Minggu, 06 November 2016

Mars Partai Perindo, enyahlah dari benakku!





Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Segitu aja lirik mars sebuah partai tereksis yang bisa gue kasih.

Ok, cukup, cukup! Sekarang marsnya jadi terngiang-ngiang, kan!

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Stop! Stop! Stop!

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Tidakkkkkk!!!!

***

Sebelumnya, gue membahas tentang sebuah sinetron yang kepemilikan hak tayangnya jatuh kepada stasiun televisi si pionir partai tersebut. Setiap segmen sinetron usai, iklan akan mengambil alih waktumu untuk pergi sejenak dari televisi untuk buang air, nyemal-nyemil, main game android, atau stalking gebetan yang ternyata sedang ta’aruf dengan wanita lain (salam hidup penuh curhat colongan!). Kita disuguhkan berbagai iklan, dari iklan shampo, sabun cuci, balsem, sim card, dan yang paling krusial adalah iklan sebuah partai. 

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Bang stop! Stop! Stop! Kiri, kiri, kiri!

Oleh perindo, oleh perindo, jayalah Indonesiaaaaa ….

Bhaayyy!!

Untuk pada akhirnya terjadi tulisan ini, gue udah terlalu banyak mendengar, membaca merasakan energi komplain perihal iklan yang tayangnya seenak bapake. Kenyamanan gue dalam menonton dan mendengarpun dianiaya dengan keadaan terpaksa menerima.
Di samping para kontra, pasti ada pro yang jumlahnya satu berbanding seribu rakyat Indonesia yang geram. Salah satu yang pro yaitu keponakan gue berumur sembilan belas bulan. Tiap kali dia lagi bercanda sama engkongnya, lagi makan, ngacak-ngacakin barang, atau lagi nangis kemudian iklan itu tayang, semua aktivitasnya tiba-tiba berhenti dan pandangannya langsung beralih ke televisi sembari menyenandungkannya (karena keponakan gue belum fasih bicara).
Di saat anak kecil mainstream lebih seneng lagu balonku, cicak-cicak  di dinding, kingkong yang baik hati, keponakan gue udah khatam mars Partai Perindo (bangga!). Gue juga nggak akan terlalu memusingkannya karena ketika dia sudah kenal boyband atau girlband seleranya pasti akan berubah, tapi gue sebagai tante akan terus memantaunya sampai dia memahami bahwa nggak ada yang boleh mewarnainya, kecuali orang-orang tertentu, kemudian dia akan mewarnai orang-orang dengan warnanya sendiri.


Note: mungkin endingnya nggak nyambung, sok berhikmah banget. Eensinya yang mau gue hadirkan, ketika kalian menyukai sesuatu pasti hal yang kalian suka itu akan mewarnai kehidupan kalian, entah itu baik atau buruk dan kemudian kalian akan menjadi buta atas keterpengaruhan hal tersebut. Dan ketika orang-orang ‘tertentu’ menjadi pengecualian, maksud dari orang tertentu adalah, orang yang bisa dipercayai untuk mewarnainya lebih baik, kemudian dia akan membawa pengaruh yang baik untuk orang lain.

Sinetron Anugerah Cinta






Naura dan Oki, duo bersaudara miskin, soleh dan solehah, tabah, tapi mukanya kebule-bulean, dan alisnya disulam ini sama-sama merantau ke Jakarta demi mencari orangtua kandungnya. Selama berada di ibu kota yang kejam, Naura mendapat pekerjaan di kediaman Pak Hutomo sebagai pembantu, APA? IYA! PEMBANTU!
Karena alis Naura, eh, maksud saya karena kecantikan, kesucian, kelembutan, ke maha sabarannya, anak lelaki pak Hutomo bernama Arkha pun jatuh cinta padanya, vice versa pada Naura. Akan tetapi, jatuh cinta di tengah latar belakang yang berbeda menimbulkan konflik yang mana selama dua jam sinetron ini berjalan, selalu ada makian, derita, tangisan, doa-doa yang nggak kunjung di ACC, penganiayaan serta kutukan sinis dari Ibu Arkha, adik Arkha (Tiara), calon istri Arkha yang bohai dan kaya raya tapi galak (Kinta) serta ayah dan ibu Kinta.
Setidaknya Naura bisa bernapas lega karena cinta Arkha tidak mudah goyah selama puluhan episode, serta dukungan dari ayah Arkha yang arif, bijaksana dan senang melotot bila terkejut.

