikel selanjutnya saya akan berbagi dongeng tentang Desa Tawa dan Desa Duka.

Sabtu, 23 April 2016

KENAPA PUTUS? Selamat menjomblo, welcome, welcome!

KENAPA (dalam KBBI):  kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan.

KENAPA (dalam KGB, Kamus Gue Banget): kata tanya untuk membuat seseorang harus beralasan tentang kehidupan pribadinya untuk konsumsi seseorang yang ingin mengetahuinya.

Pertanyaan, KENAPA PUTUS?  Yang ditekankan di sini. Di sini yang dimaksud adalah mushola kampus ketika menulis artikel ini saat menunggu mata kuliah Character Building di selasa siang yang panas.

Mengingat-ingat saat pacaran pengumbaran kemesraan di sosial media sudah dalam tahap eksream. Setiap pagi, siang, sore, malam, subuh-subuh, hari-hari sosial media kamu selalu diwarnai status-status selamat pagi, siang, malam dari kamu untuk si dia.

Status kasmaran bahwa dia yang terbaik, yang paling manis, yang paling cakep, juara di hatimu, paling dirindukan, dan dialah prediksi semumu bahwa kedatangannya adalah pelabuhan terakhirmu, nggak pernah luput juga.

Dan mari kita terlusuri siapa saja pengkonsumsi statusmu?

Teman SD, SMP, SMU, kuliah, kantor, mantanmu yang ketiaknya bau kaki tapi kakinya bau ketiak, tukang seblak basah dan soto mie yang rajin nyengir namun alay, temanmu yang baik, musuhmu, seseorang yang diam-diam naksir kamu atau naksir pacar kamu tapi kalian nggak peka.

Merekalah yang setiap pagi sarapan dengan status kamu duluan dibanding nasi uduk pakai semur kentang. Mereka yang setiap siang makanin statusmu sebelum cemilin kertas-kertas tugas kuliah. Mereka yang setiap malam menyantap hidangan statusmu sebelum sadar kehabisan nasi di rice cooker.

Dan anggaplah sebagian besar dari mereka, jomblo.

Tentu akan ada banyak perasaan lalu-lalang selama mereka baca status kamu. Ada yang turut bahagia—berharap hubungan kalian harmonis sampai akhir. Ada yang nggak peduli. Sementara yang paling tidak kamu inginkan di tengah kebahagiaanmu adalah …, perasaan dengki dari mereka karena sikap berlebihanmu dalam mengumbar perasaanmu.
Ingat! Ini dunia di mana nggak semua orang menyukaimu.

Sesuai doa-doa kedengkian mereka yang tersamarkan, akhirnya karena suatu kejadian kamu dengan si dia putus. Dan ketika putus orang-orang yang tak paham dengan tingkah kasmaran kalian terutama pembicaramu di belakang, akan saling bertepuk tangan …, untukmu.

Putus …,
Putus …,
Putus ….
Tenang dulu, kalem.

Ketika status hubunganmu di sosial media berganti menjadi empty, mereka yang hobi membututimu bertanya-tanya dalam hati kemudian pertanyaan tentang, “KENAPA PUTUS?” akhirnya di mulai.

Pertanyaan terawal dimulai dari sahabatmu sendiri yang kamu jadikan ladang curhat, “kenapa putus?” Kamu dengan senang hati dan fasih menceritakan semuanya hingga air matamu kering, motivasi dari sahabatmu membuatmu lega, seolah mampu menjalani hari seperti biasa lagi, meski masih perih.

Tapi bagaimana kalau kamu nggak punya sahabat?

Ada seorang teman yang sekadar teman bermain bertanya, “kenapa putus?”

Jawabmu? Pasti menggantung, “emm, gue emang lagi pengin libur pacaran dulu.”

Temanmu yang kepo itu tampak nggak puas, meminta jawabanmu sambil mengguncang-guncang tubuhmu, “kenapa kalian putus? Ayo, dong kasih tau ke gue doang, nggak gue sebarin ke mana-mana?”

Kamu tetap diam.

“Kalau gitu,  siapa yang putusin duluan?”

Reaksimu?

Setelah mendengar kajian oleh dosenmu bahwa membunuh itu dibolehkan berdasarkan logika, kamu pasti ingin membunuhnya, namun ternyata spritual Q-mu lebih besar pengaruhnya. Jadinya kamu hanya dapat menjawab sambil menggeleng tersenyum ikhlas, “kita emang nggak cocok aja.”

Ya, jawaban versi global bahwa kalian memang nggak cocok adalah yang paling tepat, untuk sekarang. Cukup perih ketika putus, dan harus disirami garam dengan pertanyaan, ‘kenapa putus?’, bukan?

Selesai dengan satu orang, teman lamamu yang kurang update bagian ketiga berbalas pesan padamu suatu hari, “gue baru jadian sama temen sekelas, nih. Double date yuk!”

Bagimu itu adalah ajakan kepedihan baru.

Ketika temanmu yang dulu kamu hina jomblo sekarang punya pacar, sementara dulu kamu yang punya pacar sekarang jomblo, kamu mulai sadar bahwa bumerang akan kembali ke pemiliknya lagi. Ingat! Ini dunia di mana semua hal dapat berubah dalam sedetik saja.

Kamu pun menjawab, “kayaknya nggak bisa, deh. Nggak biasa double date.” Demi menyembunyikan status barumu tersebut dan menghindari pertanyaan, “kenapa putus?”.

Wahai kekasih yang dulu sering kamu banggakan dan sekarang kamu tutupi fakta-faktanya, agar kesanmu dan kesannya baik. Katakanlah pada banyak orang yang penasaran dengan putusnya hubungan kalian dengan bijak, “gue banyak dapat pelajaran sewaktu berhubungan sama dia, cuma aja dia kurang tepat buat gue ke depannya, dan gue nggak baik buat dia ke depannya. Pertemuan singkat itu udah cukup buat gue kenal dia kayak gimana, dan dia kenal gue seperti apa.

“kita pisah dengan baik. Kita nggak berlomba-lomba mencari pengganti, dengan sengaja mencemburui hanya ingin melihat respon kadar cinta masing-masing, karena …, masih ada hati yang harus selalu dijaga.”

Dan temanmu pun yang ‘mengerti’ akan berhenti menanyakanmu lebih lanjut.

Nggak semua temanmu yang bertanya hal tersebut memang sekadar pengin tahu, tapi mungkin memang ada perasaan yang turut khawatir karena dulu mereka pernah merasakannya juga.
  

Intermezzo: saya mohon maaf sebesar-besarnya pada seseorang yang mungkin saja bersangkutan dan kebetulan atau sengaja stalking blog saya kemudian tersinggung, maafkan kesalahan saya seluas-luasnya.