***

Bagaimana setelah membaca sinopsis di atas? Membuat hati kalian tergugah dan rasanya ingin membalas perbuatan kejam keluarga Arkha serta Kinta? Jangan begitu ah, jangan kayak emak-emak gang Lebak Sari yang buta arah gitu.
Kegandrungan di rumah tentang sinetron Anugerah Cinta lagi memuncak bukan main, gue yang tinggal berdua dengan ayah dan emak sebagai anak bungsu yang ditinggal kakak-kakaknya menikah, menjadikan televisi sebagai penghibur ketika kesepian, teman tontonan tiap kali makan atau tempat enak buat ngelamunin seseorang (eh?).
Emak adalah pembawa virus terbesar Anugerah Cinta eksis di rumah, awalnya emak bukanlah pecinta sinetron kayak emak-emak rempong di sekitaran gang Lebak Sari, gue sempet bangga-banggain emak ke semua orang kenalan gue, kalau emak nggak pernah nonton sinetron, tontonannya kalau nggak gosip, ya …, sidang Jessica, pokoknya bukan sinetron! Tapi terkejutnya gue ketika emak yang sekarang punya televisi sendiri di kamarnya, mulai ketagihan sinetron dan ditonton penuh dari awal sampai habis, bahkan OST Anugerah Cinta yang dinyanyikan Indah Dewi Pertiwi emak sampai hapal, gan.
Jam tayang Anugerah Cinta yang panjang dari jam 21.00 sampai 23.00 membuat ayah terganggu, sering banget gue denger ayah yang mau tidur ngomelin emak supaya matiin TV, tapi emak tetep keukeuh nonton sampai habis. Gue cuma bisa ketawa sambil geleng-geleng karena ngeliat mantan yang selalu kabur tiap kali liat gue #eh?
Kemudian selang beberapa hari, ayah, emak dan gue kumpul di ruang keluarga, ayah di meja makan, emak lagi berbaring beralaskan karpet, dan gue iseng puterin channel televisi nyari acara yang rame. Skakmatlah sewaktu beralih ke channel RCTI yang lagi tayang sinetron Anugerah Cinta, emak langsung bilang, “udah itu aja Bie, rame.”
Gue menghela napas, ngalah. Nggak perlu ditentang, gimana kalau gue dikutuk kehidupannya kayak Naura nanti, gan? Gue ambil hape mainin Cooking Fever yang levelnya udah sampai 65 *bangga*, sambil tengok-tengok cerita Anugerah Cinta, gan #eeaaa
Fokus cerita, Naura berdoa sambil nangis-nangis karena penderitaannya nggak kunjung lenyap, ibu peri juga nggak dateng-dateng, cucian numpuk, dateng lagi cewek tomboy bernama Alea yang naksir Arkha juga datang ke Laundry tempat Naura kerja, injek-injek baju yang udah mati-matian Naura cuci. Naura pun menangis sambil beristighfar.
Hikmahnya? Sabar. Orang sabar, episodenya lebar.
Baru pertama kali gue nonton sinetron sampe bikin otak gue pegel, bukan karena betapa sulitnya ceritanya dicerna melainkan betapa lelahnya gue sama kehidupan Naura. Karena kepenatan tersebut, maka gue pun berdiri hendak meninggalkan ruang keluarga, tapi tiba-tiba ayah memprovokasi, “nih sinetron rame juga ya.”
WUAAATTTTT!!!!
Dan begitulah akhirnya pecinta sinetron lainnya terbentuk.
Kini ayah yang menjadi pemanteng setia sinetron Anugerah Cinta kedua dalam sejarah kehidupan berumah tangga. Kini ayah yang menjadi pengusir disaat gue pengin nonton bioskop trans tv. Kini ayah menjadi pendukung bagi emak. Kini segalanya telah berubah.
Pertanyaan, “kapan Anugerah Cinta tamat?” bukan semata-mata karena gue nunggu-nungguin akhir kisah Naura, melainkan menantikan kebebasan dalam menonton itu ADA!

Kritik soal pesinetronan Indonesia tercinta:
Setelah gue baligh, sinetron nggak ada pegelnya menayangkan cerita mubazir dari tangan-tangan sineas yang memerlukan produksi minim dan keuntungan lebih. Biar adil gue nggak akan membandingkan sinetron di sini sama di luar, coba dulu tengok acara televisi tahun 90-an yang lebih variatif dan kreatif. Sinetronnya nggak kepanjangan, konten acara musiknya jelas, game shownya seru, segalanya dibuat dengan baik sekaligus komersil.
Seharusnya di zaman para youtubers keluar (yang konon katanya sebagai pemecah masalah dari kepenatan media televisi), sineas pertelevisian nggak pandang rendah daya tangkap masyarakat indonesia dengan menyajikan acara-acara dengan konten berat. Atau seenggaknya belajar dari negeri gingseng, yang dramanya makin lama meningkatkan tema dari ringan, agak berat, ke berat sekali, dan seluruh stasiun televisinya solid agar mutunya bertambah baik. Karena itu ada Korean Wave.
Dan kemudian channel sebelah kebetulan menayangkan telenovela jadul kayak Esmeralda, Marimar, Cinta Paulina. Gue nggak fokus sama nostalgianya, tapi betapa pedihnya gue menyadari bahwa telenovela yang diajukan channel sebelah itu mirip persinetronan Indonesia zaman sekarang. Iya, miris sekali menyadari bahwa sinetron benar-benar mengalami kemunduran masa.
Terlepas dari itu, gue percaya suatu hari pertelevisian indonesia akan membaik kembali.

Regards, Arbie Sheena
3 November 2016

Minggu, 30 Oktober 2016

Tips Menyembuhkan Racun Cinta Mantanmu

 Ciyeeee …, tentang mantan lagi *biar mantan bahagia dong*


Banyak banget tersebar artikel cara melupakan mantan di google, dari mulai bakar atau jual barang-barang pemberiannya, anti pergi ke tempat-tempat yang pernah kalian kunjungi, hapus semua fotonya, blokir semua sosial medianya, cari pengganti yang sebelas dua belas kayak Song Jongki, semuanyaaaa …, tentang melupakan. Sayangnya, saya rasa mayoritas cara itu nggak berguna seperti rasa kangen kalian sekarang yang nggak ada lagi penampungnya. Cara itu akan berefek pada keenggakdewasaan kalian dalam menanggapi kekecewaaan. Kemudian melupakan seolah-olah jadi beriringan dengan permusuhan.

Sebuah pertanyaan akan muncul kepada para move on-ers, kenapa sih kalian bertekad ngelupain mantan? Apakah ketawanya, nada suaranya, tatapannya, serta keberadaannya sudah mengganggu fokus kalian? Coba diserapi lagi, mungkin bukan mau melupakan, melainkan keinginan menghilangkan rasa sayang, cinta, kangen yang terlanjur melekat, terlebih kegugupan ketika kalian berpapasan, belum lagi episode kabur-kaburan ketika nggak sengaja ketemu dan kini semua itu terkontaminasi rasa benci karena sesuatu kesalahan di masa lalu. Patut kamu sadari, penyembuhan itu nggak instan, penyembuhan itu tergantung kamu, bukan waktu.

Lantas apakah ada penawar yang benar-benar akurat supaya perasaan kalian stabil kembali?
Ketika belum paham caranya, saya menggunakan beberapa tips dibawah ini dan cukup mampu sekadar mengalihkan perhatian saya dari sang mantan:

Pertama, nonton film horor!
(Warning: Ini nggak berlaku bagi mantan kalian yang wajahnya lebih horor dari dedemit di film-film)
Yang biasanya mandi sengaja dilama-lamain karena mau ngelamunin mantan, jadi buru-buru siram-siram badan karena takut diparanin dedemit. Yang lagi tidur-tiduran mau kenang mantan jadi buru-buru bangun takut gulingnya berubah jadi pocong. Yang mau galau sendirian di taman gelap-gelap gara-gara mau mikirin mantan, buru-buru baca yasin karena takut ada dedemit muncul. Simplenya, pikiran kalian akan teralihkan “sementara” dari mantan ke dedemit *applause*.

Kedua, nonton drama korea!

Masih seputar menonton, drama korea yang paling saya rekomendasikan untuk mengalihkan pikiran kalian. Setelah nonton Jongki, Won Bin, Jongsuk, kalian masih bisa keingetan mantan juga? Terlalai! Eh, terlalu!

Ketiga, pindah kota!
Ini salah satu cara kalau kalian sudah benar-benar menyerah akan bau-bau kerinduan kalian pada sang mantan. Nggak perlu takut dibilang pengecut, gagal fokus, kalah dengan perasaan. Jika pindah kota mampu membuat penyembuhan dirimu lebih cepat dan maksimal, maka lakukan saja.
Tapi bagaimana kalau kamu nggak punya kota? Ya, pindah ke kota tua, dengan begitu kenanganmu akan menjadi tua juga *fans menjawab: eaaaa*.

Keempat, pindah kuliah malam!
Terinspirasi dari seorang teman wanita yang diam-diam menyukai teman sekelasnya yang gampang banget ngumbar perasaan, ketika si wanita ini sudah baper, si pria malah jadian sama wanita lain. Karena terlalu sakit hatinya, akhirnya si wanita pinda kelas malam agar fokusnya pada belajar nggak terganggu.
Seperti halnya pindah kota, kalau menyingkir dari penyakit hati membuatmu lebih baik, maka kerjakan saja.

Kelima, jadikan karya!









Jika kamu penulis, jika kamu adalah orang yang selalu peka pada peluang, jika kamu merasa pengalamanmu nggak boleh disia-siakan, maka tuliskan!  Kirim ke penerbit, dapat royalti, jadi bermanfaat.
Kalau kamu punya passion penyutradaraan, beli kamera amatir, mata-matai mantanmu dengan kamera tersembunyi, bikin vlognya, kemudian posting di youtube *ditimpukin*

Keenam, berharap amnesia!

Rasanya seru sekaligus serem kalau otak manusia diciptakan dengan SD Card. Seru karena kamu bisa menghapus ingatan seputar seseorang yang menyakitimu saja, dan mengerikan kalau mungkin SD Cardmu terkena virus patah hati dan nggak bisa dibuka selamanya.
Ok, kalau kamu sudah sampai ketahap ini, kamu bisa segera kirim surel ke email saya, karena sepertinya kamu butuh teman.

Akan tetapi …, ketika saya mulai menyadari sesuatu setelah sekian lama, bahwa cara-cara di atas kurang akurat dan justru malah menipu perasaan yang seharusnya dibahagiakan dengan tulus, cara-cara di atas kurang layak untuk disebut cara ampuh. Saya pun mulai mencari-cari jawaban-jawaban di pengalaman banyak orang yang turut serta merasakan namun dengan pemikiran dan kedewasaan yang beragam.

Pertama, menjadi sumber kebahagian dan kesedihan bagi diri sendiri!
Setelah putus segalanya jadi terasa sensitif, bukan?
Menerka-nerka kehidupannya setelah tanpamu, stalking status sosial medianya yang nggak lagi mengungkit-ungkit kamu. Melihat status onlinenya di aplikasi chat. Kamu lega ketika dia offline, karena nggak ada kemungkinan dia lagi ngobrol dengan seseorang yang kamu ceburui. Di sisi lain, kamu mewanti-wanti, saat offline mungkin dia sedang jalan dengan seseorang baru.
Hilangkan semua derita pikiran, dan mulailah bertanya, “bagaimana agar saya menjadi sumber kebahagiaan dan kesedihan bagi diri sendiri, bukan melulu orang lain?”
Bahwa sumber segala kebahagiaan dan kesedihan berawal dari hati dan sang pembolak-balik hati hanya Allah SWT. Jadi dekatilah Allah, minta pada-NYA agar mengganti kesedihan dengan cahaya Al-Quran, itu konsepnya. Kalau ikhtiarnya, buat diri sendiri sibuk dengan hal yang berguna, disaat sedih terima dengan ikhlas, lama kelamaan hati akan bertambah kuat dan kesedihan yang ada kini nggak akan bisa menyakitimu lagi (source: teman).
Jadi sumber kebahagiaan dan kesedihan kamu bukan lagi bergantung pada makhluk tapi pada Sang Pencipta. That’s the key.

Kedua, pahami bahwa semua orang pasti akan canggung ketika menghadapi momen ‘pertama kali’ dalam hidupnya!
Setelah jadi mantan, kecanggungan untuk mendekat dan berbicara sangatlah wajar. Intinya jangan banyak berspekulasi dan terbawa perasaan bila dia mendekat, barangkali dia perlu untuk berbincang padamu sebagai teman. Kalau kamu nggak memikirkan kelemahan atau kekuatan, suka atau nggak suka, kamu akan mampu akrab dengan siapa saja.

Ketiga, jagalah perasaannya meski dia tidak bisa menjaga perasaanmu!
Jika memang sikapnya terlalu kekanak-kanakkan untuk dilihat seperti mencemburu-cemburui, memanas-manasimu, itu hanyalah tanda dia masih mau kamu perhatikan dan melihat responmu. Kalau kamu memanas karena hal sepele itu, itu bukti dia berhasil, terasa lega dan bahagia sementara.
Cukup sampai di situ perang mental kecemburuannya, biarkan, diamkan, abaikan, kamu nggak perlu ikut kekanak-kanakkan juga, bukan? Terlebih sungguh kejam membalas menyakitinya yang mungkin akan terluka lebih parah darimu. Berprinsip nggak melakukan hal serupa akan membuatmu bahagia, karena ketika kamu berhasil menjaga perasaan orang lain, Tuhan pasti akan menjaga perasaanmu juga.

Keempat, perbaiki diri dan berubah penampilan!
Memantaskan diri selalu menjadi hal utama bagi kamu yang sadar pentingnya mencintai diri sendiri setelah dikecewakan, menyita waktumu yang mengalami kemunduran pasca ditinggalkan. Kualitas waktumu semakin meninggi, dia tak lagi menjadi pembuang waktumu yang berharga, maka ambillah kursus apapun, ikut komunitas-komunitas positif, tidak ada yang lebih hebat dari pencapaian diri, bukan? Seiring waktu perbaiki penampilanmu, cara bicaramu, gestur serta pemikiran.
Pencapaian setelah putus bukanlah berhasil mencemburi-cemburuinya kemudian mantanmu memelas minta balikan, namun pencapaian terbaik pasca putus ketika kamu memberikan kesan padanya bahwa ditinggalkan tidak membuatmu patah melainkan berkembang karena kamu adalah seseorang yang kuat dan pantas untuk dipertahankan.

Kelima, tidak perlu menyindir di sosial media!
Dulu saya tipe manusia yang suka sekali menyindir seseorang di masa lalu dengan dikomedikan, atau jadi bahan lawakan teman pada saat kumpul. Atau yang paling parah di masa zaman labil, saya memblokir seluruh sosial media sang mantan karena muak lihat status juga wajahnya. Tapi yang terjadi mantan saya jadi lebih arogan dari sebelumnya.
Saya mendapat pelajaran kalau hal itu akan membuat kesanmu kekanak-kanakkan, maka biarkan saja, mungkin juga bisa hapus akun-akun sosial media untuk sementara, jika kamu orang yang mudah terganggu, jika kamu baru saja putus.

Keenam, jangan dengarkan dia yang tidak mengerti dirimu atau mantanmu!
Dalam jangka waktu putus, nggak luput akan ada pertanyaan tentang alasan kalian berpisah. Setelah kamu mengutarakan penyebabnya, ada beberapa teman yang mungkin saja akan memprovokasimu, yang membuat amarahmu memuncak dan kebencian yang tadinya tidak ada jadi singgah.
Jadi setelah berpisah usahakan untuk tidak mendengarkan kisah tentangnya, ataupun gampang terprovokasi karena ketika putus, apapun alasannya, sama sekali tidak berarti. 

PS: Segitu pengalaman saya selama ini yang bisa saya bagikan. Ada satu pesan yang teramat penting dari saya, “mungkin kamu berpikir hanya kamu yang patah hati, hanya kamu yang berjuang untuk memperbaiki diri, hanya kamu yang menipu perasaanmu saat di hadapannya, perlu kamu ketahui, bukan hanya kamu tapi sang mantan di seberang sana juga”.

Salam, Arbie Sheena

30 Oktober 2016

Rabu, 21 September 2016

Menulis adalah penyembuhan diri (1)

Saya sudah menulis sejak september 2008, tahun paling produktif, sedang antusias-antusiasnya, imajinasi sangat tinggi, full time writer, namun sayangnya saat itu media masih belum mendukung. Akan tetapi hal tersebut bukan penghalang untuk mewujudkan mimpi saya, saya menulis di banyak buku tulis atau jurnal yang biasanya diberikan kakak sebagai oleh-oleh dari kantornya.

Di tahun tersebut kira-kira ada belasan naskah yang saya tulis, yang berarti belasan buku. Gaya menulis saya waktu itu masih memakai sistem skenario absurd.
Semisal,

Johnny: Apa kabar lo? (dengan senyum)

Ade: Bae-bae aja.

Itulah yang terjadi kalau baru belajar menulis, belum paham faedahnya, tapi mau buru-buru menerbitkan buku. Semakin lama saya mengerti suatu hal bahwa kesuksesan tercapai bukan karena terburu-buru tapi dengan kekonsistenan. Saya masih harus banyak berlatih, membaca, mengambil pelajaran dari hikmah pengalaman, bagaimana menulis naskah yang penuh nutrisi sehingga pembaca dapat sesuatu setelah menyelesaikannya, referensi dan interaksi dari berbagai kalangan supaya tulisan saya ada RASA-nya, lho.

Suatu waktu di tahun ini saya sempat membaca tulisan amatir-amatir saya saat itu, nggak kaget lagi kalau naskah saya terasa hambar, permainan emosi di narasi nggak ada, padahal tokohnya ekspresif, dan diri saya yang saat itu justru bertekad untuk menulis tokoh yang nggak punya emosi tapi ada cita rasa emosinya, nah lho! Dan karena latihan itu terciptalah karakter Song Hyemi di Happiness Theory.

Semua buku yang berisi naskah saya masih tersimpan rapi di dalam lemari, ada beberapa yang dibuang setelah nggak lolos uji seleksi. Total awalnya belasan, sekarang jumlahnya dirampingkan karena lemari saya penuh. Cerita-cerita di naskah itu seputar remaja, sekolah, gaya hidup, sosialisasi dan pembullyan dengan sedikit bumbu cinta-cintaan.

Di buku lainnya saya menuliskan kurang lebih lima puluh lirik lagu, yang nadanya saya gumamkan di sebuah MP4 jadul yang saya beli sewaktu SMP (waktu itu sempat mengalami kerusakan, jadi seluruh gumaman saya hilang. Kok lucu, yah?).

***

Di tahun 2009, saya mulai sok-sokan tertarik menulis skenario film, banyak baca contoh-contoh skenario film, tips-tips dari penulis skenario senior, belajar otodidak tentang istilah penulisan di dalam skenario seperti INT, EXT, CUT TO, FADE IN, dan semacamnya, kemudian diaplikasikan ke dalam naskah dan hasilnya? Hanya penulis yang bisa mengerti.

Di tahun itu juga, kakak mulai membeli laptop lenovo, saya mulai menyolong-colong diwaktu kerjanya agar laptopnya yang disembunyikan dibawah tempat tidur bisa saya gunakan untuk menulis diam-diam. Iya, waktu itu menulis adalah pekerjaan ‘ilegal’ bagi orang rumah, definisi bekerja bagi keluarga saya yaitu bangun pagi, pakai-pakaian kantor, dan berangkat dari rumah, gajian sebulan sekali.

Saya mulai menyalin semua tulisan saya di buku ke MS.Word dan jeniusnya …, file-file naskah itu saya simpan di MP4 player dan ketika MP4 player mengalami error, usaha pengetikan naskah sekian lama itu lenyap semua. Sakit hati banget waktu itu (mungkin beberapa penulis pernah mengalaminya). Tapi saya teruskan menulis dari awal, saya berterima kasih dengan keambisiusan saya waktu itu. Sekarang masih ambisius, sih.

***

Hingga pada tahun 2011, bermodal handphone Sony Ericson K530i—ponsel batangan tapi bisa internetan dan videocall—bekas dari kakak, saya mulai mencari info lomba menulis yang bertebaran, kemudian ke warnet seminggu sekali untuk mengirim naskah. Sejam 4000, lumayan mahal di tengah kesulitan keuangan waktu itu. Perjalanannya lumayan jauh, kira-kira satu KM lebih karena warnet masih langka kala itu. Perjuangan waktu itu bikin saya terharu di hari ini.

Dalam sebulan saya mengikuti kira-kira sepuluh lomba cerpen, atau puisi, atau kadang-kadang artikel. Banyak kalahnya, menang sesekali dengan hadiah sertifikat atau pulsa beberapa puluh ribu. Di tengah perjuangan menulis untuk lomba saya juga menyicil untuk projek novel solo, projek serius pertama saya waktu itu adalah Happiness Theory konsepnya mirip dengan Cinderella, sesekali merevisi naskah absurd Meraihmu yang kini sudah diterbitkan juga.

Karena ponsel itu juga, saya membuat facebook, di sanalah saya mulai mengenal sebuah akun bernama Gravil Esidra yang mencari beberapa admin untuk akunnya. Terpilihlah saya, Sandra, Ucie, Kurnia, dan admin terbontot dan paling tampan yaitu Adit. Kami memulai dengan julukan, saya—Arbie Sheena: Comedy Queen, Sandra: Romance Queen, Ucie: Fantasi Queen, Kurnia atau sebutannya Kuncen: Horor Queen, dan Adit yang menyukai wanita 3D dan Percy Jackson dipanggil Acing alias anak kucing.

Kami mengalami pertemuan sosial media yang positif, banyak bercanda. Lantas dengan keeksistensian, kami membuat sebuah grup facebook yang saat itu amat hip dikalangan pengguna. Banyak juga grup-grup komunitas menulis lain yang lebih kece dan terbaik dibandingkan grup kami, namun kesolidan kami yang membuat kesetiaan itu terbentuk dan perkumpulan penulis pemula remaja paling terbaik se dunia maya menurut kami saat itu.
Tiap minggu atau dua minggu sekali sebagai admin, kami memberikan materi-materi tentang penulisan dari genre yang kamu tekuni, meskipun kami sadar masih banyak kekurangannya, atas apresiasi anggota grup Gravil Esidra membuat kami antuasias untuk mencari ilmu lebih dalam kemudian mengamalkannya pada mereka.

Di tahun 2012 saya mulai memenangkan berbagai lomba antologi (kumpulan karya) ada kurang lebih sembilan antologi indie yang ada tulisan sayanya telah diterbitkan. Di tahun itu juga sebuah penerbitan bernama Writing Revolution, mengadakan lomba novel, persyaratan harus mengirimkan outline, saya sampai bergadang membuat outline Happiness Theory selama sebulan, alhasil pahit sekali, saya kalah, menangis, di lomba itu pula titik awal mendapat pelajaran bahwa Tuhan membuang hal buruk untuk memberikan hal baik kepada saya.

Selang beberapa hari naskah itu saya ikutkan lomba novel lain, Elfbooks membuka lomba penulisan remaja dan saya mengajukan naskah Happiness Theory sebagai naskah andalan, tidak menyangka di akhir tahun saya mendapat berita kemenangan sebagai naskah pilihan editor. Tangan gemetar hebat saat itu, pencapaian luar biasa dari doa-doa tanpa bosan yang saya panjatkan telah di ACC. 

Kemenangan itu membuka jalan semangat saya untuk tak henti berkarya di tahun 2013. Kembali mengikuti lomba cerita pendek Hantu Gokil Jogja dari Diva Press, yang awalnya pesimis untuk mampu mengejar deadline dan akhirnya terkirim lima belas menit sebelum pengiriman naskah ditutup. Kemudian pengumuman tiba, saya kembali menang. Itulah jalan awal untuk menerbitkan Geng Ikan Asin dan The School of Comedy yang banyak dicintai kalangan remaja seluruh nasional hingga hari ini.

Selasa, 20 September 2016

Banyak kebaikan ayah yang tidak dimiliki kekasihmu

Definsi ayah tidak cukup hanya sebatas orangtua yang pergi pagi pulang malam demi menafkahi keluarganya. Ditiap pikiran anak, seorang ayah mempunyai makna berbeda di batin mereka. Satu-satunya pria yang mencintai anak perempuannya dengan tulus dan tanpa nafsu hanyalah seorang ayah. Namun kehadiran ayah sering terabaikan ketika ada cinta dari pria idaman yang hadir ke ke hatimu, padahal ayah sudah lebih dulu masuk ke kehidupanmu.

Ayah yang rela mengantar jemput
Meski panas, kehujanan, kedinginan, ayah adalah orang yang selalu memiliki kesabaran tanpa batas. Beliau mengantarmu dengan hati-hati dengan kakinya yang tidak sebugar dahulu, menjemputmu dengan motor bebeknya yang sempat mogok berkali-kali hingga kamu selamat sampai tujuan.

Ayah yang overprotektif
Tiap kali kamu keluar rumah, ayah adalah orang pertama yang menanyakan tempat kepergianmu, selalu berpesan agar kembali dengan selamat dan jangan terlalu larut. Hanya ayah yang menunggu di ruang tamu kepulanganmu, siap-siap menjemput kalau-kalau terjadi sesuatu, karena anaknya tidak mampu menjamin keselamatannya sendiri, karena ayah satu-satunya pria di dalam rumah yang siap melindungimu, meski fisiknya tidak sehebat itu, namun ia punya banyak nyali untuk melindungimu, ayah rela terluka untuk melindungimu.

Mengalah dalam segala aspek
Pernahkah kaliah lihat ayah menghabiskan seluruh lauk di meja makan? Ayah bahkan menyisakan lebih banyak jatah, agar generasinya lebih baik untuknya. Ayah jugalah yang meminta maaf duluan jika kamu tak bisa lagi diajak berdebat, hanya karena tak ingin hubungan kalian berantakan, karena sebesar itu ayah menyanyangimu.

Nasihatnya lebih baik namun selalu digubris
“Jangan pacaran dulu, fokus kuliah.”
“Dia baik kok, sering antar jemput aku, jadi ayah nggak perlu repot lagi.”
“Bukan begitu, ayah khawatir kuliah kamu berantakan.”
“Dia pintar, dia bisa bimbing aku.”
Enam bulan kemudian kalian putus, diselingkuhkan. Kamu pun menyesal tidak mengikuti nasihat ayah, hanya karena ayah terasa kolot buatmu. Ayah bukan orang yang ngambekkan ketika kalian bertengkar, ayah tidak akan menyalahkanmu.

Doa ayah selalu menyertaimu
Apa pernah kamu merasa tidak pernah berdoa untuk sesuatu namun hal tersebut datang begitu saja? Itu adalah doa ayah yang selalu meminta agar kamu sukses. Tiap kali kamu mencium tangannya, ayah dengan pelan berdoa, “selamat, semoga sukses.” Di tiap sujudnya, di setiap tilawahnya.

Orang pertama yang mengingat tanggal lahirmu
Ketika kamu kecil merengek dipestakan ulang tahun, ayah mengabulkannya, mengundang badut yang bisa sulap, rumahmu sekejap dihiasi balon-balon, mainan serta kue ulang tahun sesuai karakter berbentuk kartun kesukaanmu.
Namun ketika dewasa seringnya kamu mengingat ulang tahun kekasihmu dibandingkan ayah, kekasihmu kamu berikan kado yang besar, sementara ayahmu yang kecil. Tapi bagaimanapun ayah tidak pernah mengeluh.

Ketika memilih kekasih atau ayah, dahulukan ayah, karena prioritas ayah dalam mencintai adalah anaknya. Begitu pun seharusnya seorang anak.

Rabu, 17 Agustus 2016

Kemerdekaan Manusia Phobia Sosial


Kemerdekaan yang gue pahami paling sederhana adalah kebebasan. Kebebasan bisa diesensikan lagi bila seseorang terlepas dari segala tekanan, masalah dan urusan-urusan pelik lainnya. Pembahasan terkrusial kali ini mengenai “terbebasnya gue dari phobia sosial”. Phobia sosial sendiri dikenal dengan bahasa kerennya Sosial Anxiety Disorder yang mana bisa dikategorikan sebagai penyakit kecemasan yang ditandai dengan munculnya ketakutan pada situasi sosial, menyebabkan tekanan serta ketidakmampuan berfungsi secara normal dalam pergaulan sang penderita.

Phobia tersebutlah yang menggerogoti perkembangan mental sosial gue dari 2013 ke belakang. Banyak teori serta solusi yang bisa dibaca lima menit kelar, tapi percayalah prakteknya butuh bertahun-tahun. Cara satu-satunya yaitu banyak berinteraksi dengan berbagai orang.

Gue sedikit mengenang masa kanak-kanak yang menyebabkan phobia ini muncul.

Well, dari kecil gue adalah anak manja yang segala urusannya diselesaikan orang tua, yang segala kemauannya harus dituruti. Contoh sedikitnya, semisal gue nggak bisa kerjain pekerjaan rumah, kemudian orangtua gue bayar seseorang untuk menyelesaikan hal itu.
Lainnya, ketika semua nilai gue jelek, ibu akan memanipulasi omongannya kepada orang-orang sehingga gue dikenal baik, padahal waktu itu nilai ulangan gue semuanya enam bahkan ada yang lima (kalau ingat itu sekarang gue pengin ketawa, ibu itu luar biasa). Karena faktor-faktor itu, jam terbang berpikir mandiri maupun interaksi gue terhadap orang luar itu bener-bener payah. Gue tumbuh menjadi anak pemalu, takut tatap mata orang, nggak pernah bisa memutuskan perkara sendirian, takut salah, takut dibentak, pendiam, sering berpikir negatif dan gugupan.

Ya, itu phobia sosial, right?

Dan ketika nilai gue nggak sampai untuk masuk ke SMP negeri lagi-lagi orangtua gue memakai caranya agar gue bisa masuk ke sekolah yang bonafit. Tapi sayangnya, gue nggak cocok bergaul dengan anak-anak yang lebih cerdas, aktif, percaya diri. Terlebih lagi jam pelajaran yang gila-gilaan, kalau ada pelajaran tambahan bahkan bisa pulang mahgrib. Gue kesulitan beradaptasi dan homesick, nggak bisa keluar rumah terlalu lama terutama ditempat dan dengan orang-orang yang nggak nyaman. Sejak itu gue jarang masuk, udah nggak peduli sama belajar, belajar sekeras apapun tetep aja tertinggal, gue pun terlalu takut untuk bilang nggak nyaman dan pembullyan di sana. Bentuk ungkapan penolakan gue adalah dengan cara susah dibangunin tiap mau berangkat sekolah.

Akhirnya orangtua gue paham dan gue dimasukkan ke SMP swasta menengah kebawah, dan di sanalah gue merasa diterima, disayang, banyak tertawa, gue bahkan jadi bendahara OSIS. Di sana kita sama-sama, nggak pandang di dompet kamu ada uang berapa, ranking kamu berapa, phobia sosial gue sedikit demi sedikit tergerus. Sekolah nggak lagi jadi tempat menakutkan.

Dan gue perjelas, gue nggak benci belajar, gue hanya benci sistem di sekolah dan mengecam pembullyan yang membuat mental seorang anak melamban tumbuh dan melemah.

Dan pertanyaan, apakah sekarang gue benar-benar sudah terbebas dari phobia sosial?

Kalau ditanya kayak gitu jujur gue nggak bisa memastikan. Sampai sekarang praktek yang memakan waktu bertahun-tahun itu masih terus gue jalani. Selama ini saat berinteraksi dengan seseorang, gue udah nggak begitu gugupan lagi, gue bisa membahas apapun yang gue ketahui dengan panjang lebar, bisa bercanda tapi lebih sering garingnya, homesick terjadi tergantung keadaan, dan gue mulai gampang beradaptasi di beberapa tempat.

Dari phobia sosial ada kemungkinan gue sekarang loncat ke introvert, bahkan ambivert yang bisa swich ke ekstrovert. Gue selalu senang untuk memahami diri sendiri, berkomunikasi pada pikiran sendiri, akan menjauh dari hal yang nggak baik dan mengancam perkembangan mental terutama hati, dan mendekat pada sesuatu yang nyaman, menghargai hal-hal baik yang datang.

PS: Gue nggak menyalahkan cara didik orangtua, orangtua gue udah sangat teramat sabar menghadapi anak manja yang tiap hari bisanya merengek, banting-banting barang kalau nggak dapat apa yang dia mau. Dan gue nggak menyalahkan siapapun, bahkan nggak ada penyesalan. Gue malah bersyukur menjadi phobia sosial waktu itu, bukan jadi anak begajulan yang susah dibilangin. Terima kasih kepada doa-doa orangtua yang selalu menyertai.

Gue ingin menyampaikan pada diri gue yang dulu, “Bie, semua orang itu baik, nggak perlu takut, senyumin aja. Kamu sekarang punya senyum yang bikin orang lain ikut tersenyum juga. Orang-orang yang bikin kamu nggak nyaman, cuma jadi penyebab hidup kamu yang bisa kamu ambil hikmahnya dengan banyak dan bijak. Berterima kasihlah meski kamu disakiti, kalau nggak disakiti, kamu nggak akan belajar. Mentalmu nggak akan berteriak untuk minta tolong, ‘selamatkan saya, Bie’.”

Jumat, 24 Juni 2016

Konten untuk Blog yang Bapuk

Oh, ya ampun …, lihatlah betapa bapuknya blog saya. Betah desain burung berterbangan dengan latar coklat selama tiga tahun. Bie, kamu ngapain aja selama ini? Siapa yang sudah menyakitimu hingga kamu amnesia ngurusin blog? *bertanya pada burung-burung berterbangan*.
Saya pikir semua perlu jadwal agar teratur, dan memastikan konten setiap harinya yang memungkinkan esensi dari blog saya tertata, nggak melulu soal kebaperan yang bikin teman saya mules, tentang curhatan yang membuat visitor saya berkata, ‘nih, cewek baperan mulu!’, apalagi curhatan kebaperan tentang mantan yang membuat mantan saya, yah ..., makin menjauh dari pandangan saya akibat minus yang kian bertambah *hening melanda*.
Konten disesuaikan dengan hari dan ditentukan secara acak:

1. Senin ---> Tips-tips tipis-tipis bareng Arbie Sheena

Apapun saya akan angkat di sini, mulai dari tips menulis, memasak, menjahit, menyetrika, mengepel, nyuci piring, dan nggak luput adalah mengendarai motor dan hatimu *disenyumin Lee Min Hoo*
Mengendarai hati? *mikir lembek*
Ada history mendalam ketika saya memakai judul di atas, pada tahun 2013 saya dipercayai memberikan materi atau tips menulis tiap seminggu sekali untuk para anggota sebuah komunitas penulis remaja pemula yaitu Gravil Esidra dengan menggunakan judul tersebut. Makna tips tipis sendiri berawal dari isi materi saya yang sedikit namun mengena *masa sih?* mengingat bahwa dulu saya memberikan materi genre komedi dari mulai slapstik, sarkastik, plastik, sampai ayam dan itik *abaikan* jadi judulnya dikomedikan juga.

2. Selasa ---> Keluarga betawi

Kalau zaman baheula ada keluarga cemara, mulai selasa nanti saya akan menghadirkan kisah ibu, ayah, keempat kakak kandung saya, serta keenam keponakan dan satu lagi sedang OTW *aamiin*
Bagaimana keseruan, keriwehan, kebahagiaan, dan banyak syukur karena hadir di kehidupan mereka sebagai anak bungsu yang sedang mencari jodohnya *azek*.

3. Rabu --->  Motivasiku, memotivasimu juga

Menapak tilas perjalan saya sampai beranjak kepala dua, pelajaran-pelajaran serta pemikiran-pemikiran apa saja yang telah saya dapatkan, terapkan, kemudian dibagikan dan selalu berharap bermanfaat.

4. Kamis ---> Kamu-kamu lagi, cinta-cinta lagi

Ini dia! Saya nggak akan pernah bisa hilangkan konten tentang cinta setelah menjadi begawan patah hati *laugh*
Sejujurnya kapasitas saya untuk berbicara tentang cinta benar-benar minim, namun karena banyak mengobrol dengan teman atas segala pengalaman mereka yang membuat saya merasa harus berbagi. Kebetulan juga saya sedang jatuh cinta dengan seseorang yang ‘mungkin’ sesuai kriteria doa-doa yang selama ini saya panjatkan. Tatapannya sudah sampai di hati saya, tapi entah dengan tatapan saya apa sudah sampai ke hatinya juga? Tergantung pakai JNE atau POS ngirimnya atau malah pakai Wahana.

5. Jumat ---> Cerita pendek

Nah, inti dari blog ini selain berbagi keseharian, menyalurkan passion saya juga. Saya nggak akan membatasi genre yang akan saya kisahkan nanti, tergantung hari itu maunya menulis apa dan ada kejadian apa. Stay tune, di jumat produktif.

6. Sabtu ---> Curuthat (Curut lagi Curhat)

Pada episode kali ini *chaelah* entah rahasia, kegalauan, kesenangan, keseruan, berbaur aib akan hadir menemani hari sabtumu *yeay! Selain teman yang telinganya sudah panas, saya butuh penampung yang lebih besar untuk mencurahkan segala kegelisahan-kegelisahan saya tentang manusia, sikap mereka, kebiasaan mereka, sampai bau-bau mereka. Gitu.

7. Minggu ---> Rekap perjalanan Arbie Sheena selama sepekan

Pesimis ada yang mau baca *ketawa keras*
Rangkuman perjalanan selama sepekan ketika saya ngampus, kena tilang, magang di daerah Depok, lagi jadi babu, lagi di kamar, di dapur atau di hatimu *baper lagi ente dah*. Semuanya akan saya bahas, yang lucu, sedih, kecewa, atau deg-deggan.
Segitu aja konten serta penjelasannya, ini juga memacut saya untuk disiplin menulis di tengah projek solo, ngampus, les dan magang nanti *keliatannya sibuk, padahal kagak!* semoga saya bisa memulainya minggu depan atau justru minggu ini malah lebih bagus lagi.
So, terima kasih banyak sudah berkunjung apalagi baca dengan tampilan blog yang apa adanya ini.
Sehat selalu, dan jaga diri kamu baik-baik di sana.
Arbie Sheena
Sign